Menulis

This post is more about my personal journey towards “spilling” my thoughts.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” -Pramoedya Ananta Toer
Source: The Surbiton Writers Group

Baru tahun ini kayaknya gue lumayan banyak dapet ide-ide untuk nulis. Dulu-dulu cuman jadi prioritas ke-sekian”, begitu kata seorang newbie dalam hal cuap-cuap panjang di blog.

Dan sang pemula itu adalah saya sendiri.

Tengah malam, kira-kira awal 2017. Waktu itu saya sedang stres-stresnya kejar setoran buat ujian akhir semester ini. Saat itu saya ingin me-review buku karangan George Orwell, 1984. Tetiba saya melihat quote dari seorang pengarang yang namanya sudah tidak asing di telinga orang Indonesia (kecuali jika ada termasuk kedalam kategori Millenials).

Seketika itu juga saya langsung mendapat…apa ya…bukan pencerahan. Terlalu klise.

Hidayah? Terlalu religius.

“Oh ya…gue baru dapet kacamata baru.”

Kenapa kacamata? Padahal saya bukan pengguna kacamata, loh. Tetapi itu terserah anda sendiri, pembaca, yang ingin mengartikan kacamata yang saya maksud.

Kacamata disini, tidak lain dan tidak bukan seperti melihat dunia dalam perspektif berbeda. Dengan ide seperti itu, sepertinya saya cukup puas dalam memahami arti menulis sesungguhnya. Setelah melihat Quote tadi, saya langsung saja ubek-ubek histori menulis saya.

Perjalanan saya dengan kegiatan pelampiasan ide dan pemikiran ini, dimulai dari kelas 8 (atau setara 2 SMP). Waktu jaman-jaman pertama kali menulis, jika saya ingin “menyapa” pembaca, selalu diakhiri dengan broer. Kental akan pengaruh majalah buat anak ABG waktu itu seperti Hai, atau dulu sempat terkenal blogger macam Nguping Jakarta.

Terlihat promosi jor-joran saya agar mendapatkan views banyak, sekaligus menjadi peer pressure pada waktu itu juga. Agar setidaknya terlihat lebih keren di dunia maya. How cool is that? (sarcasm alert)

Kemudian ketika SMA, bisa dikatakan hampir tidak ada sama sekali entri terhadap blog yang saya punya (atau entri nya bisa dihitung dengan jari. Waktu itu saya pengguna reguler tumblr). Pada saat itu mungkin yang lebih booming adalah microblogging macam Twitter, Facebook, Plurk, Ask.fm, Formspring, tumblr dan lain-lain. Mungkin hanya segelintir dari teman-teman saya yang aktif menulis pada waktu itu, begitu juga dengan teman baik saya yang sampai sekarang paling tidak ada satu-dua entri di blognya setiap tahun, entah itu rutin apa tidak.

Dari situlah sebetulnya saya mempunyai keinginan untuk mempunyai blog yang sustainable, user friendly, serta mudah akses nya.

2 tahun setelah lulus SMA, saya menemukan website ini. Medium.

Namanya sederhana sih. Gak ada embel-embel blog nya. Cobain ah.”, pikirnya saya waktu itu.

Semudah menghubungkan akun Twitter saya, lalu jadilah personal blog saya, tanpa perlu personalisasi berlebihan dengan widget-widget yang dirasa kurang perlu.

Pelan-pelan saya mulai menulis, meskipun jumlah tulisannya masih tetap sedikit, namun niatan untuk mempertahankan blog ini agar tetap hidup masih ada. Paling tidak saya membutuhkan 2,5 tahun untuk benar benar mantap dalam kegiatan menuangkan ide dan pemikiran terbaru seperti ini.

Dan untuk pertama kalinya saya bisa mempertahankan blog ini tetap aktif hampir lebih dari 3 tahun. Sebuah personal achievement, namun sekaligus sebagai sarana untuk saya bisa melampiaskan emosi lewat tulisan tentunya.

Kalau mau dijabarkan dengan gamblang, alasan mengapa saya belum punya entri banyak waktu itu (atau masih belum konsisten dalam menulis):

  1. Kualitas tulisan saya dibanding teman-teman atau kolega saya sendiri, bisa dibilang sangat rendah. Dari segi tata bahasa, ataupun konten yang ditawarkan, tulisan-tulisan kolega saya lebih terlihat rapih dan sangat berkonsep, dibandingkan dengan konten yang saya miliki.
  2. Saya agak takut dalam mengekspresikan emosi saya secara general. Alasan utama saya adalah agar tidak ingin terlihat rapuh, atau bahasa sehari-hari nya vulnerable. Saya mempunyai histori cukup jelek dengan melampiaskan feeling saya lewat socmed macam facebook misalnya.
  3. Inginnya saya waktu itu supaya terlihat keren dengan mempunyai personal blog. Nyatanya, saya tidak belajar dengan benar bagaimana cara menulis dan melampiaskan ide-ide yang ada di kepala secara cerdas.

Berawal dengan rutin membaca buku paling tidak 1 buku setiap bulan, saya pun kembali tertarik dengan kegiatan menumpahkan ide ini. Sebuah remedy yang sepertinya cocok untuk saya. Hanya niat saya yang harus dirubah, yang tadinya lebih berat ke eksternal, dimana saya ingin ide saya terlihat bagus, menjadi mencari ide mulai dari internal, atau dari hasil pemikiran saya sendiri menggunakan prinsip, bahwa tidak akan ada satupun manusia yang bisa mempunyai pendapat atau opini yang sama terhadap satu sama lain.

Jika ditelaah kembali, Quote bapak Toer di awal tulisan ini mengingatkan saya akan pentingnya menulis dalam arti preservasi ide-ide dan pemikiran seorang manusia. Jika ide atau gagasan hanya saya simpan di kepala, tanpa adanya medium untuk menyimpannya dalam bentuk fisik, maka semakin tua umur saya, ide atau gagasan itu akan pudar.

Jika feeling saya tidak terlampiaskan secara benar, maka akan menjadi beban buat saya yang sebetulnya ringan. Namun jika terlalu lama saya simpan, lama-lama saya sendiri akan lelah dengan memendamnya seperti itu. Menulis menjadi alternatif yang sangat baik disamping kegiatan keagamaan atau kerohanian yang biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya.

Saya pun masih belajar, bagaimana agar ide dan pemikiran saya bisa tersampaikan dengan baik dan benar, atau sekaligus menjadi medium introspeksi diri saya sendiri.

-SR

Bonus: versi cheesy dibanding entri saya yang ini 😂

Like what you read? Give Shubhi Rofiddinsa a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.