tentang belajar mengikhlaskan

(source: https://www.instagram.com/p/6YNC_mJPEn/)

Well, dari judulnya.. pada mikir kalo gue lagi galooo kan? jujur sih, iya. Gue abis merasakan kehilangan. Lagi.

Relationship yang gue bangun memang engga bisa sembarangan. Membangunnya harus pake rumus fisika. Elah, serius bener?

Ya lo pikir, ini maen monopoli pake uang-uangan palsu? wkwkwkwk

Relationship yang sehat itu membutuhkan dua pondasi kuat, yaitu kepercayaan dan keterbukaan.

That’s important things.

Keduanya bersinergis.

At least, kita bisa terbuka sama oranglain apabila kita percaya bahwa ia mampu membuat kita sampai pada level nyaman.

Gue dua kali kejadian kayak gini.

dan parahnya…gue baru sadar kalo dulu gue pernah ngalamin hal ini. bedanya pada obyek yang terkait. O, shit!

Gue bingung sama diri gue sendiri, kenapa dulu gue sesusah itu buat maafin kesalahan seseorang yang notabene sahabat. Sebut saja mr. F.

Prolog dikit ya, jadi gue sama mr.F ini sahabatan dari sejak kita milih kelas penjurusan yang sama di kelas 11. Dari curhat masalah cewek, pacaran-putus-move on. Sampe akhirnya kita lulus dan kuliah di kota rantau masing-masing. Lalu, dia ganti pacar lagi dan kadang masih sempetin curhat. Pernah sih ada konflik, tapi syukurnya bisa terselesaikan. Gue kasih dia kesempatan kedua buat berubah dan engga ngulangin kesalahannya lagi.

Namun, ternyata tidak semua kesempatan kedua itu dibutuhkan dalam sebuah hubungan.

Seseorang yang enggak bisa dipercaya sekali sampe kapan-pun engga akan bisa dipercaya lagi

Kedengarannya jahat banget ya?

Agar menjadi pelajaran bahwa enggak semudah itu mengkhianati kepercayaan seseorang yang tulus. Berbuat salah itu wajar, namun jangan dijadikan kebiasaan.

Back to now*

Kejadian ini berulang kembali. Kali ini gue berhadapan dengan orang yang lebih-lebih deket -yah bisa dibilang pacar-

Ada sedikit rasa sesal dalam hati gue, yaitu kehilangan kesempatan untuk berdiskusi membahas topik-topik yang menarik. Namun, ya sudahlah, lebih baik begini daripada harus mengulang kesalahan yang sudah-sudah.

Jika seseorang udah mulai enggak terbuka tentang permasalahannya dan ternyata ada hal lain yang sengaja disembunyiin, berarti dia bukan siapa-siapa lagi di hidup gue. Gue akan memperlakukannya seperti orang asing yang kebetulan berpapasan di jalan

Gue berusaha meyakinkan diri gue bahwa seseorang yang ditakdirkan bertemu dengan kita tidak terjadi begitu saja. Semua itu melalui perantara Tuhan dan menjadi pembelajaran.

Sekarang gue sadar bahwa mengikhlaskan itu tidak melulu soal melupakan. Mengikhlaskan adalah mengajak hati kecil kita untuk sedikit demi sedikit menerima kenyataan bahwa yang pergi tidak selalu menyisakan luka. Ia akan lebih-lebih memberikanmu banyak hal. Terutama tentang belajar mengikhlaskan itu sendiri.

clossing..

“Tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan kecuali oleh orang-orang yang tak punya nyali untuk dipersalahkan.”

-🐹

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.