Photo by Aaron Burden

Mengajar Orang Dewasa

Bayangkan: Anda berada di antara ratusan atau ribuan orang dewasa lainnya sedang duduk di satu ruangan mendengarkan pidato berikut ini.


Saya ingin memulai pidato dengan satu pertanyaan. Kapan terakhir kali Anda dianggap kekanak-kanakan? Buat saya, disebut kekanak-kanakan merupakan hal yang lumrah. Setiap kali mengatakan hal yang tak masuk akal atau menunjukkan laku tak bertanggung jawab, saya dianggap kekanak-kanakan.

Coba ingat pelajaran sejarah Anda; perbudakan, penjajahan, konflik antar suku dan agama, penyingkiran orang-orang dengan kepercayaan tertentu, Orde Baru, atau Soeharto. Tanyalah diri Anda: Siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Jawabannya, tentu saja, orang-orang dewasa.

Apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak? Banyak. Tetapi, semoga Anda ingat dua contoh berikut. Anne Frank menyentuh hati jutaan orang di dunia melalui catatan hariannya perihal salah satu peristiwa paling mengerikan sepanjang sejarah manusia. Ruby Bridges membantu mengakhiri pemisahan menurut warna kulit di Amerika Serikat.

Sifat kekanak-kanakan sama sekali tak berhubungan dengan usia seseorang. Sifat kekanak-kanakan seringkali merupakan penghuni tetap diri orang dewasa. Jadi, sebaiknya kita mulai melupakan kata yang mendiskriminasi umur dan melekatkannya pada tindakan tak bertanggung jawab dan pola pikir tak masuk akal.

Lagi pula, siapa yang bisa membuktikan bahwa pola pikir irasional tertentu bukan sesuatu yang malah dibutuhkan dunia saat ini? Dulu, barangkali, Anda punya rencana dan mimpi-mimpi yang hebat, tapi menguburnya karena berpikir mustahil terwujud atau biayanya terlalu tinggi atau tidak menguntungkan. Anak-anak jarang terhambat pikiran-pikiran semacam itu.

Anak-anak dipenuhi keinginan, misalnya, melihat tak ada lagi perang dan orang mati kelaparan di dunia.

Berapa dari Anda yang masih memimpikan dan percaya pada kemungkinan semacam itu?

Barangkali pengetahuan perihal sejarah dan masa lalu yang memicu kegagalan datang dari prinsip bahwa jika semua hal gratis, persediaan makanan akan menjadi langka dan berujung pada kekacauan. Di pihak lain, anak-anak masih terus membayangkan kesempurnaan — dan itu hal yang baik, karena kita harus menggunakan imajinasi sebelum mengubah sesuatu menjadi nyata.

Tersedia bukti-bukti yang menunjukkan bahwa keberanian berimajinasi telah merobohkan banyak sekat ketidakmungkinan. Banyak seniman mengakui karya-karya terbaik mereka justru datang dari ide anak kecil.

Di sekolah dan rumah, atau di manapun, anak-anak belajar banyak dari orang dewasa. Orang dewasa sebaiknya juga mulai belajar dari anak-anak. Di depan kelas, para guru sudah terlalu banyak memerintahkan murid-murid mereka untuk melakukan ini dan itu. Proses belajar antara orang dewasa dan anak-anak seharusnya berlangsung dua arah, timbal-balik. Kenyataannya, sayang sekali, tidak seperti itu. Orang dewasa umumnya tak percaya kepada anak-anak.

Jika Anda tak percaya kepada seseorang, Anda akan memberi batasan kepada mereka. Itulah yang dilakukan orang dewasa yang tak percaya kepada anak-anak; membuat banyak aturan dan batasan.

Sejarah telah membuktikan, pada rezim-rezim tertentu, sejumlah orang terus menjadi penindas karena mereka takut melepaskan kekuasaan dan tidak percaya kepada orang lain. Dalam skala lebih kecil, setiap orang dewasa adalah pemegang rezim semacam itu. Anak-anak nyaris tak punya kekuasaan untuk membuat aturan.

Anak-anak akan tumbuh dewasa seperti Anda. Tak persis seperti Anda, sebetulnya. Orang dewasa yang baik tak akan mengubah anak-anak menjadi orang dewasa seperti mereka, tapi mengubah anak-anak menjadi orang dewasa yang lebih baik daripada mereka. Kemajuan hanya dimungkinkan jika satu generasi lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Penting sekali bagi Anda menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh lebih menakjubkan daripada Anda. Orang dewasa harus menyiapkan diri sejak sekarang, karena anak-anak adalah pemimpin masa depan. Anak-anak sekarang yang akan merawat Anda, ketika tiba saatnya Anda menjadi pikun. Ini persoalan serius. Jika Anda berpikir hal itu kurang ajar, ingat bahwa ilmu pengetahuan sudah lama menemukan hal yang disebut kloning. Bayangkanlah apa yang mungkin terjadi.


Media, akhir-akhir ini, memuat banyak tulisan mengenai kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. Anda akan membaca kritikan-kritikan dari orang-orang dewasa perihal betapa buruknya pendidikan di negeri ini yang, jika mau jujur, disebabkan juga oleh orang-orang dewasa.

Satu persoalan besar negeri ini adalah pemimpinnya. Kita harus mendidik para pemimpin. Jika saya menyebut pemimpin, maka yang saya maksud bukan cuma pemimpin politik, tapi semua orang yang memiliki kekuasaan. Guru, polisi, dokter, hakim dan pengacara, pegawai negeri, penulis, para orang tua, para akktivis, mahasiswa, dan orang dewasa lainnya seperti Anda — dan saya. Kita adalah pemimpin.

Jujur mengakui kesalahan adalah satu hal yang harus dipelajari para pemimpin negeri ini dari anak-anak. Sesuatu yang sungguh sederhana, tapi kian susah dilakukan oleh orang dewasa.

Korupsi, jika mau melihat contoh, salah satu akarnya tertancap kuat di sana, di keengganan mengakui kesalahan. Orang-orang dewasa seringkali adalah orang-orang yang paling pengecut.

Sebelum menutup tulisan ini, saya harus mengakui bahwa pidato di atas saya ambil (dan ubah semaunya) dari pidato seorang anak bernama Adora Svitak ketika berbicara pada satu kesempatan di depan ratusan orang dewasa di Amerika ketika berusia 12 tahun.


(Tambahan: beberapa jam lalu, saya mencari nama saya melalui mesin pencari yang, menurut penyedianya, ramah dan aman buat anak-anak. Namanya www.kiddle.com. Semacam Google khusus untuk anak-anak. Anda sudah tahu tempat itu, kan? Intinya: saya bahagia, karena 1) Kiddle tidak menemukan Aan Mansyur sama sekali. Mereka tahu, sebagai orang dewasa, saya berbahaya bagi anak-anak. Dan, tentu saja, 2) hasil pencarian Kiddle membuat saya kian yakin untuk tidak menikah dan memiliki anak dalam waktu dekat.)