Photo by Jeremy Ricketts

Seorang Perempuan Sedang Mendaki ke Pikiranmu


Ada banyak kata di belantara sajak ini yang terbakar sebelum sempat kau baca sambil memikirkan tempat dan perihal lain.

*

Dia ingin jadi hanya dan cukup. Setiap yang dia cari, setiap yang kau curi. Bicara adalah puasa. Diam adalah melahap lapar yang lebih besar.

Dua jam dari Jakarta — sebab waktu di arlojimu berpikir begitu, meski kau lebih suka terbang ke New York atau Singapura — ada perempuan sendiri mendaki tebing batu. Seorang pendeta berkali-kali mengatakan kepadanya, “Di puncak ada pintu terbuka dan buah-buahan berlimpah di meja makan.”

Sepanjang perjalanan dia melihat hal-hal biasa yang tidak perlu dituliskan dalam puisi. Berita juga tidak berisi hal-hal semacam itu. Seperti tanda titik di akhir kalimat ini yang menggelinding jatuh entah di mana

*

Tempat tidurnya meluap jadi samudra. Dia terjaga dan menemukan tubuhnya dermaga terakhir yang belum dirubuhkan orang asing. Separuh mimpinya telah berubah jadi daging — persis sisa-sisa makanan yang kau singkirkan dari sela-sela gigimu.

Masih jauh. Masih jauh. Masih jauh. Tapi tujuan sudah tertinggal ribuan kilometer di belakang.

Dia tiba juga di puncak dan tidak ada apa pun di sana selain rumah penuh hantu ribuan perempuan lain. Dia telah jadi salah satu di antara mereka sebelum puisi ini selesai dituliskan.

*

Kelak suatu hari — barangkali kau sedang duduk di depan jendela, jari-jarimu memeluk gelas berisi teh hangat beraroma Eropa — kau sadari pikiranmu tidak sanggup jadi apa-apa selain kota besar yang tidak berhenti dilalap api. Kau terperangkap tidak bisa lari dari sana.

Kau tiba-tiba melihat matanya. Kau ingat: dia ingin jadi hanya dan cukup.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.