i. Soal Ungkapan dan Diam

Beberapa hari lalu, penyair Asra menawarkan sebuah project penerjemahan satu teks Wittgenstein — Tractatus Logico-Philosophicus. Tidak banyak kutahu tentang teks ini maupun filsufnya.

Bahasan Tractatus dibahas dengan permulaan “The world is all that is the case. The world is the totality of facts, not of things.” Isi keseluruhannya apa? mungkin tentang menyoal pernyataan sebagai representasi dunia dan isinya, dalam pencarian kebenaran tentang sesuatu dalam wilayah-wilayah yang begitu jamak.

Perjumpaanku dengan judul teks ini yaitu sekitar tujuh bulan lalu dalam sebuah proses pembacaan lainnya, Less Than Nothing — Slavoj Zizek. Zizek mengutip Wittgenstein di bagian awal ‘Dring Before’ sebagai permulaan keseluruhan argumennya dalam membahas trauma. Aku belum tahu apakah Tractatus dipinjam Zizek secara utuh sebagai “entah apa” dalam bukunya, atau terbatas pada doktrin utamanya sebagai ungkapan yang dipotong untuk menjelaskan argumennya. Doktrin tersebut tertulis dalam ungkapan,

“What can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence.”

dimana Wittgenstein memberikan di pendahuluannya sebuah catatan bahwa keseluruhan maksud Tractatus dapat dirangkum dalam ungkapan tersebut.

Zizek memakai ungkapan tersebut, secara spesifik, untuk menjelaskan perihal penyampaian “kebenaran” dalam peristiwa-peristiwa sejarah, kejadian dalam kenyataan instan kita sehari-hari, yang traumatik. Penyampaian kebenaran menjadi perlu — disaat sepanjang pergulatan manusia dengan berbagai trauma yang pernah dialaminya — selalu menjadi masalah dalam upaya-upaya penyelesaian. Penyelesaian yang juga menuntut sebuah keputusan akhir, entah bagaimana bentuknya, juga sekaligus dan tak terhindarkan mengikutkan manusia-manusia dalam relasinya dalam pengalaman traumatik tersebut. Sehingga dalam setelah penyelesaian, manusia dapat bergulat lagi dengan persoalan lainnya yang menuntut penyelesaian.

Lebih spesifik, Zizek mempersoalkan masalah ‘penyebutan dan pembahasan’ trauma yang dipandang dapat membangkitkan trauma “korban” yang tentu membangkitkan pengalaman-pengalaman buruk mereka. Seperti sebuah pepatah lama, “Menabur garam pada luka”. Zizek membawa Auschwitz sebagai persoalan. Bahwa selama ini seni, puisi, dapat — dengan tanpa membuat sebuah penyebutan dan penjelasan — mengungkapkan persoalan yang kita inginkan perihal trauma. Hal tersebut tidak dapat dilakukan sebuah laporan, penyampaian gamblang berbagai fakta dalam artian niatan kita untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.

Puisi, prosa puitik, dapat melakukannya… Mungkinkah bahwa dalam usaha pengerjaan sebuah puisi, proses artikulasi penyair berkutat di seputar pengangkapan keseluruhan fenomena yang dirasakan, sebelumnya dan akan terus tak dapat dibahasakan sang penyair.

Puisi, dalam artiannya sebagai seni, melahirkan kenikmatan dari keindahan yang kita tangkap. Ini menjadi persoalan bagi kita sebab bagaimana kenikmatan estetik dapat menghancurkan keutuhan trauma dari suatu pengalaman sehingga pandangan kita pada pengalaman tersebut menjadi kabur dan alih-alih dapat menyelesaikan malah memperpanjang daftar persoalan.

Zizek mengutip Anna Akhmatova dalam upaya penyair ini mengungkapkan suasana tetor para stalinis. Dalam memoarnya yang pada saat ditulis pembantaian oleh stalinis sedang gencar-gencarnya. Sang penyair menunggu di antrian panjang diluar penjara Leningrad untuk mengetahui nasib anaknya, Lev, yang ditahan :

Satu hari seseorang di kerumunan mengenaliku. Berdiri di belakangku seorang perempuan muda, dengan bibir biru oleh dingin yang membekukan, yang telah tentu tak pernah mengenaliku dari nama sebelumnya. Sekarang Ia memulai dari kedunguan yang dimiliki kami semua dan bertanya dalam bisikan (semua oranga berbisik disini), “Bisakah kau jelaskan ini?” dan Aku katakan, “Bisa.” Lalu sesuatu seperti sebuah senyuman berlalu sekilas pada yang sebelumnya hinggap di wajahnya.

Apa yang sampai pada kita saat membaca potongan tersebut lebih baik dibiarkan diam dalam hati. Yang dapat kita bicarakan sekarang adalah bagaimana sebuah pemisahan antara yang dapat dibicarakan dan yang tidak mungkin untuk digariskan, dalam artian kita telah mencakup horizon batas material keseluruhan yang kita maksud.

Tetapi itu tidaklah cukup untuk merangkul keseluruhan proposisi zizek.

Kembali ke Wittgenstein. Persoalan utama dalam traktatus belum dapat kuketahui, sejak pembacaan baru saja dimulai. Sekilas membalik-balik halamannya kutemukan bentuk gagasan disajikan dalam pernyataan-pernyataan. Mungkin akan sekilas mirip dengan Society of Spectacle Debord, atau aforisma-aforisma Zarathustra Nietzche. Namun beberapa juga kutemukan fungsi-fungsi dengan rentetan simbol-simbol matematik. Ini mungkin sebuah keniscayaan sebab di awal, Bertrand Russel membuka pengantar dengan persoalan logika tentang dunia dan pernyataan.

Aku langsung terpincut untuk membuka halaman terakhir, dan kutemukan …

“Pernyataanku berlaku sebagai penerangan dalam cara berikut: setiap orang yang mengerti diriku alhasil menyadari mereka sebagai tak masuk akal, ketika ia telah menggunakan mereka — sebagai langkah-langkah — untuk naik keluar dari mereka. (Ia harus, boleh dikatakan, membuang tangga setelah ia menaikinya.)
Ia harus melampaui proyeksi-proyeksi berikut, dan kemudian ia akan melihat dunia dengan benar.” — Tractatus, pernyataan 6.53

Dari itu semua yang masih sangat terbatas, Aku teringat pada sebuah esei Heidegger berjudul “The Essence of Truth”. Isinya seputar esensi kebenaran dari dalam hubungan pernyataan-pernyataan, hal-hal dan keseluruhanny, dengan “kebebasan”. Apa hubungan yang mungkin antara esei Heidegger tersebut dengan Tractatus yang menjadi persoalan di depan? Biarkan ia berada di samping dahulu.