Saya Kok……

Ibnu Dharma Nugraha
Nov 3 · 2 min read

Saya kok jadi malu sendiri.

Sejak datang ke rumah itu di empat tahun yang lalu. Kala itu, Ia ada di sana, duduk di barisan kedua, menepi dan bersandar pada tembok di serambi kiri. Saya ingat betul, barisan kedua itu selalu jadi tempat favoritnya, jarang sekali ditempati oleh orang yang berbeda. Sebab, Ia selalu datang lebih awal dibanding orang yang berbeda tadi.

Satu waktu dipukul tiga, panggilan itu berkumandang. Berseru-seru pada setiap orang yang mendengar: untuk datang. Saat itu, di gerbang luar rumah tadi. Ia sedang menggowes sepada ontel tuanya. Tertatih dan terburu mendatangi suara itu, dan barangkali untuk menempati tempat itu. Tempat favoritnya. Di barisan kedua.

Ia kemudian meyisikan sepedanya di bawah pohon. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah itu. Tapi, kamu tahu, Ia tidak lekas bersimpuh atau melungguh. Yang Ia lakukan, tidak demikian. Ia tetap berdiri, lalu menggerakan badannya untuk rukuk, berdiri, sujud, duduk, dan berdiri kembali. Badannya yang sepuh itu melakukan bermacam gerakan yang tidak dapat dilakukan oleh beberapa badan yang masih kuat. Kuat lari bahkan mendaki.

Saya kok jadi malu sendiri.

Ketika datang ke rumah itu di empat hari yang lalu. Waktu itu, Ia masih ada di rumah itu. Tapi, kamu tahu, Ia sudah tidak lagi berada di tempat favoritnya. Yang di barisan kedua itu. Yang di dekat tembok itu. Yang di serambi kiri itu. Ia kini sudah merapat di barisan pertama. Dekat jam kloneng besar rumah itu. Bersama dengan orang-orang yang biasanya selalu datang di awal waktu. Namun, Ia kini tidak lagi sendirian. Bangku kecil menemani dirinya saat menunaikan gerakan yang biasanya Ia lakukan. Yang saya tahu, bangku kecil itu bisa saja menjadi saksi di hari perhitungan kelak-yaumul hisab. Untuk membawa Ia ke tempat indah yang dijanjikan itu. Yang diimpikan oleh banyak orang itu. Yang diimpikan juga oleh si badan yang kuat itu. Ya. Hanya diimpikan. In motion.

Saya kok jadi malu sendiri.

Saat datang ke rumah itu di dua hari yang lalu. Dengan sepeda ontel tuanya. Ia masih datang. Seperti biasanya, dengan pakaian yang sama: peci putih dan koko putih seakan menemani rambut dan jenggotnya yang juga putih. Seperti biasanya, dengan bangku yang kini jadi sahabatnya. Kali ini saya tahu, baginya, memang tidak pernah ada hari libur: untuk tidak datang. Sebab, masih ada jasad yang bernyawa. Sebab, masih ada nadi yang berdetak. Sebab, masih ada tungkai yang masih bisa bergerak itu-walau tertatih. Sebab, sepeda ontelnya masih kuat untuk menopang badannya. Sebab, rumah itu masih ada. Sebab, tidak ada alasan untuk tidak datang.

Saya kok jadi malu sendiri.

Ketika menulis tulisan ini pun ketika membaca tulisan ini. Di dua hari nanti, tiga hari, ataupun nanti. Walaupun saya tahu, bahwa malu adalah sebagian dari Iman. Tapi, apakah malu yang sebagian ini juga termasuk di dalamnya? Ntahlah.

Malang,
Ibnu Dharma Nugraha