FENOMENA (BARU) DUNIA PENDIDIKAN ETIKA.

Ilustrasi cover : eatpurpose.com

Kemunculan perangkat telekomunikasi berupa telepon seluler pada 03 April 1973 oleh Dr. Martin Cooper kemudian muncul Operation System (OS) Blackberry oleh Mihadis Lazaridis dan disusul oleh penemuan Operation System (OS) Android oleh Andy Rubin. Dengan rentang waktu 43 tahun telepon seluler mengalami transformasi bentuk, sistem operasi, dan layanan detail tiap produsen telepon seluler. Telepon seluler sudah bukan menjadi barang mewah lagi, jumlah telepon seluler yang sekarang beredar di dunia mencapai 6,800,000,000 unit. Pengguna telepon seluler di indonesia pada tahun 2013 telah mencapai 236,800,000 dari total penduduk yang berjumlah 237,556,363 jiwa pada tahun yang sama. Wajar bila pada abad 21 ini melihat seseorang mempergunakan layanan dari telepon seluler untuk mempermudah aktivitas komunikasi dengan orang lain. dibawah ini merupakan info grafis pengguna telepon seluler di Indonesia pada awal tahun 2014.

Info grafis pengguna telepon seluler, 2014

Melihat fenomena yang tersaji di dunia akademis yang (terkadang) miris. Etika sosial dalam tataran komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, guru dengan murid sudah dicederai oleh hilangnya kesadaran bagaimana berkomunikasi yang baik dan santun dari seorang murid kepada gurunya. Penggunaan telepon seluler untuk berkomunikasi dalam tataran ini masih saja tidak diimbangi dengan etika komunikasi pengguna perangkat telekomunikasi. Besar kemungkinan perkara ini dikarena tahap-tahap pendidikan etika sudah di gantikan dengan pendidikan kejar target. pendidikan kejar taget (deadline) punya cita rasa sendiri menempa peserta didiknya supaya menjadi orang yang tangguh dalam segi fisik dan mental dalam menghadapi dunia nyata pasca menempuh pendidikan formal.

Adanya tanggapan perihal sesuatu yang mengalami gradasi dari tinggi ke rendah pada perkara tertentu amatlah wajar. Karena pada dasarnya manusia dicipta beserta pilihan untuk memperbaiki diri. Dari yang belum mengerti menjadi mengerti, dari yang belum memahami menjadi paham. Dari masa kecil menuju masa dewasa yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menempatkan diri. Kurang lengkap apabila memperbincangkan etika tanpa memperbincangkan pendidikan sebagai sarana menyampaikan etika. Karena selain orang tua, guru dan lingkungan di ruang belajar juga turut membentuk etika seorang anak, dan pendidikan etika itu tidak berhenti pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) saja. Ketika seorang remaja memasuki lingkungan Universitas tempat menempuh pendidikan Strata Satu (S1) dan seterusnya juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan etika tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. Menurut Jan Hendrik Rapar (1996) dalam bukunya, PENGANTAR LOGIKA, asas-asas penalaran sitematis, etika adalah berarti pengetahuan yang membahas baik buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. sehingga simpul antara pendidikan dan etika ada pada proses menanamkan dan mendidik untuk membentuk fisik dan mental seseorang tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang salah dan apa yang benar, serta hak dan kewajiban moral.

Etika memiliki ruang tersendiri bagi seluruh sendi kehidupan. Ada etika profesi, etika komunikasi, etika jurnalis, etika pendidikan, etika hidup bertetangga, etika bernegara, etika keluarga dan lain sebagainya. apa yang dibahas pada status facebook bu Wuri Hadiwidjojo perihal etika berkomunikasi antara kebanyakan mahasiswa dengan dosen saat ini sangatlah miris. Mahasiswa mengejar target tugas agar terselesaikan tanpa mempertimbangkan etika komunikasi terhadap dosennya. Seperti yang dipaparkan pula dalam status tersebut, kian hari kian menurun etika yang dimiliki oleh mahasiswa. Terjadi perbedaan yang menonjol antara mahasiswa zaman dulu dan zaman sekarang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada arah kesempatan berbenah bagi mahasiswa (akhir) zaman untuk melestarikan etika komunikasi yang pernah mahasiswa zaman dulu laksanakan.

Salah satu peran etika dalam hubungan sosial adalah menjembatani penyampaian pendapat, saran dan kritik yang (wajib) melibatkan tenggang rasa dua arah dari seorang yang lebih muda kepada seorang lebih tua, dari seorang adik kepada kakak, dari seorang anak kepada bapak, dari seorang murid kepada guru, dan juga dari seorang mahasiswa ke dosen guna menemukan solusi atas perkara yang terjadi diantara keduanya.

Semoga para pembaca, khususnya mahasiswa akhir zaman ini, tidak melupakan nilai etika. dan Ctrl C + Ctrl V tanpa mencantumkan sumbernya itu mencederai etika jurnalisme.

Salam Lestari Nusantara.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated idzul dzulkifli’s story.