Persma: Wadah Kebutuhan akan Pers
73 tahun sudah Indonesia merdeka. Jurnalis masa kini bukan lagi dihadapkan dengan masalah pembatasan kebebasan bersuara, namun dengan perkembangan teknologi. Teknologi yang berkembang membuat informasi lebih mudah dan lebih cepat menyebar. Hal ini juga menyebabkan setiap orang dapat membuat berita dan mengunggahnya ke internet.
ITB tanpa Persma?
ITB memiliki Pers Mahasiswa (Persma), suatu Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang jurnalistik. Unit ini dibentuk tanggal 14 April 2001, dan sempat non-aktif selama beberapa saat hingga akhirnya kembali aktif sekitar tahun 2010. Dengan gagasan bahwa kini setiap orang dapat membuat berita dan menyebarkannya, muncul satu pertanyaan — apakah Persma masih dibutuhkan?

Jawabannya tentu saja ya. Jika Persma dibubarkan, mahasiswa-mahasiswa memang masih dapat membaca berita. Namun, validitasnya tidak terjamin. Pemberitaan tentang peristiwa dan isu-isu intrakampus pun bisa jadi berkurang. Apalagi jika ada peristiwa-peristiwa krusial seperti pemira. Tanpa suatu sumber media yang valid, informasi tentang kandidat-kandidat, keberlangsungan, dan hal-hal terkait pemira bisa menjadi simpang siur. Lebih jauh lagi, massa kampus ITB mungkin tidak akan mengetahui secara jelas tentang kondisi kampusnya sendiri.
Pada hakikatnya, manusia memerlukan informasi — pembaruan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Persma eksis untuk menyediakan hal tersebut sesuai fakta yang ada.
Kebebasan pers dan keberadaannya adalah salah satu cerminan demokrasi yang sehat. Eksistensi persma adalah salah satu penilaian demokrasi dalam lingkup kampus ITB, bahkan diatur dalam salah satu poin konsepsinya. Dengan kemampuan setiap orang untuk membuat dan menyebarkan berita, peran persma justru semakin dibutuhkan sebagai sumber berita yang valid dan, sesuai slogannya, mencerahkan dan mencerdaskan.
Keberadaan dan Keanggotaan Persma
Semua orang dapat membuat berita, namun tidak semua orang dapat membuat berita yang baik. Persma berfungsi sebagai wadah penyedia berita berkualitas dan memiliki nilai-nilai jurnalistik. Maka dari itu, dibutuhkan anggota persma yang juga berkualitas dan kritis.
Untuk menjadi anggota persma, cakra (calon kerabat, sebutan bagi calon anggota persma) harus menjalani serangkaian orientasi dan pelatihan agar mendapatkan bekal sebelum menjadi jurnalis kampus. Tahun ini, cakra diharuskan mengikuti Osjur (Orientasi Studi Jurnalistik) yang dilakukan setiap hari Sabtu selama 4 minggu, mulai dari tanggal 1 September 2018.
“Kaderisasi itu dilakukan sebagai penurunan nilai,” kata Bella Sofie, ketua pelaksana Osjur 2018. “Kaderisasi juga merupakan masa pengenalan anggota baru terhadap hal-hal apa saja yang kita lakukan dan terbiasa dengan itu.”
Menurut Bella, ada banyak nilai yang ingin diterapkan terhadap cakra, diantaranya integritas, peka tanggap, proaktif, dan tanggung jawab. Osjur adalah sarana pengembangan semua nilai tersebut.
Anggota persma aktif membuat berita dalam situs resminya, www.ganecapos.com. Selain itu, persma juga membuat koran Ganeca Pos. Situs resmi persma aktif menyuarakan isu-isu hangat intrakampus. Tujuan persma adalah mencapai kebenaran yang objektif.
“Saya ingin persma dapat menjadi sumber informasi yang baik,” kata Michael Hananta Utomo selaku Pemimpin Umum Persma dalam Osjur tanggal 1 September 2018. Ia mengatakan bahwa persma dibawah kepemimpinannya memiliki 4 misi, yaitu keredaksian yang sinergis dan memfasilitasi sumber daya yang ada, menjalin hubungan eksternal yang baik, melakukan kaderisasi anggota baru persma dengan baik, dan menjadi unit apresiatif.
“Poin terakhir ini,” tambah Michael, “dimaksudkan agar persma memberi apresiasi yang cukup bagi anggotanya. Karena kita ini kan non-profit, jadi setiap kegiatan anggotanya harus diapresiasi dengan baik.”
Mau Kemana Persma Melangkah?
“Semoga bisa tetap survive dan tetap memberitakan apa yang massa kampus butuhkan,” begitu kata Likha Ismawati, Kerabat Persma 2017, ketika saya bertanya apa harapan untuk persma kedepannya.
Sebagai media yang dapat mengekskalasi isu dan memeri informasi, bukan tidak mungkin persma disalahgunakan. Semuanya kembali lagi pada anggota persma, apakah nilai-nilai jurnalistik sudah cukup tertanam dalam diri mereka?
Zaman semakin maju, begitu pula perkembangan teknologi. Persma harus bergerak, berubah dan mengikuti perkembangan. Jika tidak, eksistensinya akan luntur. Hal tersebut adalah tantangan bagi anggota persma — bagaimana cara agar tetap eksis di dunia yang serbaberubah ini, namun tetap mengedepankan nilai-nilai jurnalistik?
Kemanakah persma akan melangkah? Kita tunggu saja.
Humaira Fathiyannisa (16618287)
