Membayangkan Earth Hour

Gambar dari universetoday.com

Kegiatan Earth Hour adalah kegiatan yang rutin saya ikuti. Kegiatan yang murah meriah dan dilakukan saat di rumah. Cukup dengan berkumpul dengan keluarga, matikan semua lampu dan alat listrik lainnya, lalu duduk di teras menikmati kegelapan rumah sendiri.

Rumah sendiri? Ya, karena beberapa kali ikut acara ini, kebetulan tetangga nggak tahu, jadi ya rumahnya gelap sendirilah :D

Nggak masalah, yang penting menanamkan pengertian dan semangat hemat energi pada keluarga. Dan sekaligus memberikan pengertian bahwa apapun yang kita lakukan tidak semua orang akan melakukan hal yang sama. Itu biasa dan noproblemo-lah :D

Apakah hanya mematikan lampu dan alat listrik lainnya? Nggak juga sih, Handphone juga dimatikan. Bukankah handphone juga pakai energi listrik dari battery-nya? Jadi tidak hanya sejam gelapnya tapi juga sejam tanpa online.

Saya membayangkan:

Earth Hour bermula dan mulai berjalan dari pergantian hari di belahan bumi Timur. Jika semua penduduk bumi mengikutinya, maka ada satu zona waktu semua mematikan lampunya. Sehingga… ada satu “garis gelap” dari Utara hingga Selatan pada zona waktu yang sama.

Pada saat jam berikutnya, zona waktu sebelahnya mengalami hal yang sama, yaitu dari Utara hingga Selatan akan gelap, sementara zona sebelumnya kembali terang. Jam berikutnya garis gelap akan berpindah ke zona waktu berikutnya. Hal ini terjadi seterusnya hingga 24 jam waktu berputar.

Bisa ‘kan membayangkannya? Pasti pemandangan yang luar biasa jika kita lihat dari angkasa. Mungkin seolah gelombang laut yang bergerak pasti per jam, dimana puncak gelombang adalah garis gelap tadi. Terus mengalir “mengelilingi” dunia hingga ke garis awal lagi, kemudian selesai.

Saya juga membayangkan hal lain.

Kali ini saya membayangkan sholat. Asumsi bahwa semua mahluk sholat pada waktunya, misalnya jam 5 pagi (taruhlah sama semua waktu shubuh di seluruh dunia). Pada saat adzan subuh, maka akan tergaungkan pada menit yang relatif sama dari Utara hingga Selatan.

Karena waktu sholat bergantung pada pergerakan sudut matahari maka perbedaan waktu ditentukan oleh derajat bujur dan lintang. Sehingga tidak per jam seperti Earth Hour tetapi per detik.

Bayangkan suara adzan akan terus terdengar pada detik berikutnya dan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, terus mengalir dari lokasi yang lebih Timur ke arah lokasi yang lebih Barat. Hal ini tidak hanya berlaku dalam satu hari (24 jam) saja, tetapi ribuan tahun..!

Seandainya suara adzan tadi terlihat sebagai gelombang, maka gelombang ini akan terus bergerak “mengelilingi bumi” selama bumi dan matahari masih bergerak seperti saat ini.

Itu baru adzan dan baru satu waktu sholat. Bayangkan lagi jika yang sholat mengucapkan Allahu Akbar saat memulai sholat, maka suara ini akan terdengar dari Utara hingga Selatan dalam waktu yang relatif bersamaan, dan seperti logika adzan tadi maka suara ini “bergerak” terus ke arah Barat. Bayangkan juga saat jamaah mengucapkan “Amin”.

Bagaimana jika sholat lainnya? Sama saja. Sehingga dalam 24 jam ada lima gelombang adzan terus berputar mengelilingi bumi, bersamaan dengan gelombang Allahu Akbar dan lainnya.

Logika saya kemudian adalah, saat saya tidak sholat berjamaah maka saya akan mengecilkan kekuatan gelombang tadi. Jika saya tidak sholat pada waktunya maka saya tidak ikut menjaga kekuatan gelombang dahsyat tadi yang tiada pernah berhenti berputar mengelilingi bumi.

Sesungguhnya pujian pada yang Maha Pencipta alam ini tiada berhenti sedetikpun.

Haslett, 19 Maret 2016

#introspagi #EarthHour