Ramadan dan Garis Keseimbangan

Ramadan berakhir, sudahkan kita mencapai garis batas keseimbangan? Yang terbiasa berego tinggi mestinya sudah menurun, yang biasanya sulit berempati harusnya sudah menjadi rendah hati, yang biasanya menebar kebencian normalnya ya sudah menjadi penebar kedamaian (minimal pendiam dikit lah..).

Sebulan kita digojlok untuk mencapai keseimbangan dalam segala hal dikehidupan pribadi, tanpa ada paksaan dari polisi syariah ataupun ormas pembela keyakinan, tanpa ada hukum positif yang mengawasi dari CCTV, kita tetap dengan semangat menjalankan ritual yang tergolong masif dan terstruktur.

Semua capaian ini adalah bekal untuk menjalani 11 bulan kedepan, dengan segala tantangan yang besar dan berat. Akan terasa lebih besar dan berat manakala kita tidak mampu mencapai keseimbangan yang paripurna dalam menjalani Ramadan ini. Kenapa? Karena dalam 11 bulan yang akan datang segala bonus tidak sebanyak yang ada saat Ramadan. Segala yang akan dialami adalah biasa saja tanpa ada iming-iming semasif saat Ramadan.

Banyak orang yang berat melepaskan Ramadan, tetapi ada juga yang merindukan 11 bulan yang akan dilalui kedepan. Ramadan adalah bulan pelatihan sedangkan bulan-bulan berikutnya adalah saatnya pembuktian apakah kita benar-benar mampu menyerap segala yang kita latih selama Ramadan.

Apakah garis equilibrium akan tertarik menjauh atau hanya bergeser sedikit, entahlah, kita masing-masing yang mengetahui.

Kafe Serambi, akhir Ramadan 1438 H