Iqbal Muhammad
Sep 9, 2018 · 4 min read

Pasien Rumah Sakit Jiwa yang Jiwanya Lebih Sehat dari Orang Waras. (Bag. 1)

Di mataku, nama Grogol bermakna dua hal: macet yang tak kunjung reda, dan rumah sakit jiwa.

Untuk urusan macet, adalah sesuatu yang lumrah bagi warga Ibukota. Berkunjunglah ke Jakarta pada sembarang waktu: pagi, siang, sore, malam. Jamak pemandangan ini terlihat di setiap jengkal sudutnya. Termasuk daerah Grogol.

Tapi lupakan sejenak hal itu. Setiap kita punya persepsi dan kedongkolan masing-masing yang ingin ditumpahkan.

***

Sabtu kemarin, Ibu mengajakku berkunjung ke rumah sakit jiwa Grogol. Ada kerabat jauh yang dimasukkan ke sana disebabkan kecelakaan dan membuat isi kepalanya agak korslet. Ini adalah minggu kedua ia menginap di sana.

Pikiranku lantas hinggap pada obrolan dengan kawan-kawan jaman sekolah dulu. Tentang kelakar apabila menemukan salah satu kami yang bersikap konyol, maka tak lain pasien rumah sakit jiwa Grogol. Lucunya, kami sama sekali belum pernah ke tempat itu dan pula tak berminat. Rumah sakit jiwa Grogol hidup dari candaan-candaan kecil kami.

Siang ini, bertahun lewat, aku menemukan diriku berdiri di halaman rumah sakit jiwa itu untuk kali pertama. Setelah melafadz doa tolak bala 3 kali, dengan mantap kulangkahkan kaki menuju beranda. Di sana sudah menunggu keluarga dari kerabat jauhku. Kami lalu diantar memasuki "asrama".

Kesan pertama tempat ini seperti gambaran rumah sakit pada umumnya: bangunan panjang bertingkat-tingkat, cat putih, selasar dengan penerangan redup, dan jururawat yang lalu-lalang. Sampai di ruangan yang dituju suasananya pun dibuat sedemikian rupa. Kamar besar berisi 10-12 penghuni dengan masing-masing ranjang yang dijejer terpisah.

Jururawat yang menemani kami menerangkan: selain ruangan "normal" ini, ada juga ruang isolasi yang dikhususkan bagi pasien dengan tingkah laku ekstrem. Lalu ada ruang VIP—di mana pikiran nakalku mengatakan penghuninya tak lain para politisi yang kalah saat berkampanye dulu.

Saat itu jam istirahat. Selain kerabat jauhku, ada 3 pasien lain yang tersisa di dalam ruangan. Diam-diam kuamati satu per satu. Aku terkesan pada perilaku teduh mereka. Terutama pria setengah baya yang sedang tepekur menghayati selembar koran.

Seakan membaca pikiranku. Ia menengok ke arah kami dan melambaikan tangan, memberi isyarat untuk mendekat. Ibuku menggoda agar aku berkenan menghampiri. Aku ragu sejenak lalu menoleh pada jururawat, meminta pertimbangan. Jururawat yang baik hati itu tersenyum sambil mengangguk kecil.

Ndak apa-apa, Mas.” Katanya meyakinkanku.

Aku beranjak ke kasur paling ujung tempat pasien itu berada. Tangannya diikat semacam tali-temali yang tersambung pada para-para besi dengan panjang ukuran yang sudah diperhitungkan demi mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Aku memilih duduk di ranjang kosong tepat di sebelahnya. Penghuni ranjang itu entah sedang bepergian ke mana. Baru saja aku mengatur posisi duduk, tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan.

Man robbuka?”

Aku melongo. Sedetik, dua detik, tiga detik...

Man robbuka?” Dia mengulang.

Aku mengikik dalam hati. Terlebih melihat mimik wajahnya yang serius serta kepolosan di sorot matanya saat mengucap hal itu.

Kutekan rahang kuat-kuat sambil berusaha keras menyembunyikan perasaan geli. Butuh perjuangan besar untuk menahan tawa dalam situasi seperti ini.

Antum bisa bahasa Arab?” Katanya melanjutkan.

Aku masih membisu. Maka dimulailah pelajaran yang mengesankan di tengah hari bolong itu.

Fa-’ala yaf-’ulu fa’lan... Wa maf-’alan fa huwa fa’ilun wa dzaka maf’ulun... Maf’ulun bih. Pahamkah antum maksudnya?”

Aku paham, tapi aku menggeleng. Itu adalah teori dasar ilmu shorof, salah satu elemen penting dalam kaidah bahasa Arab. Fungsinya semacam tenses pada bahasa Inggris. Fa-'ala yang berarti kata kerja—mewakili past tense, dan yaf-'ulupresent tense. Pelajaran yang diterapkan mula-mula di setiap pondok pesantren. Salafi maupun modern.

Aku tahu karena aku bagian dari itu — keluarga besarku berasal dari kalangan santri. Paman-pamanku dari pihak Ibu terdiri dari para alim ulama dan sebagian mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat: sebagai pengajar, penceramah, pengasuh pondok pesantren, maupun menekuni bidang politik praktis. Perihal lain juga karena kakekku—lelaki berhati emas itu—sejak mula mengirim anak-anaknya ke sekolah yang memuat pelajaran bahasa dari tempat lahirnya agama kami sebagai pondasi awal. Tradisi berlanjut ke anak-cucu.

***

Pria di depanku kemudian berceloteh panjang-lebar. Katanya, dulu ia pernah berguru di sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah. Hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari berbagai macam ilmu akhirat.

“Bahasa Arab adalah bahasa surga. Pelajarilah baik-baik. Bahasa itu yang kelak menyelamatkan kita di hari penghakiman.”

Aku mengangguk takzim.

Ia melanjutkan ocehannya tentang cabang-cabang ilmu yang dulu pernah kupelajari juga. Dari fiqih yang berisi thaharah atau cara bersuci dan hukum tata kelola Islam lainnya, lalu kemudian nahwu, muthala’ah, sampai mahfudzat—kata-kata mutiara/ungkapan bijak.

Man shabara...” Lagaknya seperti guru yang sedang menerangkan pelajaran.

...dzafira.” Aku tergoda untuk melanjutkan. Dalam hati tetap mengikik geli.

Senyumnya mengembang. Mungkin setelah beratus-ratus kali ia mempraktekkan template yang sama, baru kali ini ada yang menanggapi.

Di sisi lain aku terkesima. Ini adalah pengalaman pertamaku ke rumah sakit jiwa dan langsung menemukan perilaku unik: seorang pasien setengah baya yang tanpa tedeng aling-aling memberi pelajaran dasar Islam beserta turunan-turunannya. Puji syukur ia tidak menawarkan praktik sholat.

Kurang lebih setengah jam aku membiarkannya mengoceh, lalu aku undur diri. Sebelum beranjak ia kembali mengingatkan.

“Bahasa Arab, bahasa surga.”

Iqbal Muhammad

Written by

Sesap kopimu dalam-dalam. Penghilang kantuk, pereda peluk.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade