Angga Sang Penikmat Dunia Malam
Dunia malam, dunia yang indah bagi om-om hidung belang. Tempat mereka bisa “jajan” setelah suntuk dengan pekerjaan mereka. Minum-minum di bar, menenggak alkohol, sekadar menghilangkan stres di kepala dengan minuman yang tak hanya melepas dahaga tapi juga sensasi melayang layang diiringi lagu disko yang seakan mewakili perasaan tiap tamu yang datang. Jika minum-minum masih belum cukup menjernihkan pikiran, tamu dapat berehat sejenak di salah satu kamar dan mendapat layanan pijat. Bukan sembarang pijat tapi pijat plus plus.
Dunia itu ada di rumah hiburan. Rumah indah itu sayangnya hanya buka di malam hari setelah pukul 22.00. Maklum club malam tersebut terletak tak jauh dari pemukiman warga, sehingga memang harus sedikit berkompromi dengan warga. Semoga pemilik club tidak diamuk para pengunjungnya karena telah dibuat tak sabar menanti tanda close di pintu dibalik menjadi open.
Keberadaan rumah pemuas para pria ini sebenarnya cukup mengganggu masyarakat sekitar. Namun apalah daya mereka. Suara mereka tersamarkan oleh lagu diskotik. Teriakan mereka tertahan oleh birokrasi yang dibeli dengan uang pelicin. Warga sekitar hanya bisa mengutuk tiap orang yang masuk ke tempat durjana itu.
Tak terkecuali Angga, pelanggan rumah hiburan yang ditemukan tak bernyawa di jalan dekat club. Meski jam belum menunjukan pukul 10 malam, namun mayat pria tersebut tetap tergeletak di sana tanpa ada satu pun orang yang menolong. Hingga akhirnya mayat tersebut ditemukan oleh penjaga keamanan setempat yang tengah berjalan-jalan bersama atasannya.
“Pak, ini ada orang meninggal lho Pak,” teriak petugas keamanan saat ada warga yang lewat jalan itu. Namun anehnya tak ada satupun orang yang menoleh, hingga ada satu orang yang akhirnya memberanikan diri.
“Dia itu anggota tetap club malam yang di sana,” jawab seorang pemuda sambil menunjuk rumah remang-remang di ujung jalan.
“Bukankah dia warga sini juga?”
“Iya, justru karena itu kami geram padanya”
“Sebenarnya apa yang telah ia lakukan?”
“Ia adalah pemborong berhidung belang. Hampir tiap hari ia ke diskotik, jika ia pulang, ia selalu membawa sekeranjang penuh ciu (read : arak). Bahkan tak jarang perjalanannya pulang diikuti oleh beberapa wanita di belakangnya.”
Sang penjaga hanya termanggu diam setelah mendengar cerita itu. Atasannya yang mendengar kisah itu merasa seperti ada yang janggal. Karena rasa penasaran itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk berkata, “Kalau kalian tidak ada yang mau mengurusnya aku yang akan mengurusnya. Tunjukkan padaku di mana rumahnya!”
“Tapi Tuan, dia pelanggan tetap rumah bordil,” tukas sang penjaga.
“Tak apa, dari pada tak ada satupun yang mau mengurusnya. Tolong tunjukkan di mana rumahnya.”
Akhirnya rombongan itu berangkat ke rumah duka. Rumahnya ternyata memang tak jauh dari jalan tersebut. Saat Sang Atasan mengetuk pintu rumah itu, keluarlah seorang wanita cantik yang langsung menangis begitu melihat orangnya dibawa oleh rombongan itu.
“Suamiku…. Huaaa, huaaa….” Teriak histeris istri Angga. Istrinya tak henti-hentinya menangis hingga hampir setengah jam. Akhirnya wanita tersebut bisa lebih tenang dan mau bercerita kepada rombongan yang membawanya.
“Hiks, hiks, hiks… Tuan, terima kasih telah membawa suamiku pulang.”
“Iya Bu, tidak masalah. Tapi aku heran, kenapa tidak ada satupun orang yang mau mengurusnya? Apa hal gerangan yang terjadi?” kata Sang Atasan setelah membawa jenazah itu masuk.
“Aku sudah mengira hal ini akan terjadi. Aku sudah menasihatinya sejak 3 tahun yang lalu. Hiks. Hiks. Suamiku adalah orang yang baik, dia seorang pengusaha sukses di kota. Usahanya begitu sukses, hingga omset suamiku mencapai 20 juta per hari. Suamiku orangnya cukup nyentrik. Dia membagi keuntungan menjadi 3 bagian. Satu bagian pertama untuk keluarga. Satu bagian ia belikan minuman dan sisanya ia habiskan ke di rumah bordil.”
“Di mana baiknya sih orang itu”, gumam sang penjaga.
“Hust jangan gitu, Ibunya belum selesai cerita” tegur Sang Atasan pelan.
“Silakan dilanjut Bu”, kata Sang Atasan ingin mendengar lanjutan cerita istri jenazah.
Ibu tersebut kembali melanjutkan, mengingat-ingat kejadian 3 tahun yang lalu.
“Mas kamu ngapain gitu sih,” kata istri pada suaminya.
“Gapapa Dek, hehehe”.
“Kalo kamu terus ke dunia malam, nanti apa kata orang”.
“Gapapa Dek, setidaknya kita bisa membantu orang-orang”.
Sang istri menangis lagi ketika mengenang percakapannya kala ia mengingatkan suaminya untuk kesekian kalinya.
“Asal Tuan tahu, kalo suamiku pulang dari kerja, ia mampir ke bar dan membeli sekeranjang bir. Ia membawanya pulang dan membuangnya ke kamar mandi. Tak sesesap bir pun masuk mulut suamiku”.
“Lalu untuk apa suamimu membeli minuman keras?” tanya Sang Atasan.
“Dulu suamiku pernah berkata, ‘Setidaknya kita bisa mengurangi orang yang mabuk malam ini.’ memang agak aneh sih, tapi begitulah suamiku.”
“Lalu soal pulang bersama beberapa wanita, bisakah Engkau ceritakan kepada kami?”
“Suamiku memang membayar mereka semalam penuh. Tapi suamiku tak pernah sekalipun menyentuh mereka. Justru suamiku meminta mereka untuk pulang ke rumah mereka. ‘Setidaknya kita bisa mengurangi orang yang berzina malam ini’ itu sih kata suamiku.”
Sang istri terus menangis tersedu-sedu.
“Kali ini ketakutanku benar-benar terjadi. Kala suamiku meninggal, tak ada satupun orang yang mau mengurus jenazahnya. Aku bingung akan angan-angannya dulu. Suamiku pernah berkata padaku. Kalau dia meninggal jasadnya akan diurus dan disholati oleh amir (read: pemimpin) dan ulama setempat. Hahaha, jangankan amir dan ulama, tetangga pun tak ada yang sudi menolongnya di jalan.” Tangis sang istri semakin menjadi.
“Bu, tenanglah. Perihal mengurus jenazah suamimu, aku yang akan mengurusnya. Aku akan panggil ulama yang ada di sekitar sini juga untuk menyalatkan suamimu. Aku Joko Waluyo pemimpin daerah sini, kebetulah sedang keliling sini, dan ini kepala keamananku Muldzaki. Pak Mul, tolong segera siapkan keperluan untuk mengurus jenazah dan panggil kyai-kyai di sekitar sini juga.”
“Baik Pak, akan segera saya laksanakan”, jawab taktis Pak Muldzaki.
Istri almarmuh terhenti tangisnya karena kaget dan tak sadar kalau di depannya adalah orang nomer satu di daerahnya.
Note:
Joko Waluyo adalah nama samaran dari Sultan Murad II yang memang memiliki kebiasaan untuk berpatroli bersama penasihatnya kala malam tiba. Sekadar untuk mengecek secara langsung kondisi umatnya.
