2 — Residensi Bukan Tentang Kota, tetapi Subjek yang Bernama Manusia

Saya berusaha menanam begitu banyak suara di sudut-sudut bibliotheek, menelusuri rak-rak yang telah merangkum peradaban manusia menjadi salinan teks, membuka lembaran-lembaran manuskrip yang terlihat akrab tetapi asing betul rasanya. Semua itu membawa saya pada kekosongan, tempat di mana saya merasa cukup tenang untuk memulai riset dengan fokus pada apa yang ingin saya tahu.

Malam terakhir di Leiden saya habiskan di Café Ubé — cafe yang terletak di lantai dasar bibliotheek. Bersama Natasha D. Santoso, Tessa, Sunlie Thomas Alexander, dan Arman Az. Kami menghabiskan waktu untuk bercakap banyak hal. Duduk melingkar, bergantian bercerita tentang apa dan bagaimana, siapa dan mengapa. Pertemuan manusia dari dunia ketiga semacam ini, selain bertukar perspektif, juga membicarakan riset kami masing-masing. Barangkali ada yang bisa kami bagi dan terjemahkan bersama.

Bel pulang terdengar di perpustakaan. Bel yang mengingatkan saya pada kalimat pendek penuh hikmah, arm your desires. Saya berencana untuk berjalan larut menyusuri kota ini sepulang dari bibliotheek. Tetapi di pintu keluar, Vilam Nguyen dan Miliar Daria — dua teman persekutuan saya yang diperkenalkan oleh Fynn, mengajak ke Bad Habits. Saya sulit untuk menolak. Terutama karena dia mengatakan, “ini malam terakhirmu dan kita hanya sebentar.” Jadi saya pikir, ide menyusuri kota pada malam hari bisa dimulai setelah perjamuan kami selesai. Amstel Beer menamani perjumpaan kami bertiga. Karena datang pukul dua belas malam, bar itu sudah sepi. Hanya ada dua lelaki dan seorang pramusaji. Kami berlepas tangkap tentang kota, puisi, dan sebuah perpisahan yang larut.

***

Dan malam ini saya menikmati momen-momen terbaik saya di Leiden. Berjalan sendiri pada malam hari. Memungut puisi-puisi yang belum selesai dalam kepala saya. Menabur diri di jalan-jalan yang kelak akan saya jenguk kembali. Mengalirkan bayangan di sepanjang kanal-kanal kota ini. Jika ada dua kata yang bisa mewakili momen semacam ini, mungkin hanya, kesepian dan keasingan.

Saya berdiri di jembatan Molen de Put. Seluruh pandangan berubah menjadi puisi. Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada tiga patung yang menatap saya dari remang malam. Di bawahnya, tertulis, Een Afscheid Zonder Thuiskomst. Ada tiga patung logam berdiri, hitam dan kelam. Dua patung berdampingan dan yang satunya terpisah jarak. Patung itu untuk mengenang pejuang Belanda yang dikirim ke beberapa wilayah koloni mereka dahulu. “Mungkin yang kosong itu dibunuh oleh nenek moyang saya sehingga tidak pulang.” Gumam saya dalam hati sambil mengangkat jari telunjuk di depan mata dan memposisikan tepat di ruang kosong antara mereka bertiga. “Tenanglah, kita sama-sama kesepian dan diserang runtun larut kehilangan.” lanjut saya sambil menurunkan tangan.

Saya lalu melintasi taman kecil, rumah tempat Rembrandt dilahirkan berdiri di sisi kiri saya. Di dindingnya ada plakat kecil bertuliskan, “Hier werd geboren/op den 15 den Juli 1606/Rembrandt van Rijn” dalam hati saya kembali bergumam, “Wah, dasar seniman cancer yang begitu emosional!” tentu, saya merasa dekat karena kami sama-sama lahir dibulan juli. Hanya terpisah tiga ratus delapan puluh tujuh tahun dan seratus sembilan puluh dua jam. Di depan rumah kelahiran Rembrandt ini ada sebuah taman, di tengahnya, di atas sebuah trap permanen, patung anak kecil berdiri berhadapan dengan kanvas dengan lukisan wajah Rembrandt. “Mungkin itu Rembrandt kecil yang memandang dirinya di masa depan yang sudah berlalu begitu jauh.” Saya naik ke atas trap tersebut. Berdiri di antara patung anak kecil dan kanvas. Setelah pamit dengan Rembrandt, saya melanjutkan perjalanan.

Arsenaalstraat yang sempit dan remang mengantar saya ke taman bermain yang menjadi bagian belakang gedung Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau KITLV. Lembaga yang didirikan pada tahun 1851 dengan tujuan utamanya ialah penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah wilayah Asia Tenggara, Oseania dan Karibia. Saya menyentuh dinding dan jendelanya, “Kaca ini sama dengan yang ada di negara saya, dinding ini tidak kalah kuat dengan yang ada di negara saya. Tetapi saya tidak tahu, apakah orang-orang yang bekerja di tempat ini bisa saya temukan gairahnya di negara saya.” Saya memunggungi Gedung KITLV dengan menggeleng kepala.

Jembatan kayu yang memisahkan Lipsius dan bibliotheek mengantar saya menyeberangi Witte Single yang lengang dan bisu. Saya ke sisi kiri bibliotheek, di sana menjadi tempat favorit saya selama di Leiden. Cuplikan puisi Robert Frost terukir di dinding kayu, The Road Not Taken. Sebelum kembali, saya memandang Perpustakaan Universitas Leiden. Ini mengingatkan saya dengan perpustakaan di kampus saya. Muncul meme ala instagram di kepala, realita dan ekspektasi. Tetapi saya tidak tahu harus tertawa atau bersedih.

Saya memutuskan kembali melewati jembatan kayu di Reuvensbrug, melintasi Pakhuis hingga tiba di Houtstraat. Saya berhenti di sebuah gereja yang dikelilingi beberapa bangunan. Ada tulisan di dinding Pieterskerk, “But now we are all, in all places, strangers and pilgrims, travelers and sojourners.” — Robert Cushman, Pilgrim Leader, 1622. Di bawahnya, berderet nama-nama yang pernah menyinggahi Leiden sebagai pilgrim. Salah satunya adalah Thomas Blossom yang merupakan kakek buyut Barack Obama. Ada rumah berplakat 1683 — barangkali pernah direnovasi dan berdiri kuat dan kokoh sejak tahun itu. Rumah ini menjadi salah satu saksi Pilgrim. Karena penasaran, saya mencari tahu di brogo sejarah tempat ini, dan ada begitu banyak tulisan tentang Pilgrim. Mantap Bro Google!

Saya lalu berjalan ke arah De Burcht. Benteng yang terletak di atas bukit ini lebih misterius dan garang pada malam hari. Bentuknya yang bulat menandakan De Burcht adalah model klasik dari benteng pertahanan sebuah kota. Benar saja, ia memang dibangun dari tahun 800 hingga 1150. Di sisinya, Oede Rijn dan Nieuwe Rijn dipisah dan disatukan oleh kanal. Sayangnya, saya tidak naik karena gerbangnya tertutup. “Sampai jumpa!”

***

Tidak terasa, satu bulan lebih saya habiskan waktu di kota Leiden. Ada banyak teman baru, pengetahuan baru, pertemuan baru, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Perpisahan akan membelah semua itu menjadi masa lalu. Setelah ini, waktunya untuk mulai mengerjakan riset. Dan saya tahu, ini sesungguhnya bagian paling berat dari semua ini.

Setelah selesai melakukan perpisahan dengan kota ini, saya pulang Marienpoelstraat — tempat saya tinggal selama di Leiden. Tetapi rute yang saya pilih sedikit berputar. Saya melewati Oude Single, rumah itu ditinggali oleh Santy Kouwagam, seorang teman yang bekerja sebagai pengacara, di sana saya pertama kali mendengar kisah dari Salleng dan sisi lain Westerling. Setelah tiba di ujung jalan, kincir dari Molen de Valk terlihat melambai kepada saya. Di sisinya, saya pernah jatuh dari sepeda dan Molen itu menertawakan saya. Sejak itu kami berteman. Saya mengingat ucapan Daria waktu kami masih di Bad Habits, “Ada mitos di Leiden, jika kamu pernah jatuh dari sepada, orang-orang percaya bahwa kamu akan kembali ke kota ini.” Entahlah. Daria tidak bisa membaca masa depan, tetapi saya tidak berani meremehkan nasib.

Saya terus berjalan, setelah tiba di Boerhavelaan, saya menelusuri hingga ke ujung jalan, melewati rumah yang ditinggali Andi Yani. Lalu ke Marienpoelstraat, rumah Dian Akram, lalu beberapa rumah kemudian menjadi tempat tinggal Rahmat Latif. Saya mengingat kembali beberapa nama, Ria Maya Sari, Rahmah, Muhammad Imran, Noli Ceo, Melita Tarisa, Riama Maslan, Setiadi Sopandi, dan Eko Triono. Mereka semua adalah kawan, kakak, dan mentor yang membantu saya dalam banyak hal selama riset di Leiden. Tibalah saya di rumah Ade Jaya Suryani dan Destyka Putri — kedua anaknya adalah teman saya, Maryam dan Umar. Satu bulan saya tinggal di sana dengan kebaikan yang mereka berikan. Saya pamit dan berterima kasih kepada mereka semua!

Rokok di tangan belum habis. Saya memutuskan menyimpan tas di depan pintu lalu berjalan ke jembatan yang berada tepat di depan rumah tempat saya tinggal. Di bawahnya, air kanal mengalir, pelan dan dingin. Bayangan yang menemani saya bertanya, “Kota ini tidak lebih tua dari peradaban di tempat asalmu, tetapi mengapa Rembrandt, Pilgrim, Molen de Put, Pieterskreek, Molen de Valk, dan De Burcht terasa begitu dekat. Sedangkan sejarah kamu terasa lampau, jauh dan terpisah dari masyarakat?” Saya tersenyum lalu menjitak kepalanya. “Tahu apa kamu soal sejarah? Kami punya penguasa yang senang menghapus ingatan orang-orang!” dia kemudian terdiam dan mendorong saya ke kanal. Blurs!