Etika Sosial WA Group

Sumber Gambar: https://zenkom.wordpress.com/2016/03/21/whatsapp-wa/

Sebetulnya selain WA group, chat di ponsel juga menyediakan layanan BBM group, Line group, Telegram group, dan lainnya. Saya hanya fokus pada WA group yang saya gunakan berdasarkan pengalaman pribadi.

Semenjak ada WA, kebanyakan trend bikin WA group alumni sekolah kalo habis reunian efek kangen sama cerita-cerita konyol sama teman-teman lama, WA group keluarga, WA group kantor, atau WA group yang memiliki interest yang mirip atau pekerjaan yang sama

Saya pribadi, milih-milih banget dimasukin WA group alumni sekolah dan keluarga. Karena WA group buat saya lebih ke arah koordinasi teknis pekerjaan yang harus diputuskan cepat oleh tim kerja.

Niat bikin WA group kan baik awalnya ada yang niatnya silaturahmi mempererat tali persaudaraan atau pertemanan. Kelebihan WA juga kita bisa ngetik panjang-panjang (padahal temen kita kesel juga bacanya)

Tapi ada juga efek bahaya WA group yang sifatnya tertutup sehingga butuh ketegasan dan sikap adil dari admin WA.

Agar iklim relasi di dalam WA group tetap sehat, sebaiknya perlu diperhatikan etika sosial, sebagai berikut:

1. Sejak awal sebaiknya admin membuat aturan dengan kesepakatan bersama anggota WA group mana yang Do dan Don’t.

2. Kalo anggota group itu plural berbeda keyakinan, suku dan agama, sebaiknya hindarkan kirim ayat-ayat suci yang sudah diframing dengan kalimat sinis, menyudutkan pihak yang berbeda keyakinan agama. Tidak jarang argumentasi bukan pada konten tapi ngeles bilang hanya meneruskan dari group sebelah (sebelah mana ? dan sumber pertamanya udah ga jelas terlacak karena teks rentan diketik ulang). Tidak jarang teman-teman minoritas hanya jadi penonton dari percakapan kelompok mayoritas di WA group dan akhirnya niat yang awalnya menjaga silaturahmi menjadi rusak karena yang minoritas takut bersuara tapi diam aja di group itu ga tahan merasa tersakiti dan akhirnya pada left group.

3. Jangan bikin becandaan, gambar atau video porno pada kaum perempuan yang merendahkan hanya buat dibuat keketawaan yang ga perlu oleh kaum laki-laki. Inget ibumu, saudara perempuanmu, dan istrimu juga ga enak kan direndahkan.

4. Percakapan menjadi sulit didebat terutama di WA group keluarga kalo yang bicara dianggap sesepuh dan memaksakan pendapatnya, hingga ponakan-ponakan yang nga setuju sama pendapat pakdenya, budenya, pamannya, tantenya, yang muda kebanyakan memilih diam daripada jadi ribut dan merusak hubungan keluarga. Di WA group kantor juga sama, kalo yang bicara yang jabatannya lebih tinggi dan dominan memaksakan pendapat, level jabatan yang lebih bawah cari aman daripada ketemu di kantor bermasalah.

5. Si penyebar informasi sering latah mengutip informasi mentah yang diksi kalimatnya mengandung kalimat yang menyebarkan ketakutan atau kebencian langsung main copy-paste kirim ke group lain tanpa berhitung dampak emosi dari yang baca di WA group lainnya.

6. Jangan berbagi kebahagiaan menurut perasaan pribadi tapi bikin iri orang lain. Kirim foto lagi piknik atau pamer liburan ke luar negeri, sementara kita tahu ada sejumlah teman-teman yang cari makan aja masih susah sehari-hari.

7. Selama masa pilkada, WA group yang tertutup rentan dengan saling kirim berita antar WA group lain dengan berseliweran berita-berita perang opini yang kita ga tau persis faktanya di lapangan. Buat yang memiliki status sosial yang lebih tinggi, tingkat intelektual yang dianggap sebagai panutan misalnya udah sekelas doktor atau profesor, justru harus lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyampaikan mana opini mana fakta. Tidak jarang orang yang merasa tingkat intelektualnya tinggi di kampus merasa harga opininya lebih tinggi di group awam padahal bukan ahli politik tapi opininya dianggap benar karena orang rikuh dengan gelar profesornya atau doktornya.

Etika sosial ini sangat penting diperhatikan di WA group karena jangan sampai jempol kita menyumbangkan berjatuhan korban, baik korban nama baik, kehormatan, karier dan lain-lain, tanpa kita merasa bertanggung jawab dengan alasan ngeles hanya meneruskan dari grup sebelah.

    Ifa Hanifah Misbach

    Written by

    Tukang kebun amatir. Pecinta gurilem. Senang ngelayap ke hutan. Niat menulis hanya ingin mewangikan kebaikan dari tumbuhan, hewan, dan manusia.