Matehatika

Muh Ibnu Razak
Nov 3 · 4 min read

Pada hari itu Ziyad sudah meneguhkan hatinya. Dia akan berterima kasih kepada Raya karena telah membantunya meski Raya tidak sadar telah membantunya dari masalah apa.

Terimakasih yang Ziyad niatkan kepada Raya bukanlah sebuah ucapan ‘terima kasih’ belaka. Melainkan sebuah rencana besar yang memerlukan skenario panjang yang dia beri nama misi ‘Matehatika’.

Ya, Ziyad akan menyatakan cinta kepada Raya!. Sudah hampir satu bulan yang lalu Ziyad mulai menyukai Raya. Padahal mereka saling mengenal sudah lebih satu tahun yang lalu. Namun, sebenarnya Ziyad sendiri masih ragu dengan perasaan cintanya. Ada bias yang perlu iya telusuri didalam pikirannya. Tetapi, untuk saat ini Ziyad meyakini dirinya mencintai Raya kedalam jenis cinta philia.

Akhirnya Ziyad menyatakan cinta, dan kau tau hasilnya seperti apa? Yap, Raya menjadi kebingungan dan akhirnya menjauhinya. Ikatan persahabatan yang telah dijalin lama akhirnya tercederai oleh sebuah cerita asmara.

Tunggu dulu, apa dia tidak berpikir panjang? kenapa dia bodoh sekali 😭

Tidak kau salah, justru sedari awal memang ini yang Ziyad rencanakan. Ziyad sengaja menumbalkan dirinya. Dia sengaja membuat Raya kesusahan dan merasa tidak tenang karena ulahnya ini. Ziyad ingin mengajak pikiran Raya bertamasya, lebih tepatnya mengajak Raya supaya berpikir kritis menyikapi problem yang sama dan ini menjadi semacam latihan untuknya. Rencana gila memang.

Awal mula kenapa Ziyad melakukan hal ini karena Ziyad kesal dan rasanya perlu membantu Raya. Dulu Raya pernah menjalin hubungan asmara dengan Jay, yang dimana Jay juga merupakan kenalan Ziyad. Namun hubungan antara Jay dan Raya akhirnya harus kandas karena satu dan lain hal.

Raya pernah berkelakar pada Ziyad kalau Jay sudah mati. Jay yang dia kenal sekarang bukanlah bukan Jay yang dulu lagi. Walaupun pada akhirnya Raya mengklarifikasi kalau kebenciannya terhadap Jay hanya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri karena dia takut masih menaruh harapan lebih kepada Jay. Sebenarnya dia tidak benci, bahkan dia tidak bisa membenci Jay.

Ziyad tidak tahan dengan cara berpikir Raya yang meyakini bahwa tidak ada yang dapat dia atau mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini–walaupun sebenarnya tidak ada konflik selepas mereka mengakhiri hubungan, yang ada hanya konflik batin. Jika mentalitas korban seperti ini dibiarkan terlalu lama, khawatirnya Raya lebih senang menyalahkan orang lain atas masalahnya atau menyalahkan situasi diluar dirinya. Ya tentu saja itu bisa membuat Raya merasa lebih baik untuk sementara waktu, namun ini akan menggiring Raya pada kehidupan yang penuh amarah, ketidakberdayaan, dan keputusasaan.

Kini antara Jay dan Raya seolah-olah seperti orang yang pernah kenal. Bukan sebagai orang yang saling mengenal. Kalaupun mereka berinteraksi dan bercakap masih ada dinding ego yang membatasi keduanya dan itu sangat menjengkelkan buat Ziyad.

Bagi Ziyad, setiap upaya untuk lari dari kenyataan yang pahit, menghindari, atau membungkamnya hanya akan menjadi bumerang. Berusaha menghindari rasa sakit sama halnya dengan berurusan terus menerus dengan rasa sakit itu sendiri.

Tapi kan yang dilakukan Ziyad justru sama sekali tidak membantu! Memangnya dia punya solusi?

Ziyad memang tidak punya solusi. Tapi kita sebagai manusia punya akal kan? Hidup berakal mati beriman, itu petuah yang selalu Ziyad pegang. Ziyad hanya memberi jalan kepada Raya untuk menemukan cakrawala dan cara pandang yang baru. Agar Raya belajar dari pengalaman dan tidak bertindak berdasarkan perasaan emosional. Ziyad hanya ingin Raya berani mengambil sikap dan bertanggung jawab atas keputusannya. Ziyad heran, kenapa Raya harus takut jika kelak akan berharap kembali kepada Jay? Toh bukankah harapan itu merupakan keinginan yang baik-baik untuk yang diharapkan.

Eng anu, interupsi…

Iya iya cerewet, semua orang tau kalau berharap itu hanya ke Tuhan Yang Maha Esa, bukan ke mahluk ciptaannya. Berharap pada manusia satu tindakan yang wajar, namun terlalu bodoh untuk di lakukan terus menerus. Oleh sebab itu jika kau memiliki harapan pada seseorang, gantungkan harapan mu lewat doa. Bukan pada kode atau kata-kata ketika kalian sedang berdebat. Kalaupun harapanmu tidak terkabul itu semua karena pada dasarnya, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Berharaplah menggunakan akal bukan dengan perasaan saja.

Dari semua masalah hidup yang ada, percintaan adalah salah satu masalah yang paling dangkal. Ada banyak masalah yang lebih penting dalam hidup yang pantas kita pedulikan. Tapi berbicara memang tidak semudah melakukan. Butuh latihan seumur hidup. Nah ini dia latihan yang Ziyad berikan kepada Raya. Walaupun Ziyad harus berlapang dada merelakan hubungan baik mereka merenggang untuk sementara atau mungkin bisa selamanya.

Raya tidak berlatih sendiri kok. Ziyad juga sama sedang berlatih. Begitu Ziyad tau bahwa dia menyukai Raya, Ziyad paham betul bahwa ini adalah semacam karma untuknya.

Ziyad pernah berada diposisi Raya, bahkan sering. Dia ingin belajar dari rasa sakit yang dia dapatkan dari Raya agar dia bisa bersikap lebih toleran dan tau harus bertindak seperti apa ketika menghadapi situasi semacam ini–jika ada yang menyukainya lagi. Jujur, walaupun ini adalah skenario, ternyata yang Ziyad lakukan ini cukup melelahkan hatinya dan terasa menyakitkan.

Niatnya Ziyad ingin memperkeruh suasana dengan terus memancing Raya. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik Ziyad tidak perlu melakukan apapun lagi. Biarkan Raya memecahkan masalah ini sendiri. Lagipula Raya kan sudah sarjana, jadi setidaknya dia lebih cerdas ketimbang Ziyad.

Ziyad cuma ingin memberi petunjuk kepada Raya bahwa jangan terlalu percaya pada pikiran sendiri. Tidak semua yang kita pikirkan adalah kebenaran. Kita harus punya rasa ragu yang digunakan dengan baik. Butuh sekali banyak pertanyaan dan refleksi untuk menyimpulkan suatu permasalahan. Jadi jangan asal menilai dan tenggelam kedalam asumsi.

Ziyad hanya bisa membantu sampai disini. Ziyad hanya bisa membantu dengan memberi Raya masalah. Dia percaya kepada Raya bahwa Raya bisa menjadi pribadi yang Bestari.


Judul ini terinspirasi dari lagu Figura Renata di album bingkai siklus. Terimakasih Bima dan Devia

    Written by

    Belajar menulis. Selamanya

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade