Khotib yang Kumuh

Beberapa Jumat di kampung halaman seputaran Jakarta Bogor, saya sholat di masjid yang berbeda-beda. Hari ini saya mendapatkan pengalaman berbeda dibandingkan hari-hari Jumat sebelumnya.

Setelah saya duduk manis dalam baris yang rapi, pak khotib naik ke mimbar. Sebelumnya diperkenalkan bahwa khotib adalah pemilik pesantren anu di Jakarta. Dari baris ke sekian bagian sebelah kiri masjid saya melihat seorang masih relatif muda berpakaian (gamis?) yang biasa banget. Mmm tidak meyakinkan... Yang pasti tidak se-"pantas" khotib sekian Jumat terakhir yang saya lihat.

Beliau memulai dengan doa (hei, pengucapannya indah sekali, clear) dan kemudian masuk ke subyek yaitu tentang "jujur". Mmm yang dibicarakan kemudian bukan terkait kejujuran dalam pelaksanaan pengadaan barang e-KTP, tapi tentang ke-"universal"-an kejujuran di berbagai negara, suku bangsa, dan agama di dunia ini. Jujur menjadi kata kunci dalam berbisnis, bersilaturahmi, dan bernegara dalam segala keragaman motivasi yang melandasinya.

Saya membatalkan rencana tidur karena mata saya langsung segar. Pak khotib yang berpenampilan kumuh itu bicara tentang keberagaman? Bicara tentang bernegara? Ah, ini dia...

Suaranya enak didengar, bahasa Arabnya juga fasih dan tidak menggumam, membuat Jumat siang ini sejuk. Saking sejuknya banyak di sekitar tempat saya duduk mendengarkan dalam mimpinya masing-masing. Sementara saya merasa sejuk karena isinya manstaaap...

Sekilas saya ingat jaman baheula, saat jumatan di desa Jerowaru di Lombok Timur. Desa terpencil yang hanya mempunyai dua buah sumur air bersih itu menggurat ingatan saya dengan khotbah pak khotib yang berpenampilan "ndeso banget" tapi bicara tentang isu global dengan santun tanpa nada sok tahu! Hebat!

Hari inipun sang khotib memberikan saya santapan rohani tanpa menusuk kanan kiri, tanpa mengajak bermusuhan dengan siapapun, dan juga tanpa sok tahu masalah dunia-akhirat. Ia mengajak jujur berdasarkan firman Allah dan sunah Rasul yang terdengar sangat universal. Indah sekali.

Dalam hati saya bersyukur hari ini sholat Jumat di masjid ini dan mendapatkan asupan dengan cara yang asik, yang belum saya temui selama 2 bulan terakhir.

Saya bersyukur juga bahwa pak khotib mempunyai pesantren. Insha Allah para santrinya pun selalu mendapatkan ilmu yang dalam dan luas dari beliau.

Selesai sholat Jumat, kemudian doa, saya segera balik kanan meninggalkan ruang masjid sambil terus tersenyum bahagia.

Ah ya, satu hal yang saya lupa untuk bertanya setelah sholat: pak khotib yang kumuh tadi agamanya apa ya..?

Thamrin, Jakarta, 10 Maret 2017

Gambar: Masjid Al Muhlisin, Pleret sebagai ilustrasi.