Eka Kurniawan: Aku Lebih Ingin Membesarkan Diriku sebagai Pembaca daripada Penulis


Photo by Eka Kurniawan

Pada 22 April 2015, beberapa hari setelah ia kembali dari London untuk memperkenalkan novelnya yang akan terbit dalam bahasa Inggris, Beauty Is a Wound, aku bertemu Eka Kurniawan di Ubud, Bali. Kami berada di sana untuk urusan yang sama dan menginap di Guest House yang sama. Kamar kami berdekatan. Di depan kamar kami, ada dua meja dengan beberapa kursi antik. Nama penginapan itu: Honeymoon.

Setelah pertemuan panjang dengan beberapa orang lain, aku meminta Eka meluangkan waktu menjawab sejumlah pertanyaan. Sebagai orang yang menyukai karya-karyanya dan pembaca yang selalu mengikuti catatan-catatannya di www.ekakurniawan.com, aku ingin tahu dunia Eka Kurniawan sebagai pembaca. Aku pikir, sudah banyak tulisan, termasuk wawancara, yang membahas kehidupannya sebagai penulis.

Obrolan sore itu berlangsung santai selama hampir dua jam sambil menikmati kopi, di meja tepat di depan kamar tempatku menginap. Sebagian dari rekaman obrolan kami sengaja tidak kusertakan di sini karena terlalu panjang — dan bicara mengenai perihal lain.

Selamat membaca!

*

Antara karya penulis luar dan penulis Indonesia, kamu membaca lebih banyak mana? Kamu punya semacam angka perbandingan?

Sejujurnya, aku tidak punya ukuran seperti itu. Tapi, bisa kupastikan, aku membaca lebih banyak karya luar, karena pilihannya memang jauh lebih banyak. Ketersediaan karya asing lebih melimpah. Aku sebenarnya, terutama sekarang, lebih banyak membaca untuk bersenang-senang saja, untuk mencari hal-hal baru. Membaca itu seperti menjelajah, bukan sekadar bahwa sebuah karya akan membawa kita ke tempat lain atau membuat kita bertemu dengan karakter berbeda. Tapi, sering kali ada pengalaman dari membaca karya tertentu, pengarang tertentu, yang berada di luar apa yang kita secara pribadi asumsikan sendiri.

Pada titik-titik tertentu, sebenarnya, yang namanya sastra kadang-kadang ada mainstream­-nya. Misalnya, sastra dunia pada 1970-an, generasi setelah Perang Dunia II, kita umumnya membayangkan sastra seperti karya-karya Ernest Hemingway. Lalu, setelah itu, muncul generasi pasca-kolonial.

Pada dasarnya, di dunia sastra, memang kerap muncul hal semacam itu. Misalnya, ketika terjadi ledakan karya Amerika Latin dengan realisme magis. Di tempat lain, kita bisa menemukan Salman Rushdie dan Mo Yan. Pada saat yang sama, di Afrika juga muncul pengarang lain. Kadang-kadang aku berpikir mereka tidak terlalu berbeda dan, karena itu, membuatku ingin keluar. Aku ingin menemukan hal-hal lain.

Sebetulnya, bukan hanya di sastra, di bidang lain pun seperti itu. Kadang muncul arus utama, ada sesuatu yang boom, lalu kita menemukan suplai karya yang nyaris sama. Kita tiba-tiba ingin keluar menjelajah dan mencari hal-hal lain. Kita ingin menghibur diri sendiri dengan sesuatu yang lain. Kita ingin lari ke karya-karya klasik. Atau, misalnya, tiba-tiba kita ingin membaca penulis yang dipuji-puji orang, tapi karya-karyanya tidak dibaca orang. Kita ingin membaca nama-nama semisal Djuna Barnes yang barangkali hanya dikenal oleh mereka yang benar-benar pembaca sastra serius.

Hal semacam itu juga berlaku di sini. Ketika aku membaca karya-karya Indonesia, aku merasa ada nama-nama tertentu yang terlalu mainstream. Kuntowijoyo dan Mangunwijaya, misalnya. Kadang-kadang aku merasa terlalu banyak pengekor yang mencoba menduplikasi mereka. Tentu saja, bukan salah kedua penulis tersebut. Kondisi semacam itu membuatku tiba-tiba ingin membaca penulis lain semacam Riyono Pratikto. Atau, belum lama ini, misalnya, aku membaca lagi kumpulan cerpen Asrul Sani yang cuma satu buku itu; Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

Aku sering tiba-tiba seperti itu. Aku ingin melepaskan diri dan mencoba mencari yang kira-kira menarik dan lebih menyenangkan untuk dibaca. Ketika pergi jalan-jalan ke Singapura, misalnya, semua orang tampaknya ingin ke Orchard Road. Tiba-tiba kita ingin mengunjungi tempat-tempat yang orang lain tidak peduli. Kita ingin punya pengalaman pribadi yang berbeda. Sehingga kita pergi ke tempat lain dan merasa cuma kita dan tempat tersebut yang terhubungkan sementara ini. Kurang lebih seperti itu aku melakukan penjelajahanku membaca sekarang.

Jadi, sebetulnya, aku tidak terlalu membedakan antara karya Indonesia dan karya luar. Hanya saja, mungkin, karya Indonesia pilihannya memang jauh lebih terbatas.

Kamu membedakan proses membaca sebagai pembaca atau membaca sebagai penulis?

Aku memang merasa ada intensi yang berbeda. Aku pernah mengalami masa-masa yang lumayan sulit. Waktu itu, aku membaca karena aku merasa sebagai penulis. Aku sudah melewati masa-masa tersebut sejak beberapa tahun lalu. Aku merasa sangat terganggu. Waktu itu, aku kehilangan kenikmatan membaca yang aku alami waktu remaja, atau masa-masa awal menjadi penulis, yang pada tingkat tertentu masih polos.

Waktu aku remaja, aku membaca saja dan terhibur. Aku membaca tanpa pretensi apa-apa. Aku tidak membedakan ini dan itu novel jenis apa, atau levelnya seperti apa. Aku bisa beralih dari satu pengarang ke pengarang lain seenaknya. Hari ini aku membaca Sidney Sheldon, besoknya membaca Knut Hamsun, lalu beralih membaca John Grisham. Aku membaca apa saja. Aku membaca karena senang saja.

Tapi, kemudian, aku menemukan diriku menjadi seorang penulis dan merasa butuh mempelajari sesuatu. Kenikmatan membaca tiba-tiba hilang, karena aku punya macam-macam pretensi. Apa yang bisa aku pelajari dari buku ini? Apa yang menarik dari buku ini? Kenapa buku ini menyenangkan dan apa sih rahasianya? Atau, kadang-kadang, ada godaan-godaan untuk mempertanyakan kenapa pengarang ini, misalnya, begitu terkenal. Kenapa ia dipuja-puji kritikus. Aku merasa itu masa yang sungguh tidak menyenangkan sebagai pembaca.

Tetapi, sebagai penulis, aku belajar banyak. Aku mendapatkan banyak asupan dari membaca. Aku menjadi pretensius. Aku jadi memilih-milih bacaan. Bacaanku juga menjadi agak sempit. Karena aku ingin menulis seperti ini atau seperti itu. Sebagai penulis aku ingin mempelajari hal-hal tertentu dari apa yang kubaca.

Aku butuh bukan hanya beberapa bulan, tapi bertahun-tahun, waktu untuk bisa membebaskan diriku dari masa tidak menyenangkan itu. Sekarang, bisa dibilang, aku tidak lagi peduli dengan membaca sebagai penulis. Ini titik penting buatku ketika, dalam tanda petik, aku tidak lagi terlalu peduli dengan menulis. Apakah aku akan menerbitkan buku atau tidak atau kapan? Kalau memang ada buku dan mau terbit, ya, terbit. Begitu, aku tidak lagi terbebani.

Sekarang aku lebih ingin membesarkan diriku sebagai pembaca daripada seorang penulis. Itu titik baliknya, ketika aku bisa lagi menemukan kenikmatan membaca. Aspek diriku sebagai penulis menjadi lebih minor. Aku merasa menulis hanya sebagai efek dari membaca.

Lebih menyenangkan sekarang dengan kondisiku tanpa peduli adakah hal-hal yang bisa dicuri, meskipun kadang-kadang pikiran semacam itu timbul. Tapi, aku meresponnya dengan normal dan alami saja.

Pada masa-masa tidak menyenangkan tersebut, adakah sejumlah buku yang kamu baca berkali-kali karena ingin mempelajari secara khusus hal-hal tertentu?

Ketika aku mencoba menjadi penulis, aku memikirkan diriku sebagai penulis seperti apa. Aku datang dari sebuah negara yang orang di luar sana bahkan tidak tahu bahasanya dengan sejarah yang orang tidak terlalu peduli. Kita terhubung dengan sejarah dunia, tetapi hubungannya tidak dekat. Kita dijajah waktu itu oleh sebuah negara kecil. Kita pernah diduduki oleh Jepang, tapi Jepang menduduki banyak tempat lain.

Sebagai penulis, aku ingin mencoba menggambar ulang tentang Indonesia dan aku bertanya bagaimana caranya. Hal itu membuatku belajar dari karya-karya orang lain yang kurasa merepresentasikan wilayah, generasi, dan sosial tertentu. Misalnya, ketika itu aku membaca hampir semua karya Gabriel Garcia Marquez dan Mo Yan. Aku merasa Marquez bukan hanya mewakili Colombia, tapi juga seluruh Amerika Latin. Pada masa itu, aku membaca hampir semua penulis besar Amerika Latin dengan cara pandang seperti itu; bagaimana mereka menggambar ulang Amerika Latin dalam karya-karya mereka. Atau, bagaimana Mo Yan menggambar ulang Cina. Kurasa generasi mereka yang lahir tahun 1920-an atau 1930-an memang seperti itu; generasi pasca-kolonial. Aku membaca Milan Kundera, bagaimana dia merepresentasikan — meskipun mungkin tidak betul — Ceko.

Aku rasa, pada masa itu, aku banyak membaca dengan tujuan seperti itu. Aku merasa mereka terpisah-pisah, berkarya di tempat-tempat berbeda, tapi mereka generasi pasca-kolonial yang sama-sama sedang menggambar ulang wilayah geografi dan sosial mereka.

Pada tahun berapa tepatnya kamu tersiksa dengan kondisi pembacaan semacam itu?

Waktu aku menulis Cantik Itu Luka, saat menulis Lelaki Harimau, dan masa-masa setelahnya. Aku tersiksa dengan kondisi semacam itu mungkin hingga menjelang 2010.

Sebagai pembaca jurnalmu di Internet, saya penasaran ingin tahu, dengan pilihan yang amat banyak, bagaimana kamu memilah dan memilih bacaan-bacaan kamu?

Sebetulnya, memang tentu saja harus ada pilihan. Aku menulis jurnal itu setelah memutuskan untuk menjadi pembaca saja, bukan seorang penulis yang membaca. Aku ingin bersenang-senang sebagai pembaca dan salah satu ekspresiku adalah dengan rutin menulis jurnal. Aku punya kesadaran untuk melakukannya kira-kira sejak 2012.

Aku tidak punya pretensi bahwa aku memilih hal-hal dari bacaanku seperti tema atau gaya tertentu. Aku merasa, aku membebaskan saja diriku menjelajah. Meskipun begitu, aku merasa tetap perlu membuat semacam peta kasar. Aku kemudian membuat semacam periodesasi kasar agar penjelajahanku lebih fokus dan tidak terlalu ke mana-mana. Paling tidak, untuk membantuku menemukan buku apa yang aku cari dan harus kubaca selanjutnya.

Ketika aku membaca dengan pretensi sebagai penulis, aku merasa terlalu banyak membaca karya dari generasi pasca-kolonial. Maka, kalaupun harus membaca generasi itu lagi, mungkin nanti aku melakukannya di akhir petualanganku.

Sebagai pembaca yang ingin bertualang, pertama-tama aku memutuskan membaca karya-karya dari generasi yang paling dekat dengan generasiku. Bagiku, agak susah mencari yang segenerasi denganku, karena pada usia-usia sepertiku para penulis itu mungkin bisa terkenal di negaranya masing-masing, tapi belum muncul namanya di skala dunia. Tentu saja, ada beberapa pengecualian. Misalnya, Andrés Neuman dari Argentina dan Juan Gabriel Vásquez dari Kolombia. Neuman kelahiran 1977, Vásquez lahir pada 1973. Kalau aku menemukan penulis yang kira-kira seumuran denganku, itu sih keberuntungan. Menyenangkan.

Tapi, aku ingin membaca karya-karya dari penulis yang paling tidak satu generasi di atasku. Aku ingin tahu dunia seperti apa yang ingin mereka gambar dalam karya-karya generasi yang lebih baru ini. Karena, itu tadi, aku merasa terlalu banyak membaca generasi pasca-kolonial. Bahkan, kita lebih kenal pengarang jadul, tetapi kurang mengenal pengarang yang lebih baru.

Itu frame pertamaku. Aku ingin menjelajah di generasi yang lahir pada 1960-an atau paling jauh mundur ke 1940-an. Aku membaca Haruki Murakami, Don Delillo, Roberto Bolanõ, Orhan Pamuk, dan penulis-penulis segenerasi itu. Aku merasa kita butuh jembatan yang lebih benar. Ketika kita, misalnya, membaca Bolanõ, kita bisa melihat jejak Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Márquez. Paling tidak, bagi Bolanõ, kedua pengarang itu adalah generasi di atasnya. Sementara kita sebetulnya generasi yang sudah terlalu jauh dari generasi pasca-kolonial. Ketika kita bereaksi atas karya Márquez dan Borges, sebetulnya reaksi yang sama sudah dilakukan oleh generasi sebelum kita.

Generasi tahun 1940 hingga 1960-an sebetulnya generasi pertama yang bisa disebut generasi global. Murakami dan Bolanõ tidak saling tahu. Murakami tidak tahu apa-apa tentang Bolanõ, dan sebaliknya. Tapi, aku merasa mereka membawa roh yang sama dalam karya mereka. Murakami tetap saja menulis Jepang, tapi ia menjejakkan diri tidak sama dengan penulis Jepang sebelumnya. Murakami berbeda dengan Yasunari Kawabata. Murakami terlihat lebih rileks. Atau, dibanding dengan penulis Amerika Latin sebelumnya, Bolanõ terasa lebih cair.

Aku hampir setahun membingkai bacaan di wilayah generasi Murakami, Pamuk, dan lain-lain itu. Meskipun aku merasa belum terlalu banyak membaca, tapi aku merasa cukup dan memutuskan menjelajahi wilayah baru.

Aku kemudian melemparkan diriku jauh ke belakang. Aku ingin membaca karya-karya klasik, di mana segala sesuatu berawal. Aku ingin membaca karya-karya yang lahir dari abad ke-19 ke belakang. Aku membaca lagi William Shakespeare, Miguel de Cervantes, Leo Tolstoy, dan Fyodor Dostoyevsky. Aku membaca Herman Melville. Aku bahkan membaca ulang Homer. Aku membaca penulis Prancis, pelopor stream of consciousness, Édouard Dujardin. Aku merasa, sekarang ini, kita melakukan banyak hal tapi tidak sadar bahwa ada asal-usulnya. Aku merasa perlu menjelajahi asal-usul hal-hal yang kulakukan saat ini, yang kadang bahkan tanpa sadar kulakukan. Dan, ternyata, itu penjelajahan yang menyenangkan.

Lalu, saat ini, aku sedang membaca dengan frame klasik-moderen, kira-kira sebelum Perang Dunia. Aku membaca ulang, misalnya, Knut Hamsun. Ini periode generasi yang lahir kira-kira akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Aku membaca lagi Ernest Hemingway dan William Faulkner.

Sebetulnya, tahun ini, aku ingin membaca tiga pengarang Jerman. Aku menargetkan hal tersebut karena aku tahu sulit membaca karya-karya Jerman. Aku ingin membaca novel Hermann Broch, The Sleepwalkers. Aku tahu novel dan nama itu karena Milan Kundera sering menyebut dan memujinya. Aku ingin membaca lebih detail karya-karya dari generasi itu. Kalau punya waktu lebih luang, aku juga ingin sekali menamatkan In Search of Lost Time, karya Marcel Proust. Mereka memang generasi yang senang menulis novel yang sangat tebal, panjang, kadang berseri, dan novel ide. Kurasa mungkin terpengaruh oleh revolusi industri, gagasan sedang tumbuh, atau barangkali kondisi ekonomi sedang membaik, dan belum terjadi perang. Karena setelah perang meletus, novel-novel seperti itu tidak lagi ditulis.

Di luar bingkai periodesasi, apakah kamu menemukan nama-nama yang ingin kamu baca dari rekomendasi pengarang yang kamu baca sebelumnya?

Caraku mencari bacaan memang seperti itu selama ini. Membaca dan membeli buku sebetulnya seperti membeli kucing dalam karung. Asumsinya, kita membaca dari rekomendasi orang-orang yang kita percaya. Dan, orang-orang yang kita percaya itu tentu saja adalah orang-orang yang kita suka karyanya.

Aku suka Milan Kundera. Aku ingin tahu sebetulnya dia menyuruh kita membaca siapa. Dia merekomendasikan karya-karya siapa. Aku suka membaca esai-esai para sastrawan kadang untuk tujuan seperti itu. Ada empat buku esai Milan Kundera; The Curtain, The Art of Novel, Testaments Betrayed, dan Encounter. Aku baru membaca tiga di antaranya. Dari buku-buku itu aku menemukan banyak nama pengarang yang kemudian aku baca.

Dulu, aku membaca William Faulkner, karena Marquez membaca Faulkner. Kalau Marquez tidak membaca Faulkner, mungkin aku juga tidak mengenalnya. Pada masa itu, kita mungkin hanya mengenal penulis Amerika seperti Ernest Hemingway dan John Steinbeck, karena cuma itu yang bisa kita temukan terjemahan karya-karyanya. Sementara Faulkner, meskipun datang dari generasi yang sama, hampir tidak pernah disebutkan.

Tetapi, sebagai pembaca, apakah kamu pernah merasa menemukan sendiri bacaanmu — nama yang tidak direkomendasikan oleh pengarang yang kamu suka?

Pernah, tapi jarang sekali. Aku menemukan Edgar Keret. Ia tidak direkomendasikan oleh siapa pun. Aku menemukan satu cerita pendeknya di Internet, secara tidak sengaja, kalau tidak salah di situs yang juga tidak besar. Judulnya, aku ingat persis, Shoes. Mungkin karena penulisnya dari Israel, aku jadi penasaran dan membaca cerpen tersebut. Aku suka. Aku langsung menerjemahkannya. Aku ingat, aku kirim hasil terjemahnnya ke Suara Merdeka. Tapi, redakturnya, Tryanto Triwikromo, menghilangkannya, dan sampai sekarang aku tidak tahu di mana cerpen itu. Kisahnya tentang seorang anak yang suka main bola. Ayahnya membelikan sepatu produk Jerman, Adidas. Kakek anak itu korban Nazi. Agak kontras, mereka datang dari keluarga korban Nazi, Yahudi, tapi ia memakai sepatu Adidas. Aku merasa cerpen itu lucu sekali. Bagaimana seorang anak yang diindoktrinasi untuk membenci segala sesuatu yang berbau Jerman, tapi ayahnya menghadiahkan sepatu Adidas. Anak itu juga awalnya sedih, tapi kemudian menganggap kakeknya yang meninggal karena peristiwa Holocaust itu bahagia ketika dia berhasil membuat gol. Aku merasa cerpen itu unik.

Tapi, waktu itu, aku tidak membayangkan penulis cerpen itu sudah cukup popular. Sampai, suatu ketika, aku bicara dengan Richard Oh dan aku menyebut nama Edgar Keret. Richard bilang penulis itu datang ke Ubud Writers & Readers Festival 2010. Berarti ia sudah menerbitkan buku. Aku akhirnya beli dua bukunya dan memang cerpen-cerpennya asyik.

Pada lain waktu, aku menemukan cerpenis dari Irak, Hassan Blasim. Aku juga tidak sengaja. Aku jalan-jalan ke toko buku dan melihat bukunya dengan sampul hitam dan menurutku lucu; The Corpse Exhbition and Other Stories of Iraq. Aku belum sekali pun membaca penulis Irak, sementara aku tahu tradisi sastra Persia sudah sangat panjang. Misalnya, kita tahu, dari sana berkembang sastra Sufi. Sebagian dari Arabian Nights juga sebenarnya adalah kisah-kisah dari Persia.

Aku baca cerpen-cerpen Hasan Blassim, seperti membaca Edgar Keret. Aku merasa mereka berdua termasuk penulis cerpen terbaik untuk generasi sekarang.

Tapi, menemukan sendiri penulis semacam itu jarang terjadi. Karena, aku rasa, akses kita untuk menemukan hal semacam itu bisa dibilang agak susah juga.

Kalau diminta menyebutkan lima nama pengarang yang menurutmu bisa membuka akses bagi pembaca baru untuk bertemu dengan nama-nama lain untuk dibaca, siapa yang kamu rekomendasikan?

Lima penulis yang bisa membuka banyak? Kurasa itu agak tricky, dalam arti tidak semua penulis suka mengatakan dengan terbuka apa yang ia baca. Tapi, tentu saja, Milan Kundera bisa jadi salah satu gerbang yang bagus dan mengasyikkan. Ia sangat terbuka. Ia menulis banyak esai. Kita lebih mudah menulusuri bacaannya. Meskipun, referensinya lebih banyak berkutat di Eropa. Ia memang menyebut beberapa penulis Asia, tapi kurasa sangat mudah ditebak. Para penulis Asia yang ia sebutkan pasti juga sudah kita kenal, berbeda dengan penulis-penulis Eropa yang ia sarankan. Kadang-kadang ia menyebut nama pengarang dari zaman entah kapan. Ia menyebut penulis yang sangat asing, misalnya, Bohumil Hrabal. Aku rasa, kalau Kundera tidak menyebut namanya, karya-karya Hrabal tidak banyak diterjemahkan ke bahasa lain. Bahkan mungkin diterjemahkan pun tidak akan banyak dibaca orang.

Salman Rushdie juga cukup terbuka menyebutkan nama-nama pengarang lain yang ia baca.

Tapi, aku rasa metodenya tidak melulu harus seperti itu. Kadang-kadang kita bisa mengetahui seorang penulis membaca siapa-siapa saja secara tidak langsung. Aku kadang menemukan penulis lewat karya-karya kritik atau biografi pengarang tertentu.

Marquez, misalnya, jarang menulis esai. Kalau tidak menulis novel atau cerita pendek, ia menulis karya jurnalistik. Jadi, kita kesulitan menebak alam semesta sastranya. Kita baru bisa mengetahuinya, jika kita membaca wawancara-wawancaranya dan, terutama, biografinya. Misalnya, biografinya yang ditulis oleh Gerald Martin. Dari situ, misalnya, kita bisa tahu ada penulis seperti Juan Perez Rulfo dari Meksiko yang sangat mempengaruhi karyanya. Ia bilang tidak mungkin bisa menulis One Hundred Years of Solitude kalau tidak ada Pedro Páramo, novel Juan Rulfo. Aku merasa ia berlebihan. Tapi, setelah akhirnya aku membaca karya Juan Rulfo, aku jadi percaya. Pengaruhnya memang besar sekali.

Jadi, ketika aku mengatakan bahwa kamu bisa menjelajah ke banyak penulis dengan membaca Marquez, itu juga tricky. Karena, ketika kita langsung membaca Marquez, mungkin kita akan menemukan kegelapan. Kita barangkali harus mengelak dengan mencari-cari di sekitarnya untuk tahu bahwa di belakang karya-karya Marquez ada Jorge Luis Borges, Franz Kafka, Juan Rulfo, dan William Faulkner. Atau, bahkan mungkin ada Ernest Hemingway.

Sebagai petualang yang memiliki bacaan dengan rentang geografi dan masa yang amat luas, di mana letak keasyikannya?

Aku sering membayangkan diriku seperti dulu waktu remaja, ketika aku sangat senang membaca buku. Aku melakukannya sebenarnya bisa dibilang sebagai bentuk eskapisme. Aku ingin lari ke sebuah dunia yang aku tidak tahu sebelumnya dan masuk begitu saja. Membaca buku adalah satu-satunya petualangan di mana kita cukup duduk dan tiba-tiba kita sudah berada di tempat lain. Aku membayangkan bisa membaca siapa pun, bahkan ketika membaca karya James Joyce, Ulysses, seperti adikku membaca buku-buku yang ia suka. Tanpa pretensi sastra. Adikku bukan pembaca sastra, tapi ia bisa duduk berlama-lama membaca Harry Potter. Ia larut saja dan bahagia. Ia tidak punya tujuan apa-apa selain karena senang membaca.

Aku ingin seperti itu, karena dulu aku seperti itu. Aku membaca cerita silat dan memasuki petualangan-petualangan di dalamnya. Aku tiba-tiba bisa berada di negeri China, lalu tiba-tiba ada di Kerajaan Majapahit. Aku berkenalan dengan karakter-karakter yang bisa membawaku bertualang. Aku kira, istilah eskapisme itu bisa mewakili.

Bagaimana kamu memperoleh bacaan-bacaan kamu selama ini?

Aku mendapatkan bacaan hampir dengan segala cara. Yang paling mudah, tentu saja, dengan membeli. Aku biasanya beli online dari luar negeri. Kalau tidak beli baru, aku beli buku bekas. Di www.abebooks.com, misalnya. Aku biasanya memperoleh buku-buku yang susah dicari di situ.

Aku juga suka jalan-jalan ke toko buku. Kalau aku melihat buku yang kusuka dan kebetulan pegang duit, aku beli. Meskipun, kadang-kadang aku merasa buku-buku di sini masih terlalu mahal. Tapi, aku sering membeli jika aku merasa punya sedikit uang dan menganggap bukunya bagus.

Aku juga masih punya kebiasaan setiap kali pergi ke mana pun dan menemukan toko buku bekas, aku pasti masuk. Setidaknya ada satu buku yang pasti kubawa keluar. Seperti di London, kemarin, aku masuk ke satu toko buku bekas. Aku bertemu buku yang sebenarnya gampang sekali dicari dan bisa ditemukan di mana-mana. Aku sudah pernah membacanya, sudah lama sekali, tapi tidak memiliki bukunya. Tiba-tiba aku merasa ingin memilikinya, meskipun bekas tapi kondisinya masih bagus dan harganya murah. Novel Franz Kafka, The Castle. Aku bayar dan ambil, karena di rumah juga belum ada buku itu. Seperti itu, aku sering memperoleh buku di toko buku bekas.

Aku juga sering dapat hadiah dari teman. Aku kadang-kadang kepikiran jika punya teman yang kutahu suka buku tertentu dan menemukannya, aku beli untuknya. Selain itu, aku kadang melakukannya dengan sedikit ilegal. Aku men-download, tertutama buku-buku yang sebetulnya tidak terlalu kusuka, tapi cukup penasaran mau baca. Aku cari di Internet, ku-download, dan kubaca. Kadang-kadang, aku baru baca setengah dan aku suka, ujung-ujungnya, aku cari bukunya.

Artinya, kamu memang lebih senang membaca buku fisik?

Iya. Aku suka teknologi. Bahkan ketika aku mulai menulis, aku juga terkagum-kagum dengan Internet. Tapi, aku punya masalah dengan mata. Aku cepat lelah, tidak punya kekuatan membaca lama di gadget. Aku jauh lebih nyaman dengan buku kertas, meskipun kadang juga aku membaca di tablet. Tapi, sekali lagi, aku merasa tidak punya daya tahan lama.

Apakah kamu punya waktu-waktu tertentu untuk membaca buku?

Aku tidak memilih waktu tertentu untuk membaca. Setiap aku punya waktu luang, aku membaca. Kapan saja, di mana saja. Pulang ke rumah, sebelum tidur, aku membaca. Bangun pagi, aku membaca dulu. Pokoknya, ketika tidak melakukan apa-apa, aku membaca buku. Atau, ketika aku sedang tidak ingin bermalas-malasan, aku membaca. Aku kadang-kadang memang hanya ingin bermalas-malasan. Di luar itu, setiap punya kesempatan, aku membaca. Lima atau enam halaman.

Justru aku biasanya tidak membaca buku ketika sedang dengan sengaja ingin jalan-jalan. Aku ingin jalan-jalan saja. Karena, aku merasa buku justru jadi gangguan. Membaca membuatku tidak bisa melihat apa-apa yang lain.

Adakah kebiasaan membacamu yang menurut kamu aneh dan tidak dilakukan oleh pembaca lain?

Tidak ada yang terlalu spesifik. Aku rasa orang lain juga melakukannya. Misalnya, aku suka menciumi buku. Aku juga suka mencoret-coret buku, meskipun orang lain menganggap itu kebiasaan buruk karena merusak buku. Tapi, aku tidak tahu, aku suka saja melakukannya. Aku suka membuat catatan di buku yang kubaca.

Kamu jadi anggota perpustakaan?

Sayangnya, tidak. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena malas saja. Bahkan ketika aku masih mahasiswa, aku tidak pernah jadi anggota perpustakaan. Kalau aku mau membaca satu buku, aku memilih membacanya di perpustakaan. Aku tidak pernah membawa pulang. Jika terpaksa harus bawa pulang karena tugas, misalnya, aku pinjam kartu perpustakaan teman. Tetapi, lebih sering aku datang ke perpustakaan, ambil buku, duduk, dan baca di situ. Sehabis itu, misalnya buku yang kubaca belum selesai, aku ingat saja halaman berapa terakhir dan besok datang lagi untuk melanjutkannya.

Aku rasa, karena aku malas saja. Aku malas mengurus kartu dan hal-hal lain semacam itu. Tapi, di sisi lain, hal itu membuat aku punya kebiasaan untuk datang ke perpustakaan, duduk dua atau tiga jam membaca, karena aku tidak punya kesempatan lain untuk membaca selain di situ. Untungnya, waktu aku kuliah, novel-novel yang kubaca itu jarang dibaca orang lain. Jadi, kalau aku kembali mau baca, novel itu masih ada.

Kamu pernah mencuri buku?

Pernah. Beberapa kali.

Ada buku tertentu yang sudah lama kamu cari dan belum bertemu — atau ada karya pengarang tertentu yang ingin kamu koleksi?

Perasaan ada. Tapi, kadang-kadang karena sudah lama aku malah sampai lupa. Sekarang aku tidak begitu punya keinginan mengoleksi karya pengarang tertentu. Dulu, aku punya obsesi ingin mengoleksi semua buku Knut Hamsun. Setelah aku punya sekitar sebelas atau dua belas, dan aku tahu masih ada yang belum kupunya, aku kemudian berpikir untuk menganggapnya bukan lagi sesuatu yang harus-harus amat untuk kupenuhi.

Aku merasa tidak obsesif terhadap penulis tertentu lagi. Kadang-kadang sekarang begitu selesai membaca satu buku, aku ambil buku lain apa saja lalu membacanya. Di rak bukuku masih banyak buku belum kubaca. Aku ambil saja secara acak lalu baca sampai tamat lalu simpan dan ambil yang lain lagi dan seterusnya.

Saat ini kamu lagi membaca buku apa?

Itu tadi yang kubawa-bawa, bukunya Yukio Mishima, The Temple of the Golden Pavilion. Dulu aku malas membaca karya-karyanya. Aku merasa ia pengarang yang agak fasis dan terlalu macho. Aku masih suka macho, misalnya, kalau di film seperti gaya western spaghetti. Aku rasa macho Mishima agak aneh. Juga, terutama, pandangan politiknya.

Tapi, kemudian aku berpikir kenapa harus terganggu dengan semua itu. Kenapa aku tidak coba untuk rileks saja membaca ceritanya seperti apa. Karena, kurasa kita bisa baca banyak penulis lain yang punya cara pandang dunia berbeda, tapi kita tetap bisa terhibur. Misalnya, kita baca penulis Prancis yang juga fasis, Louis-Ferdinand Celine, tapi semua penulis punya latar belakang politik yang berbeda-beda. Borges juga penulis yang konservatif, tapi kita rileks saja membacanya dan cerita-ceritanya tetap mengasyikkan.

Omong-omong, tanggal lahir Mishima sama dengan tanggal lahirku. Sudah berapa buku Mishima yang kamu baca?

Aku baru coba baca ini. Ini buku Mishima pertama yang kubaca. Kalau tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia kan? Kuil Kencana. Ada banyak buku Mishima di toko buku, tapi kalau ke Periplus, misalnya, aku selalu berharap menemukan buku Yasunari Kawabata. Aku suka Kawabata, tapi aku merasa masih kurang membaca karya-karyanya. Aku hanya sedikit memiliki buku-bukunya. Aku pernah baca dan punya hanya Beauty and Sadness, Thousand Cranes, Snow Country, dan kayaknya The Sound of the Mountain. Aku selalu merasa ada yang kurang, tapi susah carinya.

Dari tadi kamu menyebut banyak nama penulis, tapi selain Djuna Barnes, kamu tidak menyebut nama perempuan lain. Kenapa?

Pernah juga ada orang yang bertanya tentang penulis perempuan. Aku rasa, secara tidak sadar, kita masuk ke konstalasi sastra dunia di mana penulis perempuan memang representasinya tidak terakomodir. Sedikit. Apalagi dalam dunia sastra mainstream, misalnya, kita bisa melihat statistik jumlah perempuan yang meraih penghargaan Hadiah Nobel Sastra juga sangat sedikit. Meskipun ini bisa diperdebatkan, juga aku rasa ketika menemukan penulis perempuan, cara mereka menulis tetap agak maskulin. Beberapa yang aku suka, aku rasa menulis dengan sangat maskulin. Misalnya, Toni Morrison yang banyak sekali mempengaruhi tulisanku. Atau, sebutlah, Virginia Woolf. Tapi, kurasa sastra dunia memang sangat maskulin. Meskipun, apa dan yang mana itu maskulin juga bisa diperdebatkan.

Fungsi jurnal-jurnal yang kamu tulis setelah membaca di blogmu itu bagimu sendiri?

Supaya aku tidak lupa, sebagaimana fungsi awal kenapa manusia menulis. Ketika selesai membaca dan ada yang terpercik di pikiranku, misalnya komentar atau apa pun, aku menuliskannya. Kupikir itu cara terbaik supaya aku ingat. Hal-hal yang kutuliskan jauh lebih bisa kuingat dibanding dengan yang tidak kutuliskan.

Apakah buku yang terakhir kamu tulis di jurnalmu adalah buku terakhir yang kamu baca?

Hampir seperti itu. Meskipun, kadang-kadang ada kasus tertentu. Ada buku yang begitu selesai kubaca, aku tidak tergerak sama sekali untuk menuliskan apa pun dan kulewatkan saja. Tapi, kadang pula ada buku yang sudah lama selesai kubaca, tiba-tiba karena sesuatu membuatku menuliskan catatan atau komentar atau apa saja. Misalnya, aku membaca esai orang lain tentang panduan membaca pengarang tertentu, lalu aku berpikir untuk menuliskan esai serupa. Maka, aku tulislah esai tentang panduan membaca Hamsun yang dalam tingkat tertentu aku baca hampir semua karyanya.

Pernahkah kamu dihinggapi semacam kekhawatiran dengan membaca novel-novelmu orang-orang bisa menebak siapa saja yang kamu baca waktu menuliskannya?

Tidak. Terserah mereka saja. Tebakan mereka bisa benar, bisa juga salah. Kalau salah, misalnya, itu juga bisa punya dampak bagus buat mereka. Salah baca dan karena itu mereka akhirnya membaca pengarang yang berbeda. Dalam tingkat tertentu, aku mendukung open source. Tidak perlu menyembunyikan penulis-penulis yang kita suka. Lama-lama juga orang akan tahu. Para pembaca Murakami, misalnya, semua sudah tahu siapa saja yang dibaca Murakami. Dan, kita bisa lihat, ia santai-santai saja.

Karya sastra Indonesia kontemporer yang kamu baca beberapa bulan terakhir?

Agak susah menyebut satu judul. Aku jarang sekali membaca karya sastra Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Atau, begini, siapa penulis Indonesia yang kalau menerbitkan buku baru pasti kamu beli?

Karena aku merasa cukup mengenal mereka, kurasa ada beberapa penulis dari generasiku. Puthut EA, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad, dan Gunawan Maryanto. Karena aku kenal baik mereka dan aku punya preferensi seperti apa karya-karya mereka. Kadang-kadang aku berharap mereka membuatku terkejut. Tapi, bahkan ketika mereka tidak membuatku terkejut pun, paling tidak karena aku tahu kualitas mereka, jadi aku ingin baca.

Para penulis di bawah generasiku, aku agak blank. Aku tidak tahu petanya. Kadang aku tahu nama-nama tertentu karena orang membicarakannya dan aku kadang baca beberapa karya mereka. Tapi, karena aku tidak begitu mengenal mereka, aku mungkin hanya akan membeli dan membaca karya-karya mereka jika orang-orang yang benar-benar kupercaya merekomendasikannya.

Tampaknya, dalam kasusmu, dunia membaca adalah dunia yang sangat personal. Menurut kamu, seberapa penting klub buku atau klub baca?

Aku bisa membicarakannya dari dua level. Dari yang lebih praktis dulu, level untuk industri penerbitan buku. Menurutku itu penting, dalam arti, untuk menciptakan market dan euforia terhadap buku. Di luar hal-hal praktis itu, lebih ke konsep dialog. Kurasa itu juga penting. Buku sebagai produk intelektual butuh pertukaran gagasan. Bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara pembaca dan pembaca.

Meskipun begitu, klub buku ini juga akan sangat tergantung karakter orang. Aku rasa orang-orang introvert tidak akan menikmatinya. Aku agak introvert. Aku tidak terlalu nyaman dengan klub buku, kecuali klub bukunya kecil dan orang-orangnya sudah kukenal baik. Kalau sudah lebih dari delapan atau sembilan orang, aku pasti memilih diam dan mendengarkan saja.

Aku lebih suka menulis jurnal. Bagiku, itu juga salah satu bentuk dialog. Tidak selalu langsung. Tapi, mungkin ada orang yang membaca dan ia akan meresponsnya dengan menulis di tempat lain. Aku membacanya atau tidak, itu bukan yang utama. Sama misalnya ketika Virginia Woolf menulis dan ia juga tidak tahu ketika bertahun-tahun kemudian kita membaca dan menulis catatan sebagai reaksi atau respons.

Adakah orang yang menurutmu bisa disebut sebagai Manusia Pembaca?

Aku merasa orang seperti Rosihan Anwar itu bisa disebut manusia pembaca. Atau, aku kadang iri dengan temanku, Zen RS. Ia bisa menulis, tapi tampaknya lebih berambisi jadi pembaca ketimbang penulis. Atau, bisa jadi, bukan ambisi, karena memang tidak perlu ambisi. Ia suka saja membaca. Kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Kalau di luar sana, aku kira Borges adalah contoh terbaik. Ia manusia pembaca. Bahkan ketika buta, ia meminta orang lain membacakan buku. Ia meminta ibunya membaca buku untuknya.

*

(Baca juga pengakuan Eka Kurniawan mengenai suara perempuan dalam novel-novelnya di sini.)