Memahami Perbedaan

Source: threepullpa.com
Tulisan kali ini agak lumayan mengarah ke “curhat”. Ingatkan saya untuk tetap memulai diskusi dan mengakhirinya dengan baik dan benar, serta tidak mengarah kepada backlash.

Curhat lho, teman-teman. Jarang-jarang saya mau curhat lewat tulisan. Biasanya saya lebih suka mendapat ide, lalu coba untuk lebih di-eksplor. Kali ini kepengennya mau ngeluarin unek-unek soal impact Pilkada dalam melihat perbedaan sebagai sesuatu yang cukup menakutkan untuk kebanyakan orang di Indonesia.

Mengapa saya men-targetkan tulisan ini kepada salah satu kelompok?

Banyak alasan yang bisa saya jabarkan satu persatu, mungkin durasi membaca anda pada tulisan ini akan menjadi 2x lipat dibanding biasanya (biasanya 3–5 min read, jadi 6–10 min read).

Namun saya orangnya praktis aja sih kali ini. 5 min read maksimal deh, seperti biasa, hehe.

(Pembukaannya aja udah semenit, gimana mau ngirit waktu sih, ish 😠)

Ribut-ribut ala social media

Setiap buka socmed, selalu saja timeline/home/feed saya cukup “berwarna”, permasalahan Pilkada yang itu-itu saja tak kunjung selesai.

“Pemimpin muslim dan pemimpin kafir. Pilih yang mana?”, begitu katanya.

Ada lagi yang begini,

Atau yang ini,

Disclaimer: Ini potongan salah satu percakapan di socmed. Mohon maaf konten aslinya tidak bisa saya tampilkan secara gamblang. Ini hanyalah salah satu contoh dari “paranoia” terhadap perbedaan pandangan politik.

Pada intinya, mau pilih pemimpin muslim, pemimpin kristen, katolik, buddha, hindu, konghucu, atau pemipin yang mungkin anda tidak tahu agamanya apa, itu semua akan kembali ke pilihan anda masing-masing. Seperti yang pernah saya bilang di blog ini.

Mempertanyakan akal sehat hanya gara-gara pilihan anda beda dengan yang lain, atau menghina seseorang didepan umum (atau lewat post di socmed) kemudian berkata bahwa lawan bicara anda haruslah dibinasakan bisa jadi membahayakan diri anda sendiri maupun orang lain.

Orang lain kepancing untuk ngepost karena emosi, eh jadi rame deh, terus ribut-ribut, terus pembahasannya malah melenceng kemana-mana. The true purpose nya jadi hilang, deh.

Lesson learnt: jagalah lisan dan tangan mu dari keyboard. Lidah atau ketikan bisa jadi setajam pisau dan dapat membuat orang sakit hati.

Lalu bagaimana caranya agar bisa memahami perbedaan yang ada saat ini?

Kebanyakan postingan di social media saat ini memiliki unsur emosi yang cukup ketara, dimana semua merasa paling benar. Saya sendiri bahkan belum tentu benar dengan menulis seperti ini, akan ada orang yang mungkin tidak senang atau tidak setuju dengan unek-unek saya ini.

Namun saya mencoba untuk tidak terprovokasi atau bahkan tidak bereaksi keras terhadap ketidaksetujuan orang-orang yang mempunyai beda pendapat dengan saya.

Mungkin itu salah satu cara saya agar bisa memahami setiap perbedaan yang setiap manusia miliki dalam diri mereka masing-masing.

Mungkin anda sendiri mempunyai cara masing-masing dalam memahami perbedaan itu, selama anda masih memiliki itikad baik untuk mengerti akan banyaknya perbedaan.

Sebagai muslim Indonesia yang sekarang tinggal di Jerman dan pernah tinggal di Indonesia dari kecil sampai dewasa, saya merasakan betul hidup baik sebagai mayoritas maupun minoritas, yang mungkin benefit-nya betul-betul saya rasakan saat ini, bahwa saya mampu untuk memahami setiap perbedaan yang ada.

Mungkin ada beberapa dari kolega saya yang saat ini tinggal dan studi di luar negeri, namun masih belum memiliki rasa pengertian akan perbedaan. Atau ada beberapa dari kolega saya yang masih tinggal di Indonesia dan bisa memahami perbedaan secara baik dan dengan kepala dingin.

Indonesia punya slogan “Bhineka Tunggal Ika”, masa iya slogannya tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?

Indonesia punya 5 Agama berbeda + 1 kepercayaan yang diakui dalam undang-undang, masa iya kita tidak bisa memiliki toleransi satu sama lain?

Indonesia punya 300+ suku berbeda yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, masa iya kita masih “buta” kalau negeri ini penuh akan perbedaan?

Atau mungkin sebagian dari kita masih takut akan konsep “berbeda itu hal yang harusnya disyukuri?”

Pada intinya, saya mempunyai prinsip yang selalu saya pegang dimanapun saya berada:

Kalau hidup itu-itu saja, nggak ada variasi, nggak ada perbedaan, loe tuh hidup gak sih?

-SR

Note: Maaf kalau tulisannya agak curhat, ngeliat socmed ribut-ributnya makin gajelas. Mungkin nulis kali ini jadi alternatif pelampiasan yang baik buat gue.