Mario

Penyair yang lahir dari rahim sunyi seminari.

TAHUN 2005, pukul tiga hari Minggu yang terang, dia meninggalkan rumahnya di Naimata, di pinggiran kota, menuju pusat kesunyian di jantung kota Kupang. Dia membawa kasur, pakaian, ember, perkakas kebersihan, dan barang-barang lain yang mengharuskan orangtuanya turut menemani. Waktu yang ditempuhnya dari Naimata, dengan kendaraan bermotor berkecepatan 40 km/jam, sekira 10 menit saja. Dia menuju SMA Seminari Santo Rafael dan di sanalah dia menghabiskan empat tahun masa remajanya.

Bersama calon seminaris lain dia disambut para senior dari paroki yang sama. “Nikmati saja,” kata mereka nyaris seragam. Dia bahagia karena dikelilingi teman-teman baru. Dan, pikirnya, dia akan memiliki banyak teman untuk diajak bermain sepakbola — belakangan dia tahu waktu bermain hanya boleh pada jam-jam tertentu.

Dia gemar bermain bola dan menyukai klub Inter Milan.

Tidak ada hal lain yang mengesankan pada hari pertama selepas acara penyambutan. Selanjutnya, dia sibuk dengan kegiatan-kegiatan sebagai anak baru di asrama: membereskan lemari pakaian, mengatur tempat tidur, dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan lain.

Dia berusia 14 tahun dan baru saja tamat dari SMP Kristen St. Theresia Kupang. Waktu masih di sekolah dasar, dia ingin masuk seminari Santo Pius XII di Kisol, Flores, satu pulau di Nusa Tenggara Timur tempat ayahnya berasal. Seminari itu menerima siswa untuk jenjang setara SMP tetapi dia terlambat mengikuti tes masuk.

Ketika tiga tahun kemudian dia melanjutkan ke Seminari Menengah Santo Rafael — itulah pengalaman pertama dia hidup terpisah dari orangtua.

“Motivasi dasar saya masuk seminari waktu itu memang ingin menjadi imam. Hanya itu,” katanya.

Kesunyian di seminari rupanya cocok baginya. Dia pendiam dan sudah jatuh cinta pada puisi sejak membaca sajak-sajak Chairil Anwar dari buku yang dihadiahkan ayahnya saat masih SD. Ketika SMP, dia pernah menulis sajak berjudul Mawar untuk Maria Bunda Kristus.

Kesunyian di jantung kota Kupang itu adalah mata air yang memancar untuk Mario F. Lawi.


SEMINARI Menengah St. Rafael terletak di daerah bernama Oepoi yang dalam bahasa Dawan, bahasa lokal etnis mayoritas masyarakat Timor Barat, berarti mata air. Oe berati air, Poi atau Mpoi berarti keluar, menyembul, memancar, atau muncul. Bahasa itu terdengar asing bagi Mario. Ibunya dari Sabu, Pulau Sawu, dari suku Nappu Pudi. Ayahnya dari suku Teong di Manggarai Timur.

Menurut catatan sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Kupang, Seminari Oepoi (sering disingkat Sepoi) resmi berdiri pada 15 Agustus 1984, enam setengah tahun sebelum Mario lahir. Rafael mengacu pada nama salah satu dari tiga malaikat agung dalam kitab suci kanon agama Katolik; Mikhael, Gabriel, dan Rafael. Nama yang sama juga diambil untuk menghormati secara khusus seorang misionaris Portugal yang berperan besar dalam penyebaran iman Katolik di Kupang: Pater Rafael de Viega.

Sepoi termasuk muda. Seminari ini dibangun oleh uskup pribumi jauh setelah tempat serupa di Nusa Tenggara Timur hadir.

Secara fisik, tata ruang gedung-gedungnya mirip dengan seminari lain. Di tengah-tengah berdiri kapela. Gereja kecil itu dikelilingi ruang kelas, asrama, kantor para guru dan pegawai, kamar pastor dan biarawan, juga taman dengan pohon-pohon rindang dan lapangan sepakbola. Kapela sengaja diletakkan di tengah sebagai simbol bahwa pusat denyut kehidupan para seminaris adalah doa.

Di sebelah utara Sepoi berdiri kediaman uskup, di timur ada kebun sayur para petani, rumah-rumah warga di selatan, dan di barat berbatasan jalan raya. Di seberang jalan adalah SMA Negeri 5 Kupang.

“Jarak seminari kami dekat dari Ramayana dan Stadion Oepoi, dua tempat yang sering digunakan untuk menggelar konser-konser artis dari ibukota,” kata Mario yang waktu SMP senang mendengarkan lagu-lagu Peterpan (sekarang Noah).

Di Sepoi, Mario tidak bisa menikmati kesenangan menyimak lagu-lagu kesukaannya. Para seminaris dilarang memiliki alat elektronik, termasuk telepon genggam.

Di depan asrama berlantai dua tempat Mario dan seminaris lain tinggal, berdiri patung St. Rafael dan Tobias yang menjulurkan tangan ke mulut ikan. Kisah mengenai Rafael bisa dibaca dalam kitab Tobit. Patung itu menangkap momen ketika Rafael menuntun Tobias untuk mengambil bagian dalam tubuh ikan demi menyelamatkan ayahnya yang menderita kebutaan. Dalam tradisi Katolik, Rafael dikenal dengan gelar Tabib Ilahi.

Mario sejak kecil menyukai kisah-kisah dalam kitab suci. Dari Perjanjian Lama, dia terutama jatuh hati pada kisah Adam dan Hawa di Taman Eden sebelum mereka digoda ular, perjalanan Yunus ke Niniwe dalam perut ikan paus, kisah hidup Musa sejak lahir hingga wafat, juga kisah duabelas anak Yakub, terutama Yunus. Sementara dari Perjanjian Baru, dia tidak pernah berhenti kagum pada amsal tentang anak yang hilang.

“Itu cerita-cerita awal yang dikisahkan ibu saya,” katanya.

Mario senang menulis ulang kisah-kisah itu ke dalam puisi. Itu bisa terbaca dengan jelas lewat Memoria (IBC, 2013), Ekaristi (PlotPoint, 2014), dan Lelaki Bukan Malaikat (GPU, 2015). Buku pertama, berisi sejumlah sajak yang dia tulis ketika berada di seminari, dipilih sebagai salah satu Buku Puisi Rekomendasi Tempo 2013. Setahun kemudian, buku kedua terpilih sebagai Buku Puisi Pilihan sekaligus membuatnya dinobatkan Tokoh Seni (Sastra) 2014 oleh majalah yang sama.


DI Nusa Tenggara Timur, tempat orang kesulitan mendapatkan akses bacaan fisik, perpustakaan seminari adalah anomali. Jika dibandingkan sekolah menengah lain, buku-buku sastra di perpustakaan seminari sangat memadai. Tiga perempat koleksi di perpustakaan Seminari Oepoi adalah buku sastra. Kebanyakan berbahasa Indonesia dan Inggris. Di seminari lain yang lebih tua, para siswa bisa membaca karya-karya Johann Wolfgang von Goethe, Herman Hesse, dan Rainer Maria Rilke dalam bahasa asli.

“Saya lupa jumlah pastinya. Setiap minggu, saya sanggup menghabiskan setidaknya satu novel, dua hingga tiga buku puisi, dan buku lain seperti sejarah gereja. Di luar libur keagamaan, saya melakukan hal tersebut setiap hari. Jika dihitung, saya membaca tidak kurang dari 350 judul buku selama berada di sana,” ujar Mario.

Ketika meminjam buku di perpustakaan, seminaris diwajibkan memiliki buku catatan untuk menuliskan ulasan buku yang dipinjam. Beberapa seminaris menggunakannya pula untuk menghamparkan renungan atas perikop alkitab, beberapa mengisahkan cerita cinta mereka dengan siswi-siswi dari SMA reguler, dan sejumlah lain termasuk Mario menggunakannya sebagai media menulis fiksi dan puisi.

Buku puisi pertama yang Mario baca di perpustakaan seminari adalah O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri.

“Saya bingung dan sangat kesulitan menuliskan resensinya. Itu salah satu buku yang gaya penyairnya tidak saya tiru.”

Di perpustakaan seminari, selain Sutardji, dia berkenalan dengan karya-karya penyair lain yang kemudian dia pelajari dan tiru. Dari Horatius, Walt Whitman, Goenawan Mohamad, hingga Afrizal Malna; dari TS Eliot, Sapardi Djoko Damono hingga Nirwan Dewanto; dari Suminto Sayuti dan Joko Pinurbo hingga penyair-penyair Indonesia lain yang karya-karyanya dimuat di Kompas dan Media Indonesia — dua koran terbitan dari Jakarta yang jadi langganan perpustakaan seminari.

Mario ingat sajak pertama Joko Pinurbo yang dia baca, Bertelur, yang dimuat harian Kompas, terselip di antara tumpukan koran bekas di perpustakaan. Itu saat tahun kedua dia di seminari, Kelas 1 SMA (tahun pertama adalah Kelas Persiapan Bawah atau Kelas Latina). Sajak-sajak Kompas sempat hadir dalam lembaran kebudayaan Bentara, yang terbit sekali sebulan, antara 2000–2002. Sajak itu belakangan dimuat dalam buku puisi Joko Pinurbo Pacarkecilku (2002) dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Rapat dengan pengalaman Mario, Joko Pinurbo — yang jauh lebih tua dan menemukan diksi ‘celana’ pada 1996 dalam prosesnya menulis puisi — mengenyam pendidikan Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang, Jawa Tengah. Dia banyak menulis puisi di kandang ternak dan kebun milik seminari.

“Puisinya ringan, pikir saya waktu itu. Hanya mengisahkan telur yang menggelinding. Mungkin akan berat jika saya mesti menyelami makna di baliknya. Saya menikmatinya sebagai cerita saja. Seperti prosa. Puisi itu sempat juga saya kliping,” tutur Mario.

Beberapa teman angkatan Mario memiliki kebiasaan mencuri koran dari perpustakaan untuk dikliping sesuai minat mereka. Beberapa dari mereka menggunting bagian foto karena tertarik pada fotografi. Kelompok lain mengincar rubrik olahraga. Ada juga yang mengumpulkan rubrik sastra. Sebagian besar tumpukan koran lama itu akan berakhir sebagai kertas bekas untuk ditimbang dan dijual kiloan.

“Saya termasuk salah seorang dari kelompok para pencuri koran. Kelompok terakhir itu.”


SILENTIUM adalah suasana tradisi dalam seminari untuk menciptakan kesunyian. Tidak boleh ada percakapan, diskusi, dan aktivitas lain yang menimbulkan kebisingan. Keheningan ini biasanya berlangsung seusai ibadah dan saat studi sore di asrama. Tiga hingga lima jam setiap hari. Suasana ini membantu Mario melakukan perenungan terhadap kejadian-kejadian harian yang dia alami, termasuk dalam menyerap pelajaran di kelas yang susah dia cerna.

Secara langsung silentium menyebabkan Mario tidak terlalu melapangkan waktu untuk sembarang hal yang tidak perlu. Secara akademis, silentium diperlukan agar para seminaris lebih baik dalam memahami pelajaran mereka. Jumlah pelajaran di seminari dua kali lipat lebih banyak dibandingkan sekolah menengah reguler.

Peran situasi hening ini dalam menulis puisi diamini Joko Pinurbo yang, dalam sejumlah kesempatan, mengatakan kekagumannya kepada Mario (lima tahun terakhir, Mario termasuk penyair yang paling banyak menyiarkan karya-karyanya di beragam media). Joko Pinurbo banyak menempa diri menulis puisi semasa seminaris untuk mengisi momen-momen silentium.

Dalam satu sajak yang ditulis ketika Kelas 2, Sebelum Pagi Bernyanyi, Mario menggambarkan tradisi silentium yang melingkupinya setiap hari di seminari.

Karena pagi begitu berarti,
kami ingin sunyi menjelang pagi.
Biarkan matahari mengunyah sunyi kami.
Telah kami dengar suara gemercik.
Bukan nyanyi hujan. Bukan teriak bintang.
Melainkan suara sunyi yang jatuh dari tiang doa kami.

Kami jahit lagi sobek sunyi kami
sebelum subuh merekah. Sebelum fajar semerbak.
Kami panjat lagi tiang doa kami dan berharap
pagi akan menjadi indah. Sebelum pagi bernyanyi,
kami ingin sunyi berkibar sebagai panji di tiang
doa kami. Kami tahu, pagi yang indah akan
tercipta dari kibaran sunyi di tiang doa kami.


ADA sejumlah kegiatan seni, dan terbuka bagi para seminaris untuk mengikutinya. Mario pernah belajar piano sebelum memutuskan berhenti karena merasa tidak berbakat. Dia bisa memainkan gitar meski tidak terlalu lihai, dan memilih masuk kelompok minat sastra. Sastra termasuk satu kelompok peminatan di seminari, selain melukis dan musik. Dia tidak tertarik ikut kelompok melukis dan tidak suka tampil di muka umum. Masuk kelompok minat musik berarti siap tampil jadi pengiring misa. Dan, sebagaimana Mario menyadari dirinya sebagai orang pendiam, tampaknya puisi menjadi jalan dia untuk bicara.

“Saya belajar menulis puisi pada awalnya karena ingin mampu mengutarakan pendapat tanpa perlu tampil di depan umum. Saya orang introver. Selain itu, sebagai medium katarsis, dampak puisi sangat besar. Saya tidak tahu mesti menggunakan pembanding apa,” ujar Mario.

Durasi pelajaran sastra di Seminari St. Rafael berjalan lima sampai enam jam perminggu. Tetapi, para seminaris lebih banyak mendalami sastra di luar jam sekolah, dan lebih intens lagi di asrama. Kehadiran Romo Amanche Franck sebagai pembina selama dua tahun terakhir Mario di asrama membuatnya semakin terpacu. Romo Amanche — ketika itu belum ditahbis menjadi imam — menggiatkan komunitas sastra dengan lebih bersemangat.

Para imam di seminari adalah penikmat dan apresiator sastra. Mereka membaca Kahlil Gibran dan Remy Silado. Beberapa di antara mereka kerap mengutip bait-bait puisi untuk khotbah. Tetapi, yang menulis fiksi waktu itu hanya Rm. Amanche. Dari Amanche pula, Mario mendapat dorongan untuk mengirim-sebarkan tulisan ke pelbagai media. Dalam buku Ekaristi, Mario secara khusus mempersembahkan satu sajak untuknya. Kelak setelah tamat dari seminari, sehari setelah ulang tahunnya yang keduapuluh, 19 Februari 2011, di salah satu ruang kelas Seminari Tinggi St. Mikhael, bersama Romo yang dia hormati itulah — juga beberapa adik dan kakak angkatannya serta sejumlah penulis lain di Kupang — Mario mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Dusun singkatan dari “dunia sunyi”. Flobamora merujuk nama-nama pulau besar di Nusa Tenggara Timur: Flores, Sumba, Timor, dan Alor. Komunitas itu rutin menerbitkan Jurnal Sastra Santarang — singkatan dari “sabana, lontar, karang” (menggambarkan alam NTT) — dan, sejak Mei 2012 hingga Oktober 2015, sudah merilis 42 edisi. Mario adalah pemimpin redaksinya.


PELAJARAN lain dari kurikulum seminari, seperti Bahasa Latin dan Kitab Suci, turut memberi andil pada kecintaan para seminaris terhadap sastra. Dalam mengajarkan kitab suci, romo atau biarawan yang mengasuh pelajaran tersebut sering memberikan kemungkinan-kemungkinan tafsir terhadap kitab yang diajarkan, tekstual maupun kontekstual.

Melalui pelajaran bahasa Latin, para seminaris mengenal kisah-kisah klasik, termasuk nama-nama seperti Vergilius, Horatius, Julius Caesar, dan Juvenalis. Seminaris yang lebih serius dan rajin bisa mempelajari sendiri puisi-puisi Latin beserta metrum-metrumnya secara mendalam pada jam-jam di asrama.

“Saya tidak setekun itu. Saya baru serius mempelajari puisi-puisi semacam itu setelah tamat berbekal kemampuan bahasa Latin yang saya peroleh di seminari.”

Tetapi Mario banyak berlatih menulis puisi, terutama dengan cara meniru gaya para penyair yang ditemukan di perpustakaan dan dia suka karyanya. Dia menulis puisi ketika di dalam kelas pada studi sore sebab waktu studi selalu berarti silentium. Di luar itu, dia menulis di asrama, di kamar tidurnya, ketika teman-temannya terlelap. Juga kadang-kadang selepas kerja bakti sore menjelang petang.

Dia selalu menulis dengan pena di atas carikan kertas ketika di luar kelas dan di buku harian untuk waktu-waktu dalam kelas.

“Waktu itu, saya tidak peduli pada urusan-urusan pacaran. Sebab dari apa yang dialami teman-teman saya, urusan semacam itu kerap menjerumuskan mereka ke dalam masalah. Semua teman saya yang punya pacar membawa HP untuk tetap bisa menjalin komunikasi dengan pacar. Beberapa di antara mereka tertangkap pembina dan dikeluarkan dari sekolah maupun asrama.”


BARU-BARU ini, kata Mario, ada data yang dipaparkan oleh Yoseph Yapi Taum. Menurut penulis dan dosen sastra dari Universitas Sanata Darma Yogyakarta itu, 64% di antara orang-orang yang dia kenal menggeluti dunia sastra di NTT lahir dari (atau pernah bersentuhan dengan) dunia seminari. Dami N. Toda, Cyprian Bitin Berek, Leo Kleden, dan John Dami Mukese. Dua nama terakhir adalah pastor.

“Itu beberapa nama yang saya ingat dari generasi jauh sebelum saya. Ignas Kleden, meski tidak menulis puisi, juga berasal dari seminari. Generasi seangkatan dan setelah saya jauh lebih banyak. Jemmy Piran, Saddan HP, Ishack Sonlay, dan Januario Gonzaga untuk menyebut beberapa nama,” kata Mario.

Sebagaimana seminari lain, Sepoi sangat memperhatikan pelbagai hal mendasar yang dibutuhkan dalam pembinaan calon imam. Aspek-aspek mendasar itu terangkum dalam Lima S: Scientia (ilmu pengetahuan), Sanctitas (kekudusan), Sanitas (kesehatan), Sapientia (kebijaksanaan), dan Solidaritas (persaudaraan). Selain suasana dan bahan bacaan yang cukup, bagi para seminaris yang berminat mendalami sastra, termasuk puisi, kelima hal tersebut sangat mendukung.

“Para seminaris yang ingin pandai menulis puisi hanya perlu menambahkan kerja keras dan kemauan belajar.”

Mario melakukannya. Dalam catatan pengantarnya di buku Ekaristi, saat mulai menulis puisi di SMA, Mario sudah dengan sadar menggali kearifan-kearifan lokal dari kepercayaan kakeknya dan memadukannya dengan khazanah alkitab. Keduanya adalah bagian penting dirinya.

“Bagi orang yang masih belajar menulis puisi seperti saya, jauh lebih penting menggali apa yang saya pahami dan imani secara baik daripada menggantungkan harapan pada spekulasi-spekulasi yang tidak saya kenal.”

Dalam buku Lelaki Bukan Malaikat, Sapardi Djoko Damono menulis, “Mario Lawi dengan terampil telah memindahkan inti amanat Kitab Suci ke puisi dan menawarkannya kepada pembaca sebagai penghayatan dan pengalaman baru yang tidak lagi perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun.”

Namun, selain menjadi kekuatan, kentalnya khazanah biblis dan kearifan tradisi lokal pada sajak-sajaknya sekaligus merupakan pintu tertutup bagi sebagian orang.

“Terserah pembaca. Tapi biblis adalah kata sifat yang lebih baik daripada religius, jika mengacu kepada puisi-puisi saya. Setidaknya ada bagian-bagian yang mereka bisa identifikasi.”


SETELAH dua atau tiga tahun menjalani pendidikan di seminari, para siswa umumnya memutuskan kongregasi atau ordo biara mana yang hendak mereka pilih sebagai jalan melanjutkan panggilan iman. Sebagian besar seminaris memilih menjadi imam diosesan, imam keuskupan. Beberapa yang lain, termasuk Mario, memilih salah satu kongregasi di luar imam diosesan, yakni SVD (dari bahasa Latin: Societas Verbi Divini) atau Serikat Sabda Allah. Di NTT, kongregasi ini terkenal memiliki wilayah misi hampir di seluruh dunia.

“Saya memilih SVD dengan satu motivasi tambahan. Saya tidak ingin hanya melayani orang-orang di sekitar keuskupan saya.”

Untuk bisa masuk kongregasi tersebut, Mario bersama lima seminaris lain di angkatannya harus mengirimkan lamaran, mengukur jubah, mengikuti tes kepintaran, juga pemeriksaan kesehatan.

Mario tidak lulus tes terakhir itu. Dia mengidap Hepatitis B.

“Saya sedih mengetahui hal tersebut, tapi saya lebih sedih harus meninggalkan seminari. Saya harus meninggalkan teman-teman saya dan semua orang yang baik kepada saya. Pada acara perpisahan dengan adik-adik angkatan, beberapa di antara mereka dan kami menangis.”

Hari ketika meninggalkan seminari adalah hari yang lebih menyedihkan bagi Mario — berkebalikan dengan Minggu sore yang terang ketika kali pertama dia datang ke tempat itu. Teman-temannya tahu bahwa mereka mesti bersiap-siap untuk lanjut ke Seminari Tinggi. Mario tahu bahwa perjalanannya tidak bisa dilanjutkan karena dia sakit.

Romo kepala sekolah dan salah satu pastor SVD di seminari memintanya untuk berusaha mencari pengobatan. Mereka masih berharap Mario bisa melanjutkan cita-citanya. Dia menurut.

“Saya beristirahat setahun dan mencoba segala macam pengobatan. Hepatitis saya tidak sembuh. Suatu hari, akhirnya, saya memutuskan untuk melupakan seminari tinggi dan kongregasi SVD.”

Hari itu, dia memutuskan mendaftar studi komunikasi di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Di sanalah Mario kemudian menempuh pendidikan tingginya hingga sarjana.

Lima tahun setelah meninggalkan seminari, dalam salah satu bukunya, Mario F. Lawi mengatakan, “Menulis puisi, sebagaimana juga beribadah di Gereja, semoga dapat menjadi bagian dari cara saya untuk menghidupi apa yang saya imani. Sebagaimana Kakek saya menghayati Jingitiu yang ia imani. Sebagaimana Ibu saya menghayati Katolik yang ia imani.”

Dalam diri penyair itu ada seorang yang terus berusaha menjadi imam. Puisi-puisi terus mengalir deras darinya seperti mata air yang memancar.[]

________

Tulisan di atas pertama dimuat di www.pindai.org pada 19 Oktober 2015.