Taken at Domsheide, Bremen, Germany

Hidup di negeri orang itu….

Sepi, mesti masak sendiri, cuci sendiri, apa-apa sendiri (well alhamdulillah gue disini sama ortu, tapi tetep ngerasain juga kok kayak gitu).

Tapi bukan itu yang ingin saya utarakan di post ini….

Tapi bagaimana sebuah bangsa bisa “memperbaiki” cara saya melihat hidup dan menikmati hidup, as a complete human, bukan hanya secara temporer, namun kontinu. Dulu saya mempunyai pemikiran dengan skema seperti ini:

Pendidikan Dasar > Kuliah > Kerja (+cari pendamping hidup) > menikmati masa tua

(“>” = kemudian)

Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri, gap diantara “kemudian” itu, adakah yang mengisi kekosongannya? Seperti hati yang sepi, menanti akan sebuah presence atau kehadiran seseorang yang anda inginkan?

Saya sering melihat, bagaimana masa muda yang sebenarnya bisa anda nikmati, namun seringkali harus “tertunda” dengan rencana atau cara anda melihat hidup anda 5–10 tahun.

Negeri ini superior, ekonominya bagus, namun mereka menghargai akan esensi tentang “menikmati hidup”, sekalipun kebanyakan daripadanya adalah workaholic akut (sorry, if you Germans were offended by this, I haven’t got much proof to show or to compare to mines yet). Workaholics pada hal ini tidak hanya berlaku kepada pekerja, namun juga siswa dan mahasiswa yang notabene butuh kerja keras untuk membuat dirinya menjadi tidak hanya terdidik, namun menjadi bermoral. Itu yang saya lihat di negeri ini.

Kembali ke masalah gap yang berdiri didalam “kemudian”, inilah yang saya maksud, dimana masa “kemudian” itu seringkali mereka isi dengan berlibur, ataupun untuk yang cukup berani dan peduli terhadap lingkungan mereka, pergi ke wilayah miskin di Afrika, kemudian mengabdi selama setahun untuk membantu sebelum akhirnya mereka kembali untuk kuliah/kerja.

Kebanyakan dari orang Indonesia, khususnya lulusan SMA, inginnya langsung kuliah, tanpa memberi “jeda”, untuk setidaknya menikmati hidup (anda bisa bilang “cuti” sementara sebelum kuliah). Terkadang mental “terburu-buru” seperti itulah yang seringkali menghambat kami, untuk diam sejenak dan melihat, bagaimana sebenarnya hidup tidak mesti terburu-buru.

Berlibur dan kerja sosial (seperti ke Afrika) menurut saya akan menjadi sebuah pengalaman hidup berharga anda sebelum masuk jenjang kuliah, paling tidak, keluar sebentar dari rencana anda, dan rasakan, waktu yang anda buang untuk “menikmati hidup” bukanlah waktu yang terbuang.

Paling tidak…saya mengerti, kita masih jauh dari mentalitas seperti ini, andaikan sebagian orang Indonesia bukan orang-orang yang inginnya terburu-buru dan hanya mengandalkan hasil instan, mungkin cara pandang kita tentang menikmati hidup mungkin tidak akan sama lagi seperti yang diatas tadi…

Shubhi Rofiddinsa

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Shubhi Rofiddinsa’s story.