Tiga Puisi Cinta untuk Seorang yang Pergi


Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang.

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung. Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa. Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri.

Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan kita?


Di Halaman Belakang Puisi Ini

Puisi adalah pesta. Seperti ulang tahun atau pernikahan, tetapi benci perayaan. Ada beranda di halaman belakang buat setiap tamu yang datang. Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri.

Aku mungkin tidak berada di sana — aku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan.

Aku mengundang kau juga. Datanglah. Masuklah. Tak ada kamera tersembunyi yang mengawasimu seperti di tiap sudut kota. Di puisiku hanya akan kau temukan tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia menciummu hingga kau lupa kau pernah merasa ditinggalkan.

Kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan.


Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.

*

Catatan:

Tiga puisi di atas adalah bagian dari buku puisi terbaru kami yang akan terbit bulan depan: Tidak Ada New York Hari Ini. Bayangkan puisi-puisi di atas ditulis oleh Rangga untuk Cinta — ketika menuliskannya, Anda tahu, saya membayangkannya begitu. Ketiga puisi di atas, meskipun berasal dari proyek yang sama, tidak akan muncul di film Ada Apa Dengan Cinta 2. Buku Tidak Ada New York Hari Ini berisi 31 judul puisi yang berangkat dari kisah cinta antara Rangga dan Cinta — beberapa di antaranya akan hadir dan menemui Anda melalui suara Rangga di film AADC2 yang akan mulai tayang 28 April 2016.

Like what you read? Give M Aan Mansyur a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.