Photo by Josh Byers

Dua (Buku) Puisi


Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia

alifiah

engkau tahu? kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana. tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional. tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja.

kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya datang menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti. ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri beberapa hari di awal desember yang lembab sembari merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: tutup.

tetapi ia betul-betul seorang pekerja keras. setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak pernah mampu selesai itu. tentang masa lampau yang tersisa di masa sekarang. tentang keinginan berhenti atau tak berhenti. juga tentang perihal lain yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan.

ya, percayalah. kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.

engkau saja.

*

Melihat Api Bekerja

Di kota ini ruang bermain adalah sesuatu yang hilang dan tak seorang pun berharap menemukannya. Anak-anak tidak butuh permainan. Mereka akan memilih kegemaran masing-masing setelah dewasa. Menjadi dewasa bukan menunggu negara bangun. Menjadi dewasa adalah menu favorit di restoran cepat saji.

Para tetangga lebih butuh pagar tinggi daripada pendidikan. Sekolah adalah cara yang baik untuk istirahat berkelahi di rumah. Anak-anak membeli banyak penghapus dan sedikit buku. Terlalu banyak hal yang mereka katakan dan gampang jatuh cinta. Mereka menganggap jatuh cinta sebagai kata kerja dan ingin mengucapkannya sesering mungkin. Mereka tidak tahu, jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda.

Jalan-jalan dan rumah kian lebar. Semakin banyak orang yang hidup dalam kehilangan. Harapan adalah kalimat larangan, sesuatu yang dihapus para polisi setiap mereka temukan di pintu-pintu toko. Hidup tanpa curiga adalah hidup yang terkutuk. Kawan adalah lawan yang tersenyum kepadamu.

Selebihnya, tanpa mereka tahu, sepasang kekasih diam-diam ingin mengubah kota ini jadi abu. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku — meskipun tidak setiap waktu. Kita menghabiskan tabungan pernikahan untuk beli bensin.

Kita akan berciuman sambil melihat api bekerja.

*

Akhir Oktober tahun ini, melalui satu penerbit di Kuala Lumpur, satu buku puisi saya terbit terutama untuk para pembaca di Malaysia. Buku puisi tersebut berisi 48 judul sajak—umumnya sajak cinta—yang dipilih oleh penyuntingnya dari buku-buku saya terdahulu. Judulnya sama dengan judul sajak pertama di atas yang saya tulis kira-kira tujuh tahun lalu. Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia akan diluncurkan pada 1 November 2014 di Kuala Lumpur, di acara Eksotikata, pesta puisi tahunan yang digagas oleh para peminat puisi di sana.

Dan, tahun ini juga, mungkin November, beredar satu lagi buku puisi saya yang berisi sajak-sajak baru dengan tema berbeda melalui penerbit Gramedia. Judulnya sama dengan judul sajak kedua. Buku tersebut yang saya kerjakan bersama eMTe, seorang seniman visual, berisi 54 judul sajak. Melihat Api Bekerja juga akan dilengkapi dengan sebuah catatan dari Sapardi Djoko Damono.

Saya bahagia—apalagi jika Anda nanti membeli kedua buku tersebut—dan terima kasih.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.