Refleksi Hutang Keluyuran

Kemarin, tanggal 1 Maret 2016, genap sudah dua puluh tahun secara resmi masuk dalam jajaran pegawai negeri sipil. Satu profesi yang tidak pernah terimpikan sejak kecil, tapi tiba-tiba “mak gejeblus” masuk didalamnya. Karena sifatnya yang “mak gejeblus” tadi maka saat sebelum masuk dahulu kala saya tidak mengalami gangguan dari para PHP, apalagi bermain dengan lembaran-lembaran kertas bergambar pahlawan nasional demi status ini.

Dua puluh tahun adalah waktu yang sedang, belum terlalu lama tetapi juga “nggak baru-baru amat” jugalah. Dan karena saya masuk pada bidang kerja yang menuntut keluyuran, alias bermain dengan teknologi inventarisasi sumberdaya alam, maka sebagian besar provinsi telah diblusuki, kecuali lima yang belum sempat, yaitu Jambi, Kaltara, NTT, Malut, dan Papua Barat.

Efek keluyuran ini sangat besar bagi pengetahuan saya, baik sebagai staf cimpreng di balai penelitian maupun sebagai personal. Dengan keluyuran itu saya tahu sedikit mengenai daerah-daerah tersebut, dan tentunya lebih baik tahu sedikit daripada daripada, ya kan..? Tahu indahnya pelosok Indonesia dengan segala kelebihan dan kelebihannya. Tidak mungkin lagi mengatakan bahwa Indonesia itu tidak indah dari segala segi.

Dari penugasan-penugasan inilah saya juga berkesempatan melanglangbuana ke mancanegara. Belasan negara (belum mencapai 20 lho) telah dikunjungi dengan kapasitas sebagai “orang Indonesia” (peneliti atau apapun namanya). Atas biaya negara? Enggaklah, semua perjalanan tidak atas biaya negara atau kantor, karena berupa undangan dari negara/organisasi yang mengadakannya. Lho cimpreng kok bisa diundang? Yah itu mah nasib sajah, dapet undangan ya cabutlah, gitu aja kok repot hehehe.

Efek keluyuran ke mancanegara ini juga memperkaya saya. Bukan…, bukan dari sisi materi. Mana ada peserta undangan kok dapat materi, pasti pas-pasan doang. Yang ngundang ‘kan cuma kasih tiket, inap, dan makan, selesai. Kekayaan yang saya rasakan adalah pengetahuan saya bertambah tentang negara-negara yang dikunjungi, walau mungkin hanya setipis kulit ari. Dan… hal ini membuat saya semakin bersyukur mempunyai negara Indonesia.

Dari semua yang saya rasakan selama dua puluh tahun ini, yang terindah adalah mendapatkan banyak teman (yang rasanya seperti saudara) di banyak tempat dimuka bumi, terutama bumi nusantara. Mudah-mudahan yang kenal saya juga mau menganggap saudara ke saya, supaya kalau saya datang lagi dapet oleh-oleh lebih banyak hehehe. Banyaknya saudara akan menggembirakan hati.

Keluyuran dan menambah ilmu sekaligus teman itu adalah piknik sejati.

Tapi, tentunya, ada penambahan yang saya rasakan selama dua puluh tahun ini. Yang pasti penambahan hutang.

Hutang pada profesionalisme sebagai pegawai negara semakin menumpuk, karena kinerja masih jauh dari standar yang ada. Hutang pada “rakyat Indonesia” semakin besar karena belum mampu memberikan yang terbaik dan berguna bagi sesama (bukan pencitraan, karena saya tidak akan maju dalam Pilkada Jakarta 2017).

Juga hutang pada keluarga karena belum mampu membuat mereka bahagia dengan berkecukupan pada level standar sekalipun. Dan tidak ketinggalan adalah hutang pada warung tetangga… :D

Semoga masih kuat untuk selalu bersyukur dan (tidak lupa) membayar hutang-hutang ini. :D

#bacanyasantaiaja #janganterharu #ayopiknik