Photo by Mike Petrucci

Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku*


SESEORANG akan membekap mulutnya sendiri, satu atau dua jam sehabis aku menulis kisah ini, karena ia kaget menemukan mayatku.

Ia barangkali pegawai hotel yang mengantarkan sepiring nasi goreng ikan asin, tiga botol bir Bintang, satu gelas kosong, dan baskom kecil berisi potongan-potongan es, dua jam yang lalu, kira-kira empat jam sebelum pisau ibuku merobek perut anaknya. Pria yang sama, dengan senyuman yang selalu tampak dipaksakan, yang menyambutku saat tiba di sini, beberapa saat sebelum aku tiba-tiba merasa lapar dan memesan nasi goreng terakhirku di bumi. Aku tidak melihat ada pegawai lain. Pemilik hotel ini terlalu kikir untuk sekadar membayar satu orang lagi.

Pria itu mungkin akan bergegas menelepon polisi. Dan, setelah mengatakan seluruh informasi yang menurutnya perlu, ia menenggak bergelas-gelas air dingin demi menenangkan diri. Ia akan susah tidur berhari-hari setelah melihat seluruh isi perutku terburai, termasuk nasi goreng yang ia buat untukku dengan tidak sungguh-sungguh. Darahku berceceran menutupi lantai kamar. Kubayangkan ia jatuh, sesudah bersusah payah membuka pintu, karena terpeleset. Atau, barangkali, ia kelewat pengecut menyaksikan darah.

Setelah menelepon polisi, ia menemukan cerita yang sedang kau baca sekarang tergeletak di depan televisi yang sengaja kubiarkan tetap menyala dan bicara kepada diri sendiri. Ia mungkin tidak berani membacanya dan, karena itu, ia menyerahkannya entah kepada siapa — dan, aku tidak mau tahu, mengapa bisa sampai kepadamu.

Polisi yang menerima telepon mungkin akan mengutuk entah siapa sambil meludah. Dia belum berhasil memecahkan teka-teki kematian Haris yang sepekan terakhir memenuhi halaman koran di kota ini, yang kepalanya ditemukan tergeletak di bawah bangku halte tidak jauh dari kantor tempat polisi itu bekerja. Kira-kira seratus lima puluh meter dari kepala pemuda itu, di tempat sampah, seperti yang kau baca di surat kabar, seorang pemulung buntung menemukan lengan kanan Haris membusuk dikerumuni lalat. Meskipun surat kabar tidak menuliskan lebih jauh mengenai pemulung tersebut, sebab wartawan berpikir tidak perlu mempertanyakannya, namun pemulung buntung itu kukira sempat berharap lengan Haris bisa menggantikan lengannya yang hilang entah di mana. Ketika berada dalam kemalangan panjang, kau tahu, manusia kadang-kadang memiliki kemampuan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.

Tidak jauh dari tempat sampah tersebut, seperti tertulis di koran, di depan masjid, sepasang kaki Haris juga ditemukan. Aku kesal membaca berita itu, sebab para wartawan tidak berusaha menelusuri kenapa tungkai kaki Haris harus berada di depan masjid, di tempat sampah, di tempat sampah kuning. Padahal, perkara-perkara kecil semacam itu tentu saja memiliki maksudnya masing-masing. Seseorang membunuh seseorang lain selalu didasari maksud tertentu. Tetapi, kau tahu, para wartawan dan polisi terlalu pemalas untuk mengetahui persoalan sederhana semacam itu. Seorang wartawan dengan bangga pernah mengatakan kepadaku bahwa hanya ada dua jenis wartawan di kota ini. “Wartawan yang pemalas dan wartawan yang berhenti jadi wartawan karena lelah bermalas-malasan,” katanya. Kata wartawan di kalimat sebelum ini bisa kau ganti dengan polisi, tentara, walikota, anggota dewan, mahasiswa, atau apa pun yang menurutmu cocok.

Bagian-bagian lain tubuh Haris belum ditemukan. Dan, tentu saja, itulah yang membuat polisi yang menerima telepon pegawai hotel bobrok tempatku menulis cerita ini murka. Belum selesai satu kasus, muncul kasus lain! Polisi itu berpikir orang-orang di kota ini telah menindasnya. Ia berpikir orang-orang tidak ingin melihat hidupnya tenang.

Aku menulis cerita ini, di kamar hotel murah ini, untuk memudahkan pekerjaan para polisi. Mereka tidak perlu memberi tahu siapa pun, karena semua orang tahu bahwa polisi tidak suka bekerja. Wartawan, polisi, walikota, anggota dewan, pemilik hotel tempatku bunuh diri, dan semua orang di kota ini pemalas. Dan, kau tahu, untuk itulah orang yang cuma mampu mengeluh seperti aku senang menulis cerita. Untuk itulah aku menulis cerita ini. Agar para wartawan dan polisi bisa tetap bermalas-malasan, sekaligus merasa telah melakukan pekerjaan yang membuatnya berhak menerima gaji.

Seperti yang telah kau duga, aku yang membunuh Haris.

Aku tidak biasa melakukan hal semacam ini. Aku tidak biasa memulai cerita dengan kemarahan seperti ini. Itulah alasan kenapa aku mesti memesan tiga botol bir. Aku jarang meminum bir. Aku lebih suka meminum bergelas-gelas kopi pahit daripada harus menenggak cairan memabukkan beraroma kencing anjing itu. Menenggak minuman beralkohol adalah pekerjaan para pengecut yang terlalu pengecut sehingga berusaha melarikan diri dari kemabukan yang lebih berat bernama kehidupan.

Sebelum ini, sejujurnya, aku tidak tahu bahwa ketika berhadapan dengan kematian, seseorang bisa tidak mampu mengontrol kata-katanya sendiri. Kau tahu, aku bahkan belum menyebutkan hal yang sesungguhnya ingin kukatakan di cerita ini.

*

DUA tahun lalu, aku jatuh cinta dan menjadi kekasih seorang perempuan bernama Mala. Ia merantau dari pulau Jawa dan bekerja sebagai pegawai bank swasta di kota ini. Ia kerap membayangkan dirinya menikah dengan pria yang gemar membaca buku dan, kau tahu, itulah yang membuat kami bertemu di perpustakaan tempatku bekerja. Sore itu, ia melewati pintu perpustakaan seperti mimpi indah yang tiba-tiba meruntuhkan semua kebosanan atas hidupku sendiri.

Mala senang membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan tidak menyukai puisi-puisi Goenawan Mohamad. Aku tidak tahu kenapa. Padahal, menurutku, puisi-puisi mereka bisa disebut lahir dari rahim yang sama. Mungkin Mala pernah membaca berita di Internet mengenai Goenawan Mohamad dan teman-temannya.

Ketika kami akhirnya menjadi sepasang kekasih, Mala mengaku baru seminggu meninggalkan kekasihnya. Lelaki yang menjadi pacarnya selama sembilan bulan itu selingkuh dengan seorang pegawai bank lain yang memiliki sepasang payudara lebih berisi dan tidak suka membaca buku puisi.

Aku tidak tahu kenapa Mala tiba-tiba meminta putus setelah kami menjalani hubungan selama tujuh bulan. Barangkali ia bosan melihatku miskin dan tidak tahu berhenti menggerutu. Atau, barangkali, ia merindukan mantan pacarnya yang selingkuh itu yang ternyata anak salah seorang anggota dewan di kota ini. Tapi, kau tahu, aku tidak peduli apa pun alasan kenapa ia meninggalkanku dan aku tidak meminum segelaspun bir ketika ia meninggalkanku. Aku tidak sedih hingga aku menyadari ia tidak pernah lagi datang ke perpustakaan dan memilih lebih rajin pergi ke salon untuk membuat kulitnya lebih putih dan lebih kencang.

Tiga bulan setelah putus dari Mala, aku bertemu dengan Dewi. Kami bertemu di toko buku Gramedia. Bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi kekasihmu di toko buku adalah peristiwa yang indah, seperti puisi yang tidak perlu dituliskan, seperti adegan di film-film lama. Sesungguhnya, aku lebih suka andai kami bertemu di toko buku kecil, bukan di toko buku besar — bukan di supermarket. Tetapi, kau tahu, di kota ini, tidak ada toko buku lain selain Gramedia.

Kupikir untuk membuat cerita ini sedikit lebih menarik, aku perlu mengatakan bahwa nama lengkap Dewi adalah Dewi Lestari. Tanpa perlu menggunakan data dari badan statistik negara, aku berani menjamin, ada ratusan perempuan bernama Dewi Lestari di negeri ini, meskipun cuma satu Dewi Lestari yang menjadi penulis bestseller. Tetapi, Dewi lebih senang dipanggil Wiwi daripada Dee. Ia kerap marah apabila aku memanggilnya Dee. Ia tidak pernah membaca buku yang ditulis Dewi Lestari. Ada dua alasannya. Pertama, ia tidak suka ada seorang bernama Dewi Lestari lebih pandai menulis daripada dirinya. Kedua, ia percaya pendapat seorang kritikus sastra, ibunya, bahwa karya Dewi Lestari tidak sebagus yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah membacanya.

Seperti Mala, kau tahu, Dewi akhirnya pergi dari hidupku. Kami hanya pernah datang ke toko buku bersama sebanyak empat kali. Kami belum sempat pergi ke bioskop. Kami bahkan tidak pernah berkelahi tentang harus makan siang di warung mana seperti pasangan kekasih lain. Tetapi, meskipun singkat, aku perlu menuliskan kisah cinta kami di cerita ini. Maksudku, begini, dari Dewi aku tahu bahwa mantan kekasih Mala adalah Haris yang kuceritakan sebelumnya. Dan, anak anggota dewan itu, ternyata juga pernah menjadi pacar Dewi sewaktu ia masih SMA.

Aku tidak ingin berlama-lama tinggal dalam kesedihan karena ditinggalkan Dewi. Lima hari setelah Dewi pergi, ketika menghadiri acara reuni SMA, aku mengutarakan perasaan cintaku kepada Nanti. Dan, kau tahu, Nanti menerimaku dengan satu catatan: aku harus melamarnya. Ia bahkan tidak mau mempersoalkan keadaan keluargaku yang sungguh-sungguh datang dari kelas yang berbeda jauh di bawah keluarganya. Nanti, kau tahu, sudah lama muak dengan keserakahan ayahnya.

Berbeda dengan Mala dan Dewi, Nanti tidak suka pacaran dan itulah alasan kenapa ia tidak pernah menerima cintaku sejak kami masih SMA. Aku memang kerap membayangkan diriku jadi suami Nanti. Maka, tentu saja, aku menerima tantangannya dan ibuku tersenyum mengetahui aku akhirnya ingin menikah setelah bertahun-tahun hari-harinya dirundung kemurungan.

Tetapi, hidup selalu punya tetapi. Dua hari sebelum aku melamar Nanti, Haris dan ayahnya yang anggota dewan itu datang. Dan, kau tahu, ayah Nanti, pemilik hampir semua media di kota ini, menerima lamaran Haris.

Kau tahu kenapa aku membunuh Haris. Alasannya sungguh bukanlah perkara rumit. Tidak ada hal yang betul-betul rumit untuk manusia yang mau berpikir. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa semua perempuan yang kucintai hilang dari hidupku karena seorang laki-laki yang sama. Kira-kira sesederhana itu.

Nanti menyembunyikannya. Sementara itu, para wartawan dan polisi tidak cukup pintar untuk mengetahuinya. Nanti tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa ia pernah berjanji ia bersedia jadi istriku.

Aku menulis cerita ini kemudian merobek perutku sendiri bukan untuk membuat Nanti bersedih. Tidak sama sekali. Aku bisa sangat kejam kepada diri sendiri, tetapi aku tidak mampu melakukan hal semacam itu kepada Nanti. Lagi pula, seperti yang kau baca di koran, Nanti sudah berada di salah satu kamar rumah sakit jiwa sebelum cerita ini kutulis. Dan, menyedihkan sekali, kemungkinan setelah sembuh, ia tidak ingat pernah mengenal namaku.

*

JIKA kau membaca cerita ini, siapa pun kau, beritahu pegawai hotel yang menemukan mayatku bahwa aku menyimpan uang untuknya di bawah televisi yang sedang bicara kepada dirinya sendiri itu. Aku tahu aku telah menyusahkan hidupnya dan ia butuh pergi berlibur dan meninggalkan tempat terkutuk ini. Dan, kupikir, pemilik hotel sialan ini terlalu pelit untuk menaikkan gajinya. Ia terlalu sibuk menikmati kebahagiaannya menindas orang lain dengan membiarkan pegawainya kehilangan senyuman dan masa muda percuma.

Aku tidak bunuh diri. Kepalaku penuh kekacauan, pecahan-pecahan pikiran buruk, dan aku tidak pernah berhasil memperbaikinya. Aku tidak lagi membutuhkan diriku. Tetapi, tolong, pisau itu, kembalikan ke rumahku. Penderitaan ibuku sudah cukup dengan kehilangan suaminya dan anak satu-satunya yang tidak berguna. Aku tidak ingin ia kehilangan pisau juga. Sejak ayahku mati dibunuh polisi dua tahu lalu karena melawan pengadilan dan pemilik hotel yang merampas tanah kami, ibuku mengasah pisau dapur itu setiap malam sebelum ia tidur. Ibuku, kau tahu, masih membutuhkan pisau itu.

*

*Cerita ini adalah bagian sebuah kisah yang direncanakan lebih panjang.