HAH? KELUARGA?

Tidak Tertarik atau Menghindari?

Pembahasan keluarga merupakan bahasan yang cukup berat (bagiku). Sebab di dalamnya, ada pembahasan dari konsep diri sendiri dan pasangan. Hingga bagaimana dengan keluarga, kita bisa membina masyarakat dengan lebih luas lagi. Waah si Dayu. Tumbenan bijak. Padahal jujur aja, aku cukup anti dengan bahasan keluarga. Dalam artian bukan engga mau bahas sama sekali. Tapi lebih kepada, “udah lah nanti aja. Toh gue belum minat.” Sombong nih anak ini. Jangan ditiru. Tenggelamkan!

Eh, beneran. Belum tentu ketika kamu udah berada di titik galau jodoh, kamu benar-benar udah concern dengan bahasan keluarga itu sendiri. Nyatanya, gue engga. But, semuanya menjadi rangkaian cerita tersendiri.

Bagi aku, bahasan keluarga adalah bahasan yang berat karena di dalamnya udah termasuk bahasan bagaimana diri kita—yang engga sendiri lagi, bisa membangun sebuah keluarga dengan visi membenahi bangsa—peran besarnya tentu bagaimana kita bisa memposisikan diri di dalam masyarakat.

Aku pribadi tidak menolak bahwa usroh (keluarga) ini bagian dari project kemenangan Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullaah shallahu’alaihi wasallam. Tapi, secara pribadi, aku sendiri menolak untuk menuntut ilmu itu—atau bahkan sekedar tahu bagaimana sih sesungguhnya keluarga dalam Islam itu.

Aku sibuk dengan diri sendiri. Sibuk bagaimana aku menciptakan proyek-proyek pribadi. Menciptakan karya-karya untuk mengunggulkan eksistensi aku di hadapan Allah yang semenjak aku baligh, aku belum berhasil dengan total melakukannya.

Baca buku tentang Munakahat? Pernah :p Tapi, isinya lebih kepada fiqh. Dan itu sama sekali engga merapihkan atau memberikan insight yang amazing tentang konsep keluarga itu sendiri. Eh, beda loh ya bahasan pernikahan dengan keluarga. Beda—menurutku.

Rumah Rusak

Rumahku sudah rusak semenjak aku masih duduk di bangku TK. Konsep pasangan yang manis sudah hilang di kepalaku. Aku sempat berkeinginan untuk memiliki rumah tangga yang manis karena pasangannya manis. Yah, gue juga udah manis. Brabe emang.

Membangun sebuah konsep pernikahan di usia muda yang masih segar-segarnya dalam berkarya. Dan kemudian, aku memikirkan konsep keluarga bervisi yang akan aku bangun. Seketika itu, rasanya seperti ingin berkata “preeet”. Halah, rumah tangga kaga bakalan semanis itu, Day!

Iya, aku sudah lama terbentuk dari sebuah rumah yang rusak. Keluar ‘rumah’ pun menjadi pribadi yang rusak. Traumatis yang secara tidak sadar sudah cukup mengakar dalam diri dan menjadi inner child yang mempengaruhi sebuah pola pikir. Membayangkan pernikahan hanya sebatas interaksi lawan jenis. Namun, tidak sampai kepada bagaimana pernikahan menjadi sebuah kekuatan tersendiri di dalam sistem masyarakat Islam.

Trauma dan antipati terhadap membangun sebuah rumah tangga. Mindsetting mengerikan soal keretakan rumah tangga. Pertengkaran hebat, cacian, makian dan kekerasan. Mengerikan rumah tangga itu. Tapi, tidak dengan pernikahan itu sendiri. Aneh memang saya ini.

Pokoknya, pernikahan itu something which is extremely mengerikan di pola pikir aku.

Break The Barrier

Well done! Kesimpulan dari sikap tersebut adalah: SALAH. Yakale, Dayuuuu, kamu antipati sama syariat ini? Syariat menikah dan membangun sebuah keluarga? Percayalah, aku lebih fokus bagaimana nanti aku bisa berpasangan di akhirat daripada di dunia. Bener-bener dah nih anak -_-. Yang laen semangat ingin menguatkan kedudukan dengan menikah, dia antipati sama bahasan keluarga.

Break the Barrier! Itu udah jadi salah satu motto hidup yang bikin aku belajar banyak. Kode kode mulai bertebaran. Diri ini semakin membaca, bahwa membangun keluarga yang bervisi adalah sebuah tanggungjawab peradaban—sekalipun gue belum nikah ya? Situ kan megang landasan Qs. An-Nisa ayat 9. Ajib memang, al-Qur’an paling bisa bikin aku jelas arah dan tujuan hidupnya.

Seorang saudari kesayangan ngajakin aku untuk membangun sebuah komunitas berbasis Islami, dengan branding yang bertema usroh. Awalnya menerima hanya karena diminta jadi content writer. Tapi siapa sangka, aku pun walau hanya diajakin begitu, harus punya arahan dan tujuan yang jelas, kan? Dan mengerti ini tuh komunitas yang akan concern dimana.

Muehehehe. Singkat cerita, aku jadi belajar banyak tentang konsep keluarga dari salah dua saudari yang udah menikah. Dan aku semakin khusyuk bacain status-status ustadz Mohammad Fauzil Adhim kalau udah bahas tentang keluarga dan parenting. Aku semakin fokus saat membaca status-status ustadz Harry Santosa yang mengangkat bahasan Fitrah Based Education sebagai visi beliau.

Dan aku jadi semakin tertarik, bagaimana konsep keluarga dalam Islam itu. Menarik gitu yaa. Mungkin karena aku terlalu lelah dengan konsep keluarga yang udah dibentuk dalam hidup aku. Jadi, begitu menemukan titik terang baru, rasanya bikin otak ini seger. Dan yang jelas, karena aku sadar bahwa alasan aku engga mau membahas konsep keluarga adalah karena traumatik berlebih yang sudah begitu mengakar.

Yah, kalau jiwa ingin pantas terbeli di hadapan Allah—masa iya sih alasan kaya gitu aja jadi pembatas untuk diri mengenal ilmu-ilmu Allah yang sesungguhnya luaaaas banget?

PREPARATION?

Persiapan buat menikah? Not really. Karena bagi aku, ini adalah ilmu. Yang mana memiliki kedudukan spesial ketika kita mau menjadi orang yang berilmu. Inti dari masalahnya adalah aku antipati dan alasan antipatinya salah. Sebab itu, aku mencoba membersihkan motif-motif dalam diri. Jangan-jangan, inilah salah satu penghambat diri aku dalam memahami luasnya Islam menghimpun ummatnya.

Setelah sekian lama berkecimpung di dunia traumatis yang hebat — Allah Maha Baik. Engga ingin membiarkan hamba-Nya berada di titik keterbatasan diri yang sesungguhnya bisa banget untuk di-break, ketika manusia itu sendiri ingin di didik oleh Allah—ingin benar-benar terjual di hadapan Allah.

Well, segitu aja temuan kali ini. Mudah-mudahan kita selalu dikuatkan dan dipekakan dalam menemukan petunjuk-petunjuk dari Allah. Yang mana sesungguhnya, ingin banget pasti hamba-Nya bisa benar terbeli di hadapan-Nya.

Salam cheerio! Dadah yuk babay.