Photo by Mari Pi

Pensil Berpenghapus dan Bunga Matahari


— Kepada Kota di Mana Aku Menulis Surat Ini

HARI ini, 30 Maret 2010, langit tampak baik-baik saja. Matanya teduh seolah tak ada yang perlu dia tangisi. Ah, sungguh, ini hari baik buat menyatakan cinta. Hari baik buat merayakan cinta. Karena itu, aku menulis surat cinta ini kepadamu.

Awalnya aku ingin menulis surat cinta ini dengan pensil. Jika kau tak menyukainya, kau bisa dengan mudah menghapus kata-katanya. Aku urung melakukannya. Aku yakin kau tak tega menghapus pernyataan cintaku.

Aku ingin menceritakan satu perihal sederhana dan luar biasa. Sederhana dan luar biasa. Tahukah kau bahwa tanggal 30 Maret 1858 seorang bernama Hyman Lipman mematenkan penemuannya yang sederhana dan luar biasa? Lipman mematenkan pensil yang dilengkapi penghapus.

Bayangkanlah dunia tanpa pensil!

Tanpa pensil mungkin kita tak punya masa kecil yang indah dengan lukisan-lukisan seperti mimpi. Tanpa pensil mungkin kita juga tak akan punya masa depan.

Sekarang, bayangkan pensil tanpa penghapus!

Pensil tanpa penghapus seperti kesalahan tanpa maaf, bukan? Itulah kenapa aku menyebut penemuan Lipman sesuatu yang sederhana dan luar biasa.

Pensil pula yang membuat Vincent Willem van Gogh jadi terkenal. Kau tahu, tentu saja, siapa Vincent van Gogh. Ia penderita epilepsi yang pernah memotong telinganya sendiri. Ia menganggap dirinya gila dan menghabiskan sisa usia di rumah sakit jiwa. Ia seorang pria yang gemar melukis bunga-bunga.

Ia pelukis yang sangat terkenal. Salah satu lukisannya, Bunga Matahari, terjual dengan harga US$39,85 juta. Harga yang sungguh mahal untuk satu lukisan. Meskipun mungkin tak ada apa-apanya dibandingkan dengan uang rakyat yang dikorupsi segelintir orang di negara kita atau mungkin di kota kita ini. Lukisan itu laku pada 1987, pada 30 Maret. Andai Gogh masih hidup pada hari itu, ia tepat berusia 134 tahun. Gogh lahir pada 30 Maret.

Aku hampir lupa, sebenarnya selain menulis surat, aku ingin menyatakan cinta dengan bunga. Tapi, ah, sungguh klise! Anak-anak muda di kota ini benci menyatakan cinta dengan bunga. Mereka lebih senang menyatakan cinta dengan batu. Mereka lebih senang melihat darah daripada wajah bersemu merah karena cinta. Karena itu, mereka sering hadir di layar kaca. Orang-orang menonton mereka dengan perasaan ngeri. Mereka, para penonton itu terus bertanya: “Mengapa mereka menyatakan cinta dengan kemarahan?”

Tentu tidak adil semata menyalahkan mereka. Sebab batu-batu yang terlontar itu tentu ada penyebabnya. Mungkin aku salah seorang penyebab kemarahan mereka. Banyak orang tak mau bersusah-payah mencari penyebab mengapa batu-batu itu terlontar. Orang-orang yang terjebak macet sungguh sudah merasakan hidup sehari-hari yang susah. Maka pertanyaan mereka terus saja tumbuh di kepala mereka. Kenapa anak-anak muda itu suka marah? Kenapa mereka lebih suka merah darah daripada merah cinta? Kenapa?

Bicara soal darah, saya ingat film Usmar Ismail, Darah dan Doa. Film itu dianggap film pertama berciri Indonesia. Film pertama yang disutradarai orang Indonesia asli dan diproduksi perusahaan film milik orang Indonesia. Film itu dibuat pada 1950, lima tahun setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan. Pengambilan gambar pertama dilakukan pada 30 Maret. Pemerintah kemudian menjadikan tanggal bersejarah itu sebagai peringatan Hari Perfilman Nasional.

Hari ini, kita merayakan Hari Perfilman Nasional.

*

AKU ingin kau mengingat hari ini. Meski aku tahu mengingat satu hari di antara banyak hari lain bukan pekerjaan mudah. Agar kau semakin mudah mengingatnya, aku ingin mengajakmu menonton satu film. Aku ingin melengkapi pernyataan cintaku dengan film.

Film ini dibuat sejumlah anak muda yang resah melihat kota mereka. Sejumlah anak muda yang datang dari latar belakang pendidikan dan disiplin ilmu bermacam-macam. Mereka datang dari kampus berbeda-beda, dari kampus-kampus yang sebagian mahasiswanya senang saling melempar batu. Mereka bekerja selama 5 bulan membuat film ini. Mereka bekerja sama dengan mesra, meskipun usia mereka terpaut angka-angka berbeda. Mereka bekerja dan belajar bersama, meskipun mereka datang dari latar belakang ekonomi dan keluarga beragam. Ada dua hal yang menyatukan mereka: mereka menyukai film dan mencintai kotanya.

Mereka telah menghasilkan banyak film. Sebagian di antaranya mendapat apresiasi luas. Beberapa karya mereka memenangkan penghargaan di berbagai kota, meskipun kabar perihal itu lebih sering ditenggelamkan kabar demonstrasi mahasiswa yang ricuh, pejabat-pejabat yang korupsi, ponsel atau barang impor lain merek terbaru, dan gosip-gosip murahan para selebritas.

Kali ini, aku ingin mengajakmu menonton film terbaru mereka: Aliguka. Tema besar film ini adalah korupsi. Kau tentu tahu, beberapa hari lalu diumumkan sekali lagi negara kita meraih prestasi sebagai negara paling korup di Asia-Asifik. Beberapa bulan lalu provinsi kita juga disebut sebagai provinsi terkorup di Indonesia. Ah, sungguh prestasi memalukan! Itulah mengapa anak-anak muda ini membuat film tentang korupsi.

Mungkin film mereka sederhana saja. Tapi, seperti pensil berpenghapus yang dipatenkan Lipman, hal-hal luar biasa justru muncul dari hal-hal sederhana.

Anak-anak muda yang kuceritakan ini berkumpul dalam forum yang mereka sebut For Film atau Forum Film Makassar. Kau tahu, hari ini sebenarnya mereka juga merayakan ulang tahunnya yang pertama. For Film itu didirikan pada 30 Maret 2009. Mereka merayakan ulang tahun sekaligus merayakan Hari Perfilman Nasional — dan mempersembahkan kado sebuah film.

Aliguka.

Dengan film-film yang telah dan kelak mereka buat, mereka berharap menjadi pensil untuk menulis semakin banyak surat cinta, sekaligus berharap jadi penghapus bagi pensil-pensil yang salah tulis.

Melalui karya, mereka berharap jadi bunga matahari, seperti yang ada di lukisan Gogh. Kau tahu bunga matahari adalah bunga istimewa. Cuma bunga matahari yang mampu terus-menerus menantang matahari. Itu sebabnya ia dinamakan bunga matahari. Bunga matahari bisa tumbuh di mana saja karena bisa bertahan pada segala iklim. Bukan itu saja. Kuaci dan minyak yang dihasilkan biji-bijinya mengandung banyak vitamin, mineral, dan zat-zat lain yang baik bagi tubuh.

Akar, daun, dan bunganya juga mengandung bahan-bahan kimia yang bisa digunakan sebagai bahan kosmetik dan obat-obatan. Bagi bangsa Aztec, minyak dari biji bunga matahari penting sekali artinya. Konon, jika ada yang terluka ketika berperang, mereka menggunakan minyak itu sebagai obatnya.

Dengan menjadi bunga matahari, anak-anak muda di For Film berharap bisa menyembuhkan luka-luka di kota ini. Entah luka akibat tawuran, penggusuran, atau perang-perang lainnya.

For Film memang kecil dan masih bayi. Tapi, lihat biji bunga matahari, meskipun kecil, ada banyak hal berguna yang dikandungnya. Aku tahu di kota ini ada banyak biji bunga matahari siap tumbuh jadi bunga yang indah, berguna dan setia menantang matahari.

*

HARI ini, 30 Maret 2010, langit tampak baik-baik saja. Ini betul-betul hari baik buat menyatakan cinta. Hari baik buat merayakan cinta. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu.

Sungguh!

Makassar, 2010

Like what you read? Give M Aan Mansyur a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.