Photo by David Straight

Sepatu


Cerita pendek Etgar Keret

Pada hari peringatan tragedi Holokaus, ibu guru Sara membawa kami mengunjungi museum Volhynia Jewry dengan bis Nomor 57, dan aku merasa sangat terhormat. Semua keluarga murid di kelas kami, kecuali aku, sepukuku, dan seorang anak bernama Druckman, berasal dari Irak. Cuma aku yang kakeknya mati pada peristiwa Holokaus.

Museum Volhynia sangat cantik dan mewah, terbuat dari marmer hitam, seperti rumah orang kaya. Dindingnya penuh foto hitam-putih yang sedih, juga daftar nama orang-orang mati dan negara mereka.

Kami berpasang-pasangan berkeliling melihat foto-foto itu. Ibu guru bilang, “Jangan sentuh!” Tapi, aku sudah menyentuh foto laki-laki tua kurus dan pucat sedang menangis yang ditempelkan di karton. Di tangannya ada sepotong sandwich. Air mata mengalir di pipinya, mirip garis-garis pemisah yang kau lihat di jalan raya. Pasanganku, Orit Salem, bilang akan memberi tahu guru bahwa aku menyentuh foto. Aku tidak peduli sama sekali. Dia boleh memberi tahu siapa pun, termasuk kepala sekolah, jika dia mau. Itu foto kakekku dan aku bisa menyentuh apa pun yang mau kusentuh.

Usai melihat-lihat foto, mereka membawa kami ke ruangan besar dan memutar satu film tentang anak-anak yang disesakkan ke dalam truk lalu dibunuh dengan gas. Kami menonton dan, setelahnya, seorang lelaki tua naik ke panggung bicara tentang kekejaman para tentara Nazi. Dia juga menceritakan bagaimana dia melakukan balas dendam. Dia, dengan tangan sendiri, katanya, mencekik leher seorang tentara Nazi hingga mati. Djerby, yang duduk di sebelahku, bilang lelaki tua itu berbohong; dari penampakannya, tidak mungkin dia mampu membunuh tentara. Tapi, aku menatap matanya dan aku percaya kepada lelaki tua itu. Di matanya ada kemarahan yang sangat besar, jika kubandingkan, kemarahan anak-anak nakal yang pernah kulihat tidak ada apa-apanya.

Terakhir, ketika selesai bercerita tentang hal-hal yang pernah dia lakukan pada masa Holokaus, laki-laki itu bilang bahwa apa yang baru kami dengarkan masih penting hingga sekarang, bukan cuma dulu, sebab orang-orang Jerman masih ada dan mereka memiliki negara. Dia bilang tidak mau memaafkan mereka. Dia juga berharap agar kami tidak akan pernah mengunjungi negara itu. Waktu dia pergi ke Jerman bersama orang tuanya lima puluh tahun lalu, segalanya tampak indah, tapi kemudian berubah jadi seperti neraka.

Ingatan manusia singkat, katanya, khususnya jika berhubungan dengan hal-hal buruk. Dia bilang, manusia cenderung melupakan, tapi kalian tidak akan lupa. Setiap melihat orang Jerman, kalian akan ingat apa yang kukatakan. Setiap melihat barang buatan Jerman, baik di televisi atau di mana saja, kalian harus selalu ingat bahwa di balik pembungkusnya yang menarik ada benda yang terbuat dari tulang dan kulit dan daging orang-orang Yahudi.

Ketika keluar dari ruangan, Djerby mengatakan lagi bahwa dia berani bertaruh laki-laki tua itu tidak pernah mencekik leher siapa pun seumur hidupnya, tapi aku tidak peduli. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, betapa beruntung keluargaku karena punya lemari es buatan Israel. Kenapa harus cari masalah?

Dua minggu kemudian, ayah dan ibuku pulang dari perjalanan mereka keluar negeri. Mereka membawa sepatu untukku. Kakakku diam-diam pernah mengatakan kepada ibuku bahwa aku ingin punya sepasang sepatu terbaik di dunia.

Ibuku tersenyum ketika menyerahkannya kepadaku. Dia yakin aku tidak tahu apa isinya. Tapi aku melihat logo Adidas di kantong pembungkusnya. Aku mengeluarkan kotak sepatu itu dan bilang terima kasih. Kotak itu berbentuk segi empat, seperti peti mati. Di dalamnya ada sepasang sepatu putih dengan tiga garis biru dan tulisan ADIDAS di sampingnya; aku tidak perlu membuka kotaknya untuk tahu bagaimana wujud sepatu itu.

“Ayo, coba kau pakai,” kata ibuku sambil membuka kotaknya, “apakah cocok di kakimu atau tidak.” Dia terus tersenyum. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Ibu tahu, sepatu ini buatan Jerman,” kataku sambil memegang erat tangannya.

“Tentu saja, aku tahu, Sayang.” Dia tersenyum. “Adidas adalah merek terbaik di dunia,” katanya.

“Kakek juga dari Jerman,” kataku berusaha memberinya petunjuk.

“Kakek dari Polandia.” Dia membetulkan kata-kataku. Sejenak wajahnya tampak sedih, tapi kemudian kembali tersenyum. Dia memasang sebelah sepatu itu di kakiku dan mulai mengikat talinya. Aku diam. Aku sadar tidak ada yang bisa kulakukan. Ibuku belum pernah ke museum Volhynia. Tidak ada orang pernah mengatakan hal tersebut kepadanya. Bagi ibuku, sepatu adalah sepatu dan Jerman adalah Polandia. Aku membiarkan dia memakaikan sepatu di kakiku dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya memberi tahu dia dan membuatnya semakin sedih.

Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi dan mengecup pipinya, lalu bilang aku mau pergi main bola.

“Hati-hati ya,” teriak ayahku dari ruang tamu sambil tertawa. “Jangan menggesek-gesekkan alas sepatumu terus.”

Aku melihat sekali lagi sepatu putih yang membungkus kakiku. Aku menatapnya sambil mengingat semua hal yang laki-laki tua itu bilang harus kami ingat. Aku menyentuh logo Adidas berwarna biru dan mengingat gambar Kakek di karton.

“Apakah sepatu itu nyaman di kakimu?” tanya ibuku.

“Tentu saja nyaman,” kata Kakak mewakiliku. “Itu bukan sepatu murah buatan Israel. Sepatu itu sama dengan yang dipakai Cruiff.”

Aku melangkah pelan keluar pintu. Aku berjinjit berusaha menumpukan sesedikit mungkin berat tubuhku ke sepatu. Aku berjalan ke Taman Monyet. Di luar, anak-anak tetangga dari Borochov telah membentuk tiga tim: Belanda, Argentina, dan Brasil. Kebetulan tim Belanda kekurangan satu pemain. Mereka setuju mengajakku bergabung, meskipun sebelumnya tidak pernah mau menerima orang dari luar Borochov.

Pada saat permainan baru berlangsung, aku terus ingat untuk tidak menendang dengan ujungnya agar tidak menyakiti Kakek. Tapi setelah beberapa saat aku lupa, persis seperti yang dikatakan laki-laki tua di museum Volhynian bahwa manusia cenderung melupakan. Aku bahkan berhasil membuat timku menang.

Tapi, ketika permainan selesai, aku ingat kembali dan melihat sepatuku. Tiba-tiba sepatu itu tampak lebih bagus dan nyaman di kakiku dibandingkan ketika masih berada di kotak.

“Hebat kan? Mencetak beberapa gol.” Aku bicara kepada Kakek saat berjalan pulang ke rumah.

“Penjaga gawang itu tidak mengerti apa yang telah terjadi.” Kakek tidak mengatakan apapun, namun dari langkah-langkahnya aku bisa bilang dia juga pasti senang.

*

(Saya menerjemahkannya dari versi bahasa Inggris. Versi aslinya ditulis dalam bahasa Hebrew dan dialihbahasakan oleh Marganit Weinberger-Rotman dengan judul ‘Shoes’. Cerita pendek ini ada di buku kumpulan cerita Etgar Keret, ‘The Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories’. Jika tertarik membaca versi bahasa Inggrisnya, salah satunya Anda bisa baca di sini.)