Media Sok Sosial

Sepuluh tahun terakhir kehidupan jutaan manusia terukir di media sosial. Diberbagai layanan gratis didunia maya sebagian berlomba menokohkan diri sendiri agar diakui oleh “friend”-mayanya. Nggak ada yang aneh dengan semua ini. Sampai kemudian masuklah para pemutar-balik kalimat yang hadir dengan hebatnya. Mereka dikenal sebagai pembuat hoax, kebohongan yang terasa benar. Mereka memanfaatkan kebodohan “massa mengambang”, yaitu kelompok tolol nan masa bodoh dengan nilai kebenaran suatu berita.

Sayang sekali, kelompok tolol ini banyak yang berpendidikan tinggi, sekolah di perguruan favorit, bahkan banyak yang sekolah lulusan luar negeri. Perkembangan mengerikan yang terjadi adalah berita dari “orang pintar” inilah, dari forward berita distatus medsosnya, yang semakin mendahsyatkan hoax.

Pernyataan “biarkan masyarakat menilai” di dunia maya itu adalah pernyataan bodoh. Terbukti pernyataan anak SMP diperdebatkan oleh level Professor (entah professor merek apa ini yak). Nggak ada etika dalam bicara/menulis atau bahasan. Lebih bangga mendapatkan “like” yang ribuan dengan menggoreng berita busuk.

Hoax menjadi makanan harian yang sedap untuk menu apapun: politik, ekonomi, sosial, budaya.

Yang menyedihkan adalah saya mungkin sudah menjadi bagian kelompok tolol tadi.

Baiklah, begini saja: sudahkah anda mengirim hoax hari ini? Belum? Ah masaaa…. yang diforward melalui WhatsApp tadi apa ya…? Kan hanya memforward? 😁😁😁

Media sosial menjadi media sok sosial dan membuat anda antisosial, …. seperti saiyah.

Selasa, 1 Muharram 1440H

#jakasembung #lagisyantik