Sebelum Sendiri

— sebuah buku puisi


(Bulan ini fragmen-fragmen berikut akan terbit dalam buku puisi Sebelum Sendiri atas kerja sama dengan Jual Buku Sastra. Sebagian besar sajak dalam buku ini ditulis antara tahun 2009 hingga 2010. Buat yang berminat memiliki, bisa memesannya via toko-toko buku online kesayangan anda. Sebelum Sendiri hanya akan beredar melalui toko-toko buku online dan toko buku komunitas.)


3.

diriku, di antara segala yang tidak kupahami,
terlalu cepat kupelajari dan terlampau lambat
kumengerti. dan kau

di kejauhan, ada seseorang di dalammu
melarang mengasihi diri lain. masa lampau
yang membuat kopi pagi tidak butuh
gula dan kawan bicara.

aku menulis berjuta-juta kata tapi
tiap kata lupa dari mana dan untuk siapa
ia tiba. aku mencintai segala yang tidak
memaksa aku mengingat kau. tapi

tidak ada yang jauh. hanya
jarak — dan jendela di kepala
yang terkunci. tapi

tanpa jarak, puisi adalah api — 
kata-kata kayu bakar semata. tapi

kau tidak perlu menyentuhnya. tapi
aku ingin mengajak kau membaca
dan berbahagia dan terbuka
dan terluka. tapi

aku percaya tiap manusia
cuma pemeluk sangsi
masing-masing


6.

perihal paling indah dari langit
dan langit-langit: tidak pernah
menjawab ketika kau bertanya.

mereka menginginkan kau
meragukan keyakinan
selamanya.

orang butuh, kata orang, lebih
sering sendiri untuk jujur.

aku mencintai dengan pikiran
dan perasaan yang tidak mampu
kuubah jadi kata-kata. apakah diam
adalah dusta?
tetapi

kekasih dan puisi sama belaka:
tempat sembunyi. kata dan makna
saling menghindari

agar bisa mencintai dan memberi
rasa aman bersamaan


8.

pikiran terbuka bertanya,
kata buku. (pikiran tertutup
menjawab)

namun segala telah jadi jawaban
dan tidak ada seorang pun tabah
menantikan pertanyaan. semua

orang mengungsi dari perang
yang berkecamuk dalam diri
mereka. kita tidak menemukan

apa pun selain keindahan lama — 
anak-anak muda dalam jebakan
foto-foto tua atau rumah masa
kecil dalam mimpi orang-orang
yang tidak pernah tidur.

di puisi ini hanya ada satu kota
terbuat dari lelehan kaca. kau
bisa menyaksikan masa lalu
mencair jadi tiada dan masa kini
tidak sanggup ditangkap. jauh

di tengah-tengah ada taman;
pohon-pohon belajar tumbuh — 
dan karena itu burung-burung
kecil dalam dirimu berharap
mengepakkan jutaan sayap

dan semua orang tidak juga
menemukan wajah mereka — 
kita takut kembali jadi diri
sendiri


9.

warna favoritku: menutup mata
dan menatap wajahmu. aku temukan

kata-kata yang siap tumbuh lagi.
tapi menulis puisi ialah melupakan
dan meluapkan ingatan.

sejak itu hari selalu terbaca
sebagai buku yang seluruh berisi
catatan penutup yang panjang.

kadang-kadang datang
seorang menghibur: tidak ada
permukaan indah tanpa kesedihan
di dasarnya.

dan aku mendambakan
sebaliknya.


11.

tidak ada yang pernah sungguh sanggup
meninggalkan orang yang ia cintai. kau
selalu bebas untuk pergi dan sebab itu
kau memilih tidak ke mana-mana. kita

jadi kekosongan dalam diri orang lain
dan tidak ada yang tahu cara mengisinya
kembali. aku tahu

warna harapan. seperti matamu ketika kau
putus asa tidak bisa menahan aku pergi. tapi

kau tahu, setiap orang keluar dari rumah
sebagai pemancing dan pulang membawa
diri baru yang mudah terpancing.

tidak ada kejujuran. orang-orang tidak suka
kebenaran. mereka lebih senang jatuh cinta
kepada hal-hal ringan dan mudah terbakar.

kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan
kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku

merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh


12.

kenangan dan harapan, kata satu
penyair, dua negara yang tidak ada
di peta. kubawa keduanya ke mana-mana —

dan ingatan: paspor yang selalu minta
diperbarui.

dalam diriku: membentang jarak kedua
negara itu. dari sana hidup melimpahkan
sepi. di puisi ini kusimpan separuh untukmu
sebagai langit yang tidak tahu berubah warna
atau jendela atau buku cerita yang menghapus
kata-kata sendiri atau rumah tanpa penghuni.
kelak kau menginginkan

sepi melebihi apa pun, ketika tidak mampu
kautemukan dirimu di mana-mana. dan akan

kau paham hidup adalah upaya menerima
ketidaksanggupan dan menolak keinginan — 
supaya langit atau jendela buku rumah itu
melumpuhkan kau dengan sepi yang lebih
berat daripada ketanpaan


14.

kematian berseru
kepadamu: jangan
berhenti. tetapi

kau tahu kau tidak
memiliki tujuan
dan tempat
kembali

kehidupan meminta
kepadaku: buka kedua
tanganmu. tetapi

aku takut aku tidak
menggenggam
apa-apa.