
Day 22
Bismillah..
Post pertama di Medium..
It looks to me like heaven
Sent this for your roughest night
She looks to me
She looks to me all rightRed Hot Chili Peppers
Malam ini jam di laptopku menunjukan pukul 23:51 sambil ditemani alunan lagu dari “ RHCP” . Akhirnya kuputuskan juga untuk menulis unek-unek yang selama ini cuma bisa mengudara di dalam kepalaku saja, ide membuat tulisan-tulisan ini muncul mungkin karena terlalu banyak rasa dan sensasi yang kurasakan belakangan ini tanpa mengetahui bagaimana dan mengapa. Tapi satu hal yang pasti, semua rasa ini selalu dimulai dengan satu kata : Vania.
Sudah 22 hari sejak dia bilang iya, masih terbayang rasa bahagia dan lega yang terasa ketika ia menganggukan kepalanya sembari memberi jempol tanda oke kearahku. Belum banyak memang memori yang kita punya tapi tak mengapa itu bisa dibuat, aku pernah punya banyak memori sebelumnya toh sekarang cuma jadi “dekorasi” di cerebrumku.
Sekitar musim panas tahun 1967, Arthur Aron seorang mahasiswa Psikologi di UC Berkeley mencium rekan kuliahnya yang bernama Elaine Spaulding peristiwa sederhana yang membuat keduanya menjadi sangat dekat hingga akhirnya menikah dan bersama-sama berusaha menyingkap rahasia cinta dan keintiman dalam sudut pandang psikologi, butuh waktu hampir 50 tahun bagi mereka berdua untuk membuat sebuah terobosan hingga akhirnya baru-baru ini new york times mempopulerkan penelitian mereka tentang “36 pertanyaan” yang konon bisa membuat anda dekat bahkan bisa merasakan jatuh cinta dengan orang asing yang baru anda kenal. cara kerjanya sendiri cukup sederhana, anda dan pasangan anda(calon) tinggal saling menjawab 36 pertanyaan secara bergantian dan diakhir sesi diharapkan akan muncul rasa atau satu ketertarikan. sejauh saya membaca testimoni yang sudah pernah mencoba memang hal tersebut terbukti.
Berbekal semangat sains saya berniat menjajal penelitian itu dengannya, sore itu sembari ditemani vietnam drip dan chocoffe kami memulai rangkaian pertanyaan tersebut, satu persatu pertanyaan kami jawab sampai habis memang ketika proses tanya-jawab itu berlangsung ada beberapa jawaban dari dia yang bisa membuatku bahagia ditambah aku pun jadi tahu beberapa hal kecil mengenai dirinya. Akan tetapi dengan segala hormat kepada Arthur Aron dan timnya, sore itu bukan karena “intimacy accelerator” miliknya yang membuat aku merasa lebih dekat, terima kasih ini aku sematkan kepada pabrik pembuat parfum yang kau pakai sore itu dimana wangi pir yang hilir mudik rongga hidungku menjadi pengingat akan bagaimana tenang seharusnya.
Pada akhirnya memang masih banyak misteri dan rahasia yang belum bisa diungkap dari cinta, teknologi dan pengetahuan manusia hingga dewasa ini nampaknya belum mampu mengeksaktakan cinta secara utuh dalam waktu dekat biarlah para peneliti hebat di luar sana yang mencari jawabannya. Semua orang akan punya peranannya masing-masing kelak, ahh aku sementara akan berkutat pada pertanyaan sederhanaku sendiri :
“bila jawaban dari rindu adalah bertemu, mengapa setiap aku bertemu semakin rindu………?”
Disclaimer:
saya termasuk orang yang percaya keajaiban, jadi semisal ada makhluk hidup yang membaca tulisan ini berarti selamat kamu sudah membuktikan hal tersebut. dan bila ada yang merasa tidak nyaman karena penggunaan EYD yang tidak sesuai, diksi serta kosakata yang kacau mohon diikhlaskan karena sejatinya ini untuk konsumsi pribadi saya.
