Hidupku di Perut Binatang Buas

terjemahan cerita pendek Lincoln Michel

Aku lahir prematur dan, dengan demikian, menjadi bayi yang sangat kecil. Sangat kecil, bahkan, sehingga tak lama setelah hadir di dunia, aku ditelan seekor rubah licik yang mengacaukan kebun orangtuaku. Ia menyelinap lewat pintu belakang ketika semua orang sibuk memerhatikan hal lain. Airmata bahagia ibuku berubah jadi kecut, dan ayahku mengutuk buruh tani malas yang ia bayar untuk memperbaiki pagar. Itulah kata-kata pertama dan terakhir yang kudengar diucapkan orangtuaku.

Perut rubah itu nyaman dan hangat. Aku nyaris tidak menyadari apa yang terjadi. Bagiku, sepertinya, aku sekadar pindah dari satu rahim ke rahim yang lain. Ketika lapar, aku makan potongan-potongan daging mentah yang jatuh berhamburan di sekitarku. Jika aku sedih dan meratap, ia melolongkan lagu pengantar tidur demi membuatku kembali terlelap. Terlepas dari semua hal itu, hari-hari pertamaku biasa saja.

Aku, seiring waktu, mulai tumbuh jadi anak penakut. Aku bukan bayi lagi, dan kadang-kadang butuh meregangkan tungkai kaki. Suatu hari, seakan doaku terkabul, rubah itu terpojok oleh pemburu lokal dan anjing Mastiff raksasanya. Ia mencoba lari, tapi aku sudah cukup besar untuk membuatnya bisa bergerak lincah, dan tubuhnya dikoyak-koyak anjing. Aku merasakan embusan udara dingin dan melihat cahaya matahari yang terang untuk pertama kali sebelum ditelan seekor anjing yang sangat besar itu.

Aku tidak menyangkal bahwa aku sedih karena harus tinggal di antara potongan-potongan tubuh dan gumpalan bulu rubah. Betul, rubah yang telah menculikku, tapi bagiku juga kemudian jadi rumah, dan kehilangan tentu bukanlah perkara remeh.

Tapi perut Mastiff lebih nyaman dan lapang, lebih cocok untuk bocah laki-laki yang sedang tumbuh. Aku bisa merasakan otot-ototku berkembang ketika push-up di lantai perutnya yang lembut dan pull-up di batang-batang tulangnya. Apabila ia sedang tertambat di padang rumput, aku sering merangkak naik ke tenggorokannya, bertopang dagu di pangkal lidahnya yang lebar, dan menatap keluar ke dunia yang kering, dunia yang terbuka.

Aku, percaya atau tidak, bahkan jatuh cinta karena kebiasaan itu. Ada seorang gadis baik hati tinggal di sebelah rumah pemburu hendak memberi makan anjing itu dengan sisa-sisa makanan lezat melalui celah-celah pagar. Dia mengenakan gaun musim panas berwarna pastel dan ada dandelion terselip di rambutnya. Aku terpukau melihat betapa ringan dan cantik dia diterpa sinar matahari.

“Apa yang kau lakukan di situ?” kata gadis itu ketika melihat aku mengintip dari mulut anjing.

“Aku tinggal di sini,” kataku malu-malu.

“Oh, oke, ayo keluar!” Dia tertawa, tapi aku takut dan meluncur masuk kembali di usus anjing. Aku pikir anak yang telah menjalani hidup di perut binatang tidak cukup berhak jadi teman gadis itu.

Aku melolong dan mengasihani diri sendiri, dan dia mengusap perut anjing, dan terus mengatakan, “Hei, hei.”

Kesepian yang tidak hendak berhenti, akhirnya, membuatku memutuskan untuk meninggalkan perut Mastiff. Dan, aku melakukannya. Dengan segenap tenaga, aku berusaha melewati gigi-gigi runcing anjing itu. Di luar tampak gelap. Badanku sakit, dan aku ingin beristirahat. Ketika duduk di tempat yang lembut dan licin, dalam sekejap aku sudah berada di dalam perut lain. Seekor beruang melahap Mastiff saat aku lengah. Aku tidak bisa percaya nasib burukku!

Apabila aku berusaha melarikan diri dari beruang, ia marah dan memanjat pohon yang tinggi. Aku sudah remaja ketika itu, dan kehidupan tidak ubahnya perangkap memuakkan. Segala sesuatu yang tampak manis mengandung duri tersembunyi. Jika ada madu segar di tanganku, setelahnya selalu ada sengatan menyakitkan dari lebah yang turut kutelan.

Tapi kehidupan terus bergerak, dan seseorang tumbuh menyesuaikan diri. Tahun-tahun berlalu. Beruang itu dibius dan diangkut dengan perahu menuju kebun binatang yang asing. Perahu terperangkap badai hebat, beruang dan aku terlempar ke laut, hanya untuk ditelan ikan hiu kemudian, tanpa sengaja, ditelan ikan paus raksasa.

Aku berada di perut paling besar yang pernah kutinggali. Tak ada apa pun yang bisa menghalangiku lagi. Aku sudah jadi pria dewasa, dan aku harus menjalani hidupku sendiri. Aku mulai bekerja, membangun tempat penampungan makanan dari sisa kayu apung dan rangka-rangka ikan yang kutemukan di danau kecil dalam tubuh paus. Kadang-kadang aku memikirkan gadis kecil bergaun musim panas itu dan merasakan kesedihan bergolak di perutku. Aku tinggal sangat lama dalam tubuh paus. Kulitku ditumbuhi bintik-bintik, dan rambutku panjang menjuntai lembut hingga ke lantai. Tahun-tahun hidupku satu demi satu habis ditelan binatang buas waktu.

Lalu, pada suatu hari, aku menyadari bahwa ikan paus itu tak lagi bergerak. Aku tak pernah merasakan keadaan tenang selama bertahun-tahun. Aku takut dan duduk di tengah kepungan air asin yang dingin. Aku menempelkan telingaku ke tulang rusuk paus dan mendengar teriakan dan suara-suara di luar daging penghalang. Kemudian cakar-cakar logam merobek dinding duniaku hingga terbuka, dan aku terjatuh ke dek kayu.

Mataku butuh waktu beberapa saat untuk bisa menyesuaikan diri dengan cahaya. Kulit tuaku penuh bercak darah dan lemak yang lengket.

Di antara para pelaut yang berewok, aku melihat seorang wanita menatapku dan tersenyum. Kulitnya berkerut bersama usia, rambutnya panjang dan putih. Ia mengenakan gaun hijau dan mengulurkan tangannya.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?” Aku akhirnya berhasil mengatakan sesuatu.

“Aku terus mencarimu sepanjang hidupku,” katanya. Ia membungkuk dan mencium alisku dengan lembut.

Ia membantuku turun dari kapal dan memberiku semangkuk sup panas. Para pelaut melambaikan tangan kepada kami di pelabuhan berikutnya. Kami menikah dan membeli satu apartemen kecil di kota, jauh dari hutan dan binatang buas. Di dalamnya, kami menyelimuti satu sama lain dengan pelukan dan membisikkan kata-kata yang telah kami simpan sejak lama. Tidak cukup banyak waktu tersisa bagi kami, maka kami bertekad menjalani hidup dengan bahagia. Kami minum anggur terbaik dan mengisi perut dengan makanan yang banyak mengandung hati, juga buah-buah matang.

Waktu berlalu, dan hari-hariku kian tenang.

Namun, di antara seluruh kebahagiaanku, hidup di luar perut ternyata tidaklah mudah. Sering kali, pada malam hari, aku terbangun dan keringat, tubuhku terbalut kain ketat di tempat tidur kecil kami di apartemen dingin di kota yang dikelilingi laut yang hangat. Aku merasa kecil dan sendiri di ruangan yang gelap. Aku bisa merasakan napas istriku di leherku, namun rasanya seperti napas binatang buas yang sangat besar dan tidak tertaklukkan, binatang buas yang sedang menunggu hari untuk menelanku ke dalam kegelapan perutnya. Selamanya.

*

(diterjemahkan dari cerita asli berjudul My Life in the Bellies of Beasts)