SEMPURNA ITU APA?

*sebuah percakapan di rumah pohon*


Keara : “Jadi menurutmu, sempurna itu apa?”

Levin : “Sempurna itu … “

Keara : “Sempurna itu…”

Levin : “Aku sulit mendefinisikannya. Kalau menurutmu, sempurna itu apa?”

Keara : “Curang. Aku ‘kan yang tanya lebih dulu. ”

Levin : “Aku akan beri jawaban setelah kamu menjawab pertanyaanmu sendiri. Memangnya enak disodori pertanyaan semacam itu?”

Keara : “Oke, baiklah. Sempurna itu…

Levin : “Sempurna itu…”

Keara : “Sempurna itu kamu.”

Levin : “Aku?”

Keara : “Iya. Maaf jika aku lancang. Aku melihat sempurna dari kedua matamu.”

Levin : “…”

Keara : “Maaf sekali. Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Tapi jujur…”

Levin : “Jelas-jelas kau tahu kedua mataku tidak berfungsi!!! Tega kau mengatakannya.”

Keara : “Sssttt…jangan marah dulu. Kamu harus dengarkan alasanku mengatakannya.”

Levin : “…”

Keara : “…”

Levin : “…”

Keara : “Aku melihat kesempurnaan diatas ketidaksempurnaan fisikmu. Di mataku, kau lebih dari sempurna. Diam-diam aku iri padamu.”

Levin : “Jangan berbelit-belit aku tidak memahami perkataanmu yang tersirat itu. Sederhanakanlah.”

Keara : “Tanpa kedua mata kau bisa mengajariku apa arti kepedulian, kesabaran, dan kebaikan yang lain. Sebelum ini kau tahu aku seperti apa? Aku egois, aku ingin hidup sendirian, sering mengeluhkan gunjingan orang terhadap sikap burukku…”

Levin : “Jadi maksudnya kau ingin buta sepertiku?”

Keara : “Jika Tuhan menginginkan kedua mataku, aku bisa apa.”

Levin : “…”

Keara : “…”

Levin : “Ke.. aku tidak serius mengatakan hal itu.”

Keara : “Mana tanganmu, dekatkan ke kepalaku.”

Levin : “Apa ini? perban? kau kenapa, Ke..”

Keara : “Seminggu yang lalu aku tidak sengaja menabrak seorang anak kecil yang baru belajar bersepeda. Tabrakan itu menyebabkan kedua matanya buta terkena pecahan kaca mobilku. Aku sedih sekali. Aku tak tahu harus melakukan apa. Saat itu yang terpikir olehku hanya bagaimana dia bisa melihat lagi. Dan satu-satunya cara adalah mendonorkan mataku kepadanya. Dia masih kecil dan baru menikmati rasanya bersenang-senang dengan sepeda.”

Levin : “Ke… maaf aku tak tahu. Aku minta maaf…”

Keara : “Sudahlah, masa berkabung telah lewat. Aku sekarang baik-baik saja dengan perban ini. Hehe”

Levin : “Lalu bagaimana caranya kau naik ke rumah pohon?”

Keara : “Tadi ayah yang membantuku menaiki tangga. Aku rindu suasana di atas rumah pohon ini. Boleh ‘kan aku menemanimu disini sampai aku bosan?”

Levin : ‘Tentu saja.”

— ditulis oleh malam yang sedang merindukan puannya

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.