Photo by Pavan Trikutam

Buku, Hari-hari Kasih Sayang, dan Siasat Kecil Mempromosikan Diri


(Catatan ringan—yang lebih tepat disebut curhatan—ini juga bisa dibaca di www.revi.us sebab memang ditulis untuk dipajang di webzine itu.)

1.

SAYA tidak mau tahu apakah kamu dan orang yang kamu cintai merayakan hari kasih sayang atau apa pun sebutannya setiap 14 Februari atau setiap malam Minggu atau setiap Senin dan Kamis atau setiap hari atau setiap lebaran haji atau atau atau. Saya tidak mau membahas persoalan semacam itu —

Kamu pernah berkunjung ke Katakerja? Jika belum, datanglah! Di langit-langit ruang bacanya ada sejumlah buku yang melayang-layang seperti burung, seolah-olah berharap ditangkap dan dibaca.

Di Katakerja juga ada beberapa rak berisi buku-buku yang bisa kamu pinjam secara cuma-cuma. Maksudnya: cuma ada syaratnya. Kamu harus menyumbangkan minimal dua buku yang kamu anggap penting untuk dibaca orang lain. Setelah itu, kamu boleh membawa pulang dua buku setiap kali peminjaman.

Kamu juga bisa ikut kelas-kelas kreatif seperti kelas menulis, kelas kerajinan tangan, dan kelas-kelas kreatif lainnya. Jika belum cukup, Katakerja punya kegiatan lain seperti menonton film, menyimak musik, piknik di pasar lokal, dan lain-lain. Semuanya cuma-cuma.

Di Katakerja, jika kamu pecinta kucing, ada kucing yang akan bermanja kepada siapa pun yang datang ke sana. Percayalah, kamu tidak perlu menggoda mereka untuk itu. Badak dan Naga — nama kedua kucing tersebut — akan datang sendiri ke pangkuanmu. Oh, please, bedakan murahan dengan ramah!

Beberapa hari lalu kucing Katakerja bertambah jadi lima. Badak punya anak angkat. Salah seorang teman saya menemukan tiga ekor kucing di tempat sampah sepulang entah dari mana. Seseorang tampaknya sengaja membuang mereka.

Tiga anak angkat Badak itu bernama Kura-kura, Kupu-kupu, dan Kunang-kunang. Sebelum mereka datang, di Katakerja pernah ada kucing mungil lain bernama Kunang-kunang, tetapi tidak ada di antara kami yang tahu ke mana dia pergi dan kenapa dia tidak pernah pulang. Kami, demi Tuhan, merindukan dia sebesar kami merindukan mantan-mantan pacar kami!

Saya bersama beberapa kawan tinggal dan bekerja sebagai pustakawan di Katakerja. Setiap hari, tentu saja, kami bersentuhan dengan buku. Bukan hanya mengaturnya di rak buku. Kami juga sering tidur berbantalkan buku. Sebelum tidur, di sela perbincangan tentang orang-orang yang mematahkan hati kami dan orang-orang yang kami harap mampu menyembuhkannya, kami membicarakan buku dan buku dan buku dan… orang-orang yang mematahkan hati kami, dan lain-lain.

Kami senang mendiskusikan buku terakhir yang kami baca. Kami saling memberi rekomendasi buku apa yang sebaiknya dibeli dan dibaca selanjutnya. Katakerja juga punya klub baca yang membahas satu buku tertentu setiap bulannya. Februari ini — 14 Februari, tepatnya — kami akan bertemu lagi membahas buku Jonas Jonasson yang kocak, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Kamu boleh ikut — dan ini juga cuma-cuma.

Buku adalah media sosial dalam bentuk lain bagi kami. Sekadar informasi saja, nyaris tidak satu pun pustakawan Katakerja yang saya ikuti akun Twitter-nya — dan, Alhamdulillah, tidak ada yang kekanak-kanakan menganggap saya bukan sahabat mereka lagi karena persoalan yang yaelah semacam itu. Kami sama-sama lebih senang membincangkan hal-hal sederhana sambil minum kopi di ruang baca atau di beranda Katakerja ketimbang membicarakan hal-hal yang seolah-olah kami tahu di Internet.

Seingat saya, semua pustakawan Katakerja suka minum kopi — beberapa di antara mereka terbiasa tidak pakai gula. (Kamu boleh tertawa di bagian ini. Hidup mereka memang pahit dan getir!) Jika kamu berkunjung, minta saja diseduhkan kopi dan, jangan khawatir, kamu tidak perlu membayarnya. Kami jarang tidak punya stok kopi — apalagi kalau kamu berbaik hati datang bersama sebungkus atau dua bungkus atau lebih kopi arabika kualitas sekali-teguk-dua-tiga-hutang-terlupakan!

Pada momen-momen tertentu, kami juga sering saling menghadiahi buku — atau kadang-kadang pembatas buku yang kami bikin sendiri. Meskipun sebagian besar pustakawan Katakerja tidak punya pacar, kami adalah sekumpulan anak muda yang romantis, rajin membaca, baik hati, ramah, suka minum kopi, memalukan, dan penyayang binatang. Anak kucing dari tempat sampah saja disayang, apalagi kalau ada di antara kalian yang baru putus!

(Semoga editor Revius tidak memotong bagian yang sengaja ditulis untuk mempromosikan diri kami ini.)

2.

KAPAN terakhir kali kamu mendapatkan hadiah buku dari orang-orang yang kamu cintai? Atau, sebaliknya, kapan kamu terakhir kali menghadiahkan buku kepada orang-orang yang mencintaimu?

Sebagai upaya membayar kesalahan karena menulis ihwal memalukan di atas dan supaya Revius mau memuat tulisan ini, saya akan membagi beberapa ide sederhana yang cihuy mengenai buku dan hadiah buat orang yang kamu sayang. Sebelumnya, saya mau kasih tahu bahwa konon telah disediakan tempat khusus di neraka untuk mereka yang tidak pernah dan tidak mau menghadiahkan buku kepada orang-orang yang mereka cintai.

Ketik di mesin pencari Google, misalnya, “the most romantic novels of all time” atau “books for valentine’s day gift”. Kamu akan bertemu sejumlah judul buku yang cocok untuk dihadiahkan kepada kekasihmu. Pilih novel yang pernah kamu baca — atau setidaknya ingin kamu baca. Sebaiknya, jangan menghadiahkan buku yang belum kamu baca, kecuali jika kamu mau membeli dua untuk masing-masing kalian baca.

Anggaplah kamu tertarik kepada buku A.S. Byatt, Possession, atau Atonement-nya Ian McEwan, atau kumpulan puisi Pablo Neruda, Twenty Love Poems and A Song of Despair, atau buku lain semacam itu. Kamu belilah buku itu.

Tunggu, jangan langsung bungkus kadonya! Kamu harus lebih romantis dari itu. Cari kartu (atau jika kamu bisa buat sendiri, tentu akan lebih bagus) dan kutip salah satu bagian dari buku yang kamu pilih. Misalnya: I’ve never had a moment’s doubt. I love you. I believe in you completely. You are my dearest one. My reason for life. Aduh sekali kan kata-katanya? Itu saya ambil dari novel Atonement yang kebetulan saja baru saya baca beberapa minggu lalu. Atau kutipan ini, misalnya: But now, my dear, we are here, we are now, and those other times are running elsewhere. Kalau yang itu dari Possession-nya A.S. Byatt.

Tuliskan kalimat yang kamu pilih itu di kartu. Dalam urusan lain, kamu boleh pakai SMS atau surat elektronik atau telepati, tapi yang satu ini gunakan tulisan tangan. Nah, sekarang kamu boleh bungkus kadonya seindah mungkin.

Kamu merasa ide di atas terlalu sederhana? Atau, kamu khawatir buku yang kamu pilih tidak sesuai? Atau, ada alasan lain? Jangan khawatir, saya masih punya ide!

Ajak kekasihmu ke toko buku untuk membeli sejumlah buku anak. Minta dia yang memilih buku anak favoritnya. Kalau dia minta sekalian dibelikan buku untuk bahan skripsinya yang belum kelar setelah tiga kali ulang tahun, belikan saja. Dia pasti akan semakin mencintaimu. Setelah membeli buku-buku anak, tanya dia apakah di dekat rumahnya ada panti asuhan atau yayasan yang mengurus anak jalanan — atau mungkin dia punya ide lain yang serupa.

Jika dia menyebut nama satu panti asuhan, umpamanya, ajak dia menemanimu ke sana. Mintalah dia menyerahkan buku-buku yang kalian beli tadi ke pengurus perpustakaan panti asuhan tersebut. Jika ternyata mereka tidak punya perpustakaan, kalian mungkin bisa berpikir untuk mengurangi kencan di mall atau di tempat-tempat gaul yang mahal. Kalian menyisihkan sebagian uang kencan kalian untuk membeli dua atau tiga buku setiap bulan untuk mereka.

Mau lebih romantis dari itu? Sebelum pulang, ajak anak-anak panti tersebut berkumpul dan ajaklah kekasihmu untuk bergantian membacakan cerita kepada mereka. Bagaimana?

Tapi, hadiah tidak selalu harus baru. Kamu juga bisa menghadiahkan dua atau tiga buku kesayanganmu untuk kekasihmu. Sebelum menyerahkannya, ceritakan kenapa buku itu sangat berkesan bagimu. Sederhana, tapi mungkin akan membuat kekasihmu tiba-tiba jadi es krim kepanasan yang pandai bilang “Oh-so-sweeet!” Dan barangkali bisa menyelamatkan kantongmu yang sekarat.

3.

SEBAGIAN di antara kalian mungkin bilang, “Aduh, bukan tidak mau kasih hadiah ke pacar, tapi saya sedang menabung untuk menikah!” Dan, sebagian lagi, berpikir bahwa memberikan koleksi pribadi itu terlalu bagaimana-ya-pokoknya-tak-bisa-dibahasakan atau dengan alasan lain yang mungkin terdengar lebih bagaimanalah-pokoknya.

Tenang saja, saya tidak akan menyebut kamu pelit karena tidak mau membeli buku untuk orang yang kamu cintai — atau karena tidak mau melepaskan buku kesayangan demi orang kesayangan. Tapi, saya mau mengingatkan, jangan sampai ketidakmauan kamu melepaskan benda kesayanganmu justru akan membuat pacarmu minta dilepaskan. Jangan sampai.

Saya bisa memahami orang yang menjadikan harga buku yang mahal sebagai alasan. Saya juga selalu kesal dengan hal itu — meskipun saya hidup dari menulis buku. Pemerintah lebih sibuk mengeluhkan harga mobil daripada harga buku. Kamu tahu, ada yang sampai bikin program mobil murah dan senang sekali dengan hal tersebut. Mungkin orang yang sama yang setiap hari mengeluh di Twitter tentang kemacetan. Tapi, kamu pernah mendengar pemerintah bersemangat mau mengurusi dunia perbukuan di negeri ini? Ah, kamu mimpi barangkali!

Kamu pernah mengunjungi perpustakaan-perpustakaan yang dikelola pemerintah? Tidak pernah? Hahahahaha! Saya tidak menertawaimu, saya menertawai pemerintah dan perpustakaan-perpustakaan yang menyedihkan itu. Dulu ada juga program pemerintah kota — kalau tidak salah, namanya Gerakan Makassar Gemar Mengajak. Jangan tanya saya bagaimana kabar gerakan itu. Saya sedang memikirkan gerakan lain untuk merebut hati seorang gadis yang senang membaca.

Saya sebetulnya mau menyarankan kamu mengajak pacarmu ke perpustakaan-perpustakaan umum itu. Tapi, tiba-tiba saya merasa hal itu sama sekali bukan ide yang menarik. Pacarmu mungkin akan berpikir kamu mengajaknya ikut uji nyali. Sudahlah!

Tapi, di beberapa sudut kota ini ada tempat-tempat menarik yang bisa kamu kunjungi bersama pacarmu. Ada Kedai Buku Jenny di BTN Asal Mula — tempat baru mereka. Di Toddopuli ada Rumah Baca Philosophia. Di samping kiri Kantor Lurah Pandan, di BTN CV Dewi, ada Kampung Buku. Di beberapa tempat lain juga masih ada. Ajaklah pacarmu ke tempat-tempat tersebut. Di sana, kalian bisa membaca dan meminjam buku, juga mengikuti banyak acara kreatif yang menarik. 14 Februari 2015 itu bertepatan dengan hari Sabtu. Kalian bisa menikmati akhir pekan di salah satu ruang baca mereka.

Atau, mungkin kamu mau mengajak kekasihmu melakukan semacam tour mengunjungi tempat-tempat tersebut. Pasti itu akan lebih menarik lagi. Kalian bisa memulai petualangan dari Katakerja — atau sebaliknya berakhir di Katakerja sambil ikut klub baca kami membahas buku Jonas Jonasson. Saya dan pustakawan lain yang ramah dan penyayang dan romantis akan dengan senang hati menjamu dan menyediakan informasi yang kalian butuhkan — sambil minum kopi dan main-main bersama Badak, Naga, Kura-kura, Kupu-kupu, dan Kunang-kunang.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated M Aan Mansyur’s story.