Malam Seribu Bulan

Photo www.washingtonian.com via iStock

Tema terlaris dalam khotbah hari ini bisa ditebak: Malam Lailatul Qodar. Demikian juga yang terjadi di Masjid Iqro BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) di Jalan Thamrin 8 Jakarta Pusat. Seperti biasa, setelah duduk bersila maka kata-kata dari khotib lebih sulit masuk dipikiran daripada liarnya pikiran dari dalam.

Kebetulan, pikiran liar kali ini adalah mengenai topik yang sama, yaitu malam seribu bulan yang dijanjikan Nya. Terbayang suasana lomba meraih kenikmatan, yang dijanjikan hadir pada diri seseorang, oleh jutaan insan di seluruh dunia pada sepertiga akhir bulan Ramadhan ini.

Si Mawar (bukan nama sebenarnya) sebagai pemilik level terendah dari para pendamba itu terfikirkan akan satu hal: keikhlasan dalam beribadah. Mawar menata pemikiran awal, atau dasar pemikiran, adalah pada kata ikhlas. Semua aktivitas ibadah didasari pada kepatuhan akan perintah dan keikhlasan dalam menjalankannya.

Ikhlas disini adalah tidak ada unsur bisnis sama sekali pada saat melaksanakan kewajiban pada yang Kuasa. Ikhlas disini adalah tidak melirik tetangga kanan-kiri dan jor-joran dalam mengarungi malam-malam akhir bulan Ramadhan. Ikhlas yang sebenarnya, yaitu melakukan dengan maksimal dan dengan pikiran yang bersih.

Mawar berkeyakinan, apa yang ia minta tak selalu diberikan Nya, karena Sang Kuasa pasti akan memberikan yang paling diperlukan olehnya. Jadi dengan beribadah yang ikhlas, Allah pasti tahu kepada siapa akan Ia berikan keindahan malam seribu bulan itu.

Mawar hanya “berfikiran sederhana”, tanpa perlu susah-susah “menyederhanakan berfikir”.

*/ Selamat hari Jumat
*/ Dituliskan pada Facebook, 2 Agustus 2013.