Photo by Harman Abiwardani

Percakapan Singkat di Telepon dan Jeda Panjang yang Lengang


“Tell me, what else should I have done?
Doesn’t everything die at last, and too soon?
Tell me, what is it you plan to do
With your one wild and precious life?”

Mary Oliver



MELALUI telepon, seminggu yang lalu, kami berbincang. Saling bertanya kabar. Singkat.

Dia sering menelpon untuk mengetahui apakah saya sehat-sehat saja, bahkan saat dia masih sangat sibuk dan tinggal di kota lain. Meskipun dia punya beberapa akun media sosial, jika tidak sempat bertemu, kami selalu berbincang melalui telepon — dan sesekali melalui layanan pesan pendek.

“Saya takut, Kak Aan,” katanya ketika saya menanyakan kabarnya. “Saya takut meninggalkan orang tua saya.”

Tidak biasa dia berkata seperti itu. Dia jarang bicara perkara seserius itu di telepon. Dia lebih senang membicarakan hal-hal ringan dan lucu. Dia kerap bertanya, misalnya, apakah saya sudah punya pacar atau belum — dan, tentu saja, saya melulu menjawab belum. Dia akan menyebut satu atau dua nama perempuan; biasanya teman-teman dekatnya. Siapa tahu saya tertarik, katanya. Selebihnya, dia akan menasehati saya supaya rajin minum air putih.

Entah kenapa, dengan sok bijak, saya bilang, ”Kehilangan punya pelajarannya sendiri. Orang yang ditinggalkan seharusnya berterima kasih kepada orang yang pergi dan tidak pernah kembali. Setidaknya, dia tidak akan kehilangan sekali lagi.”

Dia diam.

Saya diam dan merasa bersalah telah mengatakan kalimat seperti itu.


DIA, selama hampir dua tahun terakhir, harus bolak-balik ke rumah sakit paling tidak dua kali seminggu untuk cuci darah. Ada semacam mesin mungil di lengan kirinya untuk mempermudah proses itu.

Setiap kali kami bertemu, dia meminta saya menyentuh lengannya yang bergetar aneh. Dan sambil tertawa — dia senang sekali tertawa — dia akan menceritakan perasaan geli yang menjalar di tubuhnya selama berhari-hari setelah benda itu ditanam di lengannya.

Karena racun yang menyebar di tubuhnya, penglihatannya pernah hanya berjarak tidak lebih satu meter. Kendati begitu, dia masih sempat mengantar makanan ke tempat saya. Selama dua tahun terakhir, dia tinggal hanya beberapa rumah dari tempat saya tinggal; tidak jauh dari rumah sakit.

Dia masih menciptakan beberapa lagu selama menjalani pengobatan. Dia membeli sejumlah alat musik baru — dan, awal tahun lalu, dia tampil di ruang baca kami. Dia menyanyikan beberapa lagu untuk merayakan ulang tahun saya.

Dokumentasi Katakerja: Menyimak #10, Januari 2015

Selain sahabat yang ramah, dia seorang pemain musik dan penyanyi yang baik. Suara dan petikan gitarnya bisa dinikmati dengan mengklik video di awal catatan ini. Lagu itu salah satu pekerjaan yang kami lakukan bersama. Liriknya diambil dari puisi saya: Hukum Kekekalan Tawa.

sejak mula hadir di dunia
lalu mampir dari bibir ke bibir
tawa tak pernah bertambah
besar, tak pernah bertumbuh
subur, tak pernah berkurang
dan tak pernah berkembang.
jika di sepasang bibir ada
tawa yang sedang pecah
di sepasang bibir lain tiada
tawa yang merekah.
begitulah tawa lahir
dan hidup menyandang takdir.
seperti kini, di kejauhan sana
saat kau tertawa bahagia
bibirku yang tawar tanpa tawa
menjadi asin oleh airmata.

SAYA masih ingat jeda yang terasa panjang di sela percakapan singkat kami di telepon minggu lalu. Percakapan terakhir kami. Jeda itu seperti lubang besar yang menghendaki dirinya tidak diisi apa pun. Seperti ruang lengang yang akan terus menggaungkan kekosongannya sendiri.

“Terima kasih, Kak Aan,” katanya sebelum akhirnya menutup telepon. “Jangan lupa rajin-rajin minum air putih.”

Di sebuah kamar, beberapa jam yang lalu, saya melihat ibunya menangis. Kakak-kakak dan sejumlah temannya ada di situ. Mereka juga menangis.

Dia berbaring dengan tenang. Amat tenang.

Saya menyentuh lengannya. Dingin dan tidak lagi bergetar.


Selamat jalan dan terima kasih, Iip! Di depan saya sekarang, kau tahu, ada satu botol air mineral berukuran 1500 ml. Terima kasih


“O how shall I warble myself for the dead one there I loved? And how shall I deck my song for the large sweet soul that has gone?”

Walt Whitman

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.