Moko dan Cucunya
Suharmoko adalah seorang pimpinan daerah yang cukup makmur. Tempat yang ia pimpin begitu makmur dengan semua sumber dayanya. Kata orang tongkat kayu yang dilempar ke tanah bisa tumbuh. Tanah digali dapat emas. kalau orang bilang, tanah itu tanah surga.
Pak Moko (begitulah ia sering disapa) adalah kepala daerah yang begitu dicintai oleh warganya, selain karena kebaikannya juga karena kepeduliannya pada daerah yang ia pimpin. Tak jarang ia membagikan gaji yang ia peroleh dari pemerintah pusat kepada warga.
Selain baik ke warga, ia juga sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Ia sering menghabiskan waktunya dengan keluarga terutama cucunya. Pak Moko sering terlihat keliling kota bersama cucunya dengan sepeda tuanya, memanjakan cucunya dengan keindahan kota yang sebenernya lebih cocok disebut desa karena suasananya yang masih begitu asri. Bersepeda naik turun bukit sambil bercanda ria. Sepanjang jalan Pak Moko dan cucunya disapa oleh warganya.
“Mau ke mana Pak, pagi-pagi sepedaan”
“Mau jalan aja nih sama cucu, mumpung lagi senggang”
“Hati-hati di jalan Pak”
Pak Moko dan cucunya melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan mereka juga sering berpapasan dengan anak-anak yang berangkat sekolah jalan kaki saling bercakap satu sama lain.
“Tungguin aku dong Kak”
“Ayo buruan, udah telat nih”
“Bentar, aku capek”
“Ya udah deh, istirahat dulu. Abis itu kita jalan lagi”
“Yeay, makasih Kak”
Mendengar percakapan itu dari jauh, Pak Moko terenyuh dan berpikir, “apakah mereka harus seperti itu selamanya? Jalan setiap hari berkilo-kilo meter hanya untuk sekolah?” pikiran itu terus terngiang-ngiang di kepala Pak Moko hingga ia sampai rumah.
“Kakek kenapa? Dari tadi tampak murung?” tanya sang cucu yang sedari tadi mengamati mimik kakeknya yang berubah.
“Ah ngga papa kok Cu, yuk masuk yuk, udah ditunggu nenek di rumah.”
Berhari-hari pikiran itu tak bisa hilang dari kepala Pak Moko. Akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk menjual sebagian ladangnya untuk membeli mobil. Mobil itu akan ia hibahkan kepada warga sebagai alat transportasi untuk anak-anak yang akan sekolah.
Akhirnya dibelilah mobil bak terbuka yang kemudian disulap jadi mobil sekolah dengan menambahkan sedikit bangku dan pengaman di samping mobil.
Pak moko mengumumkan peluncuran mobil antar jemput anak sekolah di kantornya. Datangnya mobil itu disambut baik oleh warga. Teruatama saat berita itu sampai ke telinga anak-anak sekolah.
“Kak, kita jadi ngga perlu capek-capek jalan ya Kak.”
“Iya Dek, kita bisa naik itu pas berangkat sama pulang sekolah.”
“Makasih Pak Moko, semoga Tuhan membalasmu dengan banyak kebaikan.”
“Aamiin.”
Hari pertama mobil beroperasi. Mobil melaju dari tempat pemberhentian satu ke pemberhentian lain, hingga akhirnya sampai ke sekolah (untung sekolah di kota tersebut saling berdekatan sehingga memudahkan naik turun penumpang). Jalur operasi mobil itu melewati depan rumah Pak Moko. Cucu Pak Moko senang sekali melihat mobil itu lalu lalang, terbesit dalam pikirannya untuk ikut keliling naik mobil itu. Akhirnya ia memberanikan diri meminta izin ke nenek yang sedang menemaninya menonton mobil itu.
“Nek, boleh ngga Jen naik mobil itu, Jen pengen banget Nek” ucap sang cucu penuh harap dengan muka yang sangat memelas kepada neneknya.
“Ya udah nanti kamu, nenek titipin ke Mang Ucup, kebetulan Mang Ucup yang jadi sopir”
“Jadi boleh kan Nek?”
“Iya ngga papa, tapi hati-hati ya”
“Iya Nek, siap laksanakan”
Akhirnya Nenek menghentikan mobil sekolah itu dan menitipkannya kepada Mang Ucup. Senang bukan main, saat Jen (cucu Pak Moko) bisa ikut naik mobil sekolah itu bersama anak-anak lain. Ia terus duduk di sebelah Mang Ucup hingga sore.
Sore itu Pak Moko baru pulang dari desa sebelah setelah mengadakan rapat dan penyuluhan soal ternak lele. Saat Pak Moko pulang dengan motor dinasnya ia melihat anak berseragam duduk di depan sekolah dengan muka yang sedikit murung. Pak Moko pun menghampirinya.
“Nak, kamu kenapa masih di sini?”
“Eh Pak Moko, anu Pak, tadi mobil jemputannya sudah penuh jadi saya nunggu aja di sini, siapa tahu mobilnya balik lagi” ucap si anak agak kaget dengan kedatangan Pak Moko.
“Ini udah mau malam lho, kayanya mobilnya ngga balik lagi deh”
“O gitu ya Pak, gapapa Pak. Saya jalan aja gapapa, yang penting adik saya udah naik mobil dan udah sampe rumah. Ya udah Pak, saya pamit ya Pak”
Si anak yang tertinggal itu ternyata kakak yang Pak Moko temui saat ia jalan bersama cucunya keliling kota.
“Ga usah jalan Nak, ayo bapak bonceng.”
Akhirnya mereka berdua pulang naik motor. Pak Moko mengantar anak itu dan kembali ke rumah setelah matahari tenggelam, dan sesampainya Pak Moko di rumah disambut oleh istrinya.
“Pak kok baru pulang?”
“Iya tadi nganter anak yang ngga kebagian mobil sekolah dulu”
“Ya udah, sana beres-beres abis ini kita makan, Si Jen udah nunggu tuh, katanya pengen cerita sesuatu.”
Pak Moko segera mandi dan menuju meja makan yang sudah terisi penuh makanan kesukaan Pak Moko.
“Jen, katanya mau cerita, mau cerita apa emang?” tanya Kakek pada cucunya.
“Tadi, Jen naik mobil sekolah Kek, bareng Mang Ucup. Seneng banget deh Kek, bisa liat temen-temen sekolah. Jen duduk di sebelah Mang Ucup terus liatin temen-temen naik turun mobil.”
“Emang Jen naik dari kapan sampe kapan?”
“Jen naik dari siangan sih Kek, sampe Mang Ucup selesai nyetir” Jen terus bercerita keasyikan naik mobil sekolah itu.
Sang kakek hanya bisa menghembuskan napas yang berat. Pak Moko akhirnya angkat bicara soal kegelisahannya.
“Jen, Kakek juga mau cerita nih boleh ngga?”
“Gimana tuh Kek?” jawab Jen penasaran.
“Jadi, dulu pas zaman Umar bin Khattab jadi khalifah (pemimpin — red) warganya makmur-makmur semua, hampir tidak ada yang sengsara. Umar sering bagi-bagi barang buat warganya. Pernah suatu saat ia meminta anaknya untuk membagikan minyak untuk warga. Anak itu tanpa banyak tanya langsung membagikan minyak itu menggunakan wadah yang cukup besar. Ia membaginya ke penduduk sekitarnya hingga habis. Wadahnya udah kosong menyisakan minyak yang menempel di permukaan wadah. Anaknya Umar ini iseng dan mengoleskan minyak yang menempel itu ke rambutnya dan menggunakannya sebagai minyak rambut. Begitu pulang ke rumah dan Umar melihat ada yang berbeda dengan rambut anaknya. Umar langsung bertanya, “apa itu di rambutmu?”dan dengan ketakutan anaknya menjawab, “Minyak sisa Ayah, tapi semuanya sudah dapat kok”. Kamu tahu apa yang Umar lakukan?” Pak Moko bertanya ke cucunya.
“Ga tahu Kek”
“Umar memotong habis rambut anaknya, alasannya ‘itu barang syubhat’ (barang yang tak jelas hukumnya), sampai segitunya lho Jen, Umar takut akan sesuatu yang bukan haknya. Nah kakek pengen banget bisa kaya Umar.”
“Maksudnya Kek?”
“Iya, maksudnya kakek pengen menjauhkan hal-hal yang bukan hak kita dari keluarga kita, misalnya apa yang Jen lakukan hari ini. Meskipun itu tidak salah, dan boleh-boleh saja, tapi alangkah lebih baiknya jangan ya Jen. Kan itu mobil buat anak-anak sekolah. Tadi ada lho anak yang ngga kebagian kursi dan nunggu sampe hampir malam, eh ternyata mobilnya ngga balik. Hampir dia jalan kaki. Untung kakek bisa nganterin.”
Mendengar cerita kakeknya, Jen melipat wajahnya dan memohon maaf ke kakeknya, “maaf ya Kek, Jen janji ngga akan ngulangin lagi deh. Tapi Jen ngga akan digundul kan Kek?”
“Hahahaa, kok kepikiran gitu sih. Kakek ngga akan gundulin kamu kok.”
“Hehehe, kali aja kan Kek.”
Akhirnya malam itu ditutup dengan tawa karena tingkah lucu Jen.
