Meletakkan Kata Kerja di Depan Waktu

And I will not alone while my love is near me… I know it will be so until it’s time to go… Saya mendengarnya di radio beberapa jam lalu dan suara Eva Cassidy masih melengket di kuping saya dan… oh, baiklah, saya punya cerita: ada pria, sopir taksi, sangat menyukai lagu Sandy Denny yang mula-mula dipopulerkan Judy Collins itu. Dia, ketika tidak bersama orang lain, dan dia sering sekali hanya ditemani Waktu, dengan suara pecah, selalu menyanyikannya — terutama bagian ini: For who knows where the time goes? Who knows where the time goes? Dia pertama kali mendengar lagu itu melalui suara Kate Rusby.

Sopir taksi itu dan Waktu hidup dalam sebuah novel dan novel itu sudah ditulis ulang dan ditulis ulang dan ditulis ulang dan ditulis ulang dan, entah mengapa, belum menampakkan tanda-tanda akan selesai. Tetapi, pria itu selalu berkata — lebih sering demi menghibur diri sendiri: “Pada akhirnya kau akan paham, jika kau punya cukup waktu untuk menunggu.”

Dua paragraf basa-basi di atas sesungguhnya bisa diabaikan, tidak perlu ada, dan kita mulai dari daftar ini:
memakan waktu,
menghemat waktu,
membuang-buang waktu,
mengurangi waktu,
menambah waktu,
memperpendek waktu,
menyingkat waktu,
memperpanjang waktu,
mengulur waktu,
menghitung waktu,
mengosongkan waktu,
menghabiskan waktu.

Daftar itu masih bisa lebih panjang, karena — hahaha! — tidak banyak kenikmatan, bagi saya, di tengah situasi tertekan dan cemas berkepanjangan harus merampungkan novel, yang melampaui kenikmatan menyusun daftar:
melawan waktu,
meluangkan waktu,
membuat waktu,
mengambil waktu,
menyia-nyiakan waktu,
mengambil waktu,
menyediakan waktu,
membagi waktu,
mengatur waktu.

Orang yang senang bermain-main dengan daftar, tentu gampang membuatnya lebih panjang lagi — tetapi, bagi yang tidak suka, bersabar dan lanjutlah membaca sebab, kata orang-orang bijak, waktu murah hati bagi mereka yang bersabar:
menentukan waktu,
mengumpulkan waktu,
menikmati waktu,
melapangkan waktu,
memperkirakan waktu,
meningkatkan waktu,
meminimalisir waktu,
memaksimalkan waktu,
mengefisienkan waktu,
mengefektifkan waktu,
menyambung waktu,
menyiasati waktu,
mengejar waktu,
memperlambat waktu,
mempercepat waktu.

Percayalah, saya masih bisa menambahkan puluhan hal serupa demi memperpanjang daftar di atas — barangkali sebagian pembaca sedang mencoba melakukannya. Tetapi, sebelumnya, mari kita sejenak jeda dan bertanya: Mengapa orang Indonesia tampaknya memiliki waktu begitu melimpah sehingga senang sekali meletakkan beragam kata kerja di depan waktu?

Coba perhatikan:
menghentikan waktu,
mengenal waktu,
melipatgandakan waktu,
mengakali waktu,
menyusun waktu,
merangkai waktu,
melumpuhkan waktu,
menjalani waktu,
melampaui waktu,
mengendalikan waktu,
mengembalikan waktu,
memperhatikan waktu,
memikirkan waktu,
melewati waktu,
mengalokasikan waktu,
membentangkan waktu,
mengamati waktu,
mengulang waktu,
mengakumulasikan waktu,
menembus waktu.

Apa yang sesungguhnya kita pikirkan ketika mengatakan: 
menemukan waktu,
memainkan waktu,
memasang waktu,
menggunakan waktu,
memaksakan waktu,
memisahkan waktu,
mengganti waktu,
menukar waktu,
menyelesaikan waktu,
merampungkan waktu,
mencari waktu,
mencuri waktu,
mengontrol waktu,
mengamankan waktu,
menyelamatkan waktu,
mengubah waktu,
merampas waktu,
menunda waktu,
menyelami waktu,
mengatasi waktu?

Betulkah kita betul-betul menikmati waktu saat kita mengatakan menikmati waktu? Sungguhkah kita memiliki kesanggupan untuk menaklukkan waktu dan membunuh waktu? Atau, kita sedang ingin menunjukkan bahwa kita menguasai waktu?

Jawabannya, saya kira, jelas: Tidak!

Nina Simone bilang — setelah mengatakannya, dia menyanyikan lagu Sandy Denny yang disuka oleh sopir taksi yang saya ceritakan di awal tulisan ini: And time is a dictator, as we know it. Where does it go? What does it do? Most of all, is it alive? Is it a thing that we cannot touch and is it alive? And then, one day, you look in the mirror — you’re old — and you say, “Where does the time go?”

Dan, tidak lengkap rasanya bicara soal waktu tanpa menyebut Albert Einstein. Seperti sering dikutip, Einstein menyebut waktu adalah sebuah ilusi.

Atau, kita bisa meminjam kata-kata Dion Boucicault: “Manusia bicara tentang membunuh waktu, sementara waktu diam-diam membunuh mereka.”

Tetapi, apabila kita bertanya kepada sopir taksi penghuni novel yang tidak kelar-kelar itu, dia pasti akan bilang: “Tidak ada alasan lain orang Indonesia senang menambahkan kata kerja di depan waktu, mereka sadari atau pura-pura tidak sadari, selain untuk menutupi kerapuhan mereka di hadapan Waktu. Intinya, merayakan Valentine’s Day bukan budaya kita, budaya kita adalah menutupi kelemahan diri dengan segala cara agar bisa tampak lebih superior. Keahlian terbaik kita, yang sudah kita pelajari berabad-abad, adalah menipu diri sendiri.”

Jika tidak tega menyebutnya ‘menipu diri sendiri’, mungkin baik mengingat potongan sajak Chairil Anwar: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Tidakkah Chairil mengatakan itu justru karena sadar betul dia tidak bisa hidup seribu tahun lagi, bahwa usianya akan sangat singkat?

Alinea ini sesungguhnya tidak perlu ada, tetapi ada cerita lain melintas di benak saya. Ceritanya seperti ini: ada orang lain senang membuat daftar, meskipun menyukai lagu berbeda, dan hidup di novel berbeda. Dia senang membuat daftar, semacam kamus, berisi semua kata dan ungkapan yang kerap digunakan para pria untuk merendahkan dan melecehkan Perempuan.

Dan, di akhir daftar, dia mengatakan: “Alasan paling dasar laki-laki melakukannya tidak lain untuk menutupi fakta bahwa mereka terlalu lemah untuk bisa menerima kelemahan mereka.”