Refleksi Akhir Tahun: Dari Merasa Terjebak Menjadi Berkah

Terima kasih untuk 2017 yang luar biasa.

Punya banyak sahabat yang usia KTP-nya rata-rata di atas saya tapi semangat mentalnya selalu fresh seringkali membuat tubuh yang udah pengen selonjoran ini seringkali ga dikasih jeda nafas buat tenang. Anehnya saya juga sering ga tega nolak permintaan mereka membantu kejebur bareng di dunia pendidikan yang ga habis-habis persoalannya.

Tak terhitung rasa frustasi dan juga mungkin kesepian celingak-celinguk sendirian ketika kita ga punya kawan sehaluan menegakan prinsip di ekosistem kehidupan kita masing-masing, itulah kenapa kita butuh kerja barengan kata provokator manis Najelaa Shihab dan selalu ada tempat setia omelan resah akan negeri ini pada bu Henny Soepolo.

Ada banyak cinta yang mereka tawarkan ketika kami memutuskan berjalan bersama di atas jalan yang sunyi membenahi sumber daya manusia sebagai pekerjaan raksasa dunia pendidikan. Sesunyi ketika ingatan si perantau melayang 5 tahun yang lalu di tahun 2013, angin winter membeku menusuk tulang dengan lautan salju. Ekor mata kiri melirik pada tanaman mungil di ruangan kerja dan pupil mata kanan terpaku pada sms yang masuk dengan kalimat yang amat sopan meminta maaf karena membuat mahasiswanya menunggu kelamaan buat bimbingan karena sang maha guru sedang kepayahan berjalan kaki membelah tumpukan salju setinggi lututnya yang renta dimakan usia. Sontak kedua mata melihat jendela, kulihat dari kejauhan sosok berbaju hitam-hitam dengan topi model cowboy sambil mengacung-ngacungkan tas kerjanya. Dan aku tak bisa berlari menolongnya dengan hujan salju yang amat deras. Kenapa profesorku ini tak membatalkan saja bimbingan di tengah cuaca buruk seperti ini. Tapi sang mahaguru ini tahu kalo visaku sudah berkejaran dengan hitungan hari dan semua upaya mengejar sidang harus dikerahkan. Akhirnya sosok itu, membuka ruang kerjaku persis seperti penguin raksasa disiram salju disertai sapaan maaf dan senyuman yang meneduhkan hati. Itulah momen pertama kali merasa tercekat dan takjub dengan semangat usia lanjut profesor Scott Brown yang merawat mentalku seperti tanaman mungil di tempat kerjaku yang bisa saja dia anggap tak penting sebagai mahasiswa minoritas.

Sumber: https://publicdomainvectors.org

Di titik itu, beliaulah yang menjadi inspirasi munculnya konsep guru sebagai tukang kebun kehidupan yang dengan kekuatan karakter positifnya tanpa reward dan punishment memulihkan rasa traumaku sebagai murid dengan pendidikan konvensional dari belajar karena takut tidak lulus menjadi gemar belajar karena ketelatenannya menjadikan aku semangat belajar dan tidak pernah memarahiku bodoh dengan segala pertanyaanku yang bawel jika tidak mengerti masukannya. Di titik itu pula aku berjanji akan merawat murid-muridku sebagaimana dia merawat mentalku. Dan menjelang akhir studi pulang ke tanah air, dihampiri mimpi spiritual dari sang kakek, bahwa aku tak akan bisa lepas dari dunia guru maka dari itu nasehatnya, sayangi siapa pun guru sebelum kamu bertemu muka dengannya.

Dan sang waktu menjawabnya 5 tahun kemudian di tahun 2017, konsep tukang kebun kehidupan itu seolah tidak diijinkan hanya menjadi penghuni sunyi di selaput syaraf kepalaku, tukang kebun kehidupan itu harus ditularkan seluas-luasnya dan diwujudkan nyata. Tak dinyana sosok yang membuka kunci berat itu adalah sosok kontroversial yang mulutnya sering orang bikin kuping merah karena dia gatal dengan perilaku korup yang sudah menggurita di negeri ini. Dia yang sering dituding orang memiliki karakter negatif karena meledak-ledak ternyata di balik itu, hatinya begitu lurus dan gelisah dengan pembenahan mental guru yang terabaikan. Dialah yang berani pasang badan untuk kami para narasumber, berpesan pada bu Itje Chodidjah untuk membuat model pelatihan guru ideal yang bukan “seakan-akan” meningkatkan mutu guru tapi dia ingin meningkatkan mutu guru yang sifatnya nyata bisa membongkar mental blocking bahwa guru bisa berdaya merubah diri menjadi lebih baik tanpa perlu ditakuti oleh dinas atau mengejar sertifikat semata.

Ahok adalah sosok kontroversi sebagai kepala daerah yang berjasa sebagai pioner untuk mewujudkan pembenahan mental guru melalui kompetensi kepribadian dan sosial. Bahkan memiliki partner mumpuni Iwan Syahril, kami leluasa bisa membuat naskah akademik untuk membongkar miskonsepsi bahwa kepribadian dipaksakan sebagai kompetensi, padahal kepribadian itu unik tidak bisa distandarkan sebagai kompetensi. Semangat Ahok ga tanggung-tanggung dilakukan untuk menjangkau pengawas, kepala sekolah, guru-guru se-DKI dengan 1800-an peserta

Bicara mutu guru akan berjalan di tempat jika terlalu bertumpu pada kompetensi pedagogik dan profesional dengan kebijakan over instrumen dimana guru-guru yang selalu jadi korban dipersalahkan jika sekedar bersandar pada angka UKG atau UN. Seringkali pendidikan negeri ini rusak karena over instrumen yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan nasional. Kebijakan kurikulum atau model pendidikan karakter yang diubah-ubah namanya, akan mengulang kesalahan yang sama jika kita kembali menggurui guru seperti kata Bukik Setiawan, sebaliknya kita perlu belajar pada pengalaman guru di lapangan sebagai sumber belajar.

Dan mulailah hari-hari selama 6 bulan aku menemukan keajaiban-keajaiban kecil yang tak habis-habisnya berguru pada para pengalaman guru dan sesama narasumber membedah kompetensi kepribadian dan sosial dalam payung model pendidikan karakter sebagai role model yang nyata. Menyadari barengan bahwa character is doing, not knowing.

Kita sering mengabaikan hal-hal sepele yang justru berdampak tidak sepele bahkan bisa berdampak besar di ruang publik jika kita melakukannya dengan konsisten. Tidak hanya knowledge mengenai karakter, role model, komunikasi, coaching, desainer perubahan perilaku untuk siswa, dan kolaborasi yang diajarkan. Dijahit juga dengan melakukan eksperimen sosial sederhana dengan memilah sampah habis snack atau makan siang, menyisihkan dan bukan menyisakan makanan utuh yang tidak dimakan awalnya tidak mudah untuk peserta.

Sosok narasumber disiplin Weilin Han akan selalu mengingatkan peserta yang addict memainkan hp selama berlangsung materi. Membereskan dan memotret sepatu-sepatu yang berserakan di mushola juga dilakukan sebagai pengingat agar kita tidak hanya mengejar ibadah vertikal tetapi egois dalam aspek sosial dengan tidak memperhatikan kebersihan dan ketertiban lingkungan. Menjaga nasionalisme dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan mengawali dengan vibrasi spiritual melakukan doa sebelum dan sesudah kegiatan.

Tak henti-hentinya bersyukur bisa sitting class pada narasumber Weilin Han dan Itje Chodidjah yang kiprahnya sudah makan asam garam sebagai pelatih guru. Berterima kasih pada Erwan yang bisa memodifikasi modul karakter dengan memunculkan emosi-emosi yang disembunyikan guru dan diledakan di laundry emosi oleh bang Iqbal yang sering setia ditemani Athhar yang menyajikan roda emosi dari tokoh Plutchik. Mendapatkan kehormatan tokoh senior pakde Susilo dari sang Akar mau bergabung yang pengalaman lapangannya tidak diragukan keberpihakannya pada pendidikan alternatif. Bekerja dengan Deta yang aku minta maaf aku todong membantu dan senang memiliki kawan narasumber yang begitu unik dan genuine seperti Simon, Adit, Sigit, Billy, Aar, Ayu dengan bayinya yang setia dibawa ke tempat pelatihan menemani bayi Saka. Mengingat kembali jasa Farli yang pontang-panting di awal membujuk narasumber, aku masih ingat binar mata bingung itu di malam dingin di kawasan Dago Bandung yang tak kuasa kutolak. Dan terima kasih Farli, video tukang kebunnya asli bikin mewek nga nyangka ada yang mendokumentasikan perjalanan berat sekaligus mencerahkan sukma.

Sesi Laundry Emosi

Hal yang tak terduga pelatihan yang awalnya untuk membedah kompetensi kepribadian dan sosial ini pada akhirnya lebih sering berubah menjadi group therapy. Ada banyak pelajaran yang kami dapatkan dengan menghayati kehidupan guru, betapa sulitnya menjadi guru yang baik di sekolah negeri. Puluhan tahun mengabdi sebagai pendidik. Dipenuhi kewajiban administrasi dari pemerintah dengan status PNS yang sering membelenggu kreativitas dan keberanian karena takut mendapat punishment melanggar regulasi yang mengikat, sering ditekan oleh banyak orangtua agar melayani anak mereka di sekolah. Guru tidak boleh salah. Tapi di satu sisi guru juga manusia, punya keterbatasan tenaga dan serangan emosi bisa berupa cedera psikologis maupun keletihan fisik menahun dalam keseharian. Guru menghadapi puluhan siswa di ruang kelas setiap hari dan tahun terus berganti mendidik siswa baru tanpa ada pendampingan pemberian soft skill untuk meregulasi serangan emosi maupun keletihan fisik akhirnya emosi negatif mengkristal dan tidak tahu cara menyalurkan yang konstruktif. Padahal kunci keberhasilan prestasi siswa bukan semata pada aspek kognitif tetapi kuncinya ada pada RELASI yang memanusiakan antara pendidik dan siswa. Guru yang tidak bahagia akan sulit membuat siswa bahagia dan bersemangat belajar di sekolah. Guru yang tidak gemar membaca akan sulit menjaga semangat siswa untuk membaca.

Banyak guru ingin berubah untuk memahami siswa tapi tidak mudah mengubah mental dan mindset dogamtis puluhan tahun, tidak mudah menerapkan proses pembelajaran berbasis pada siswa, meskipun tahu konsepnya, masih takut jika pendapatnya berbeda dengan rekan sejawat, tidak berani membahas isu-isu sensitif seperti pendidikan seks karena dianggap tabu meskipun dalam ranah ilmiah, minim bekal penguasaan asesmen yang bermakna buat siswa sehingga kembali mengulang ujian-ujian yang berbasis kognitif. Guru-guru kita perlu disemangati untuk tidak kecil hati jika banyak yang mereka tidak tahu. Datangnya kesadaran itu mahal. Dengan kesadaran mau berpikir terbuka itu sudah pintu masuk untuk terus jadi mental pembelajar sepanjang hayat dan itu perlu pendampingan dari semua pihak yang peduli dengan pendidikan.

Pencerahan terjadi bahwa baik narasumber maupun peserta memiliki momen growth bersama-sama menjadi pelatih emosi untuk saling menguatkan bahwa karakter baik bisa ditumbuhkan dengan usaha dan berupaya sebisa mungkin meninggalkan karakter buruk yang sudah berkerak dalam reptilian brain yang sering menjebak manusia menjadi dominan ga mau kalah, rakus, kompulsif, egois, dan agresif.

Betapa membuncahnya kegembiraan ketika seorang peserta guru pasca pelatihan langsung melakukan praktik baik revolusi mental dengan cara sederhana untuk menumbuhkan karakter peduli, tanggung jawab, disiplin dengan mengosrek wc barengan dengan siswa untuk ga merepotkan OB.

Momen terlibat selama 6 bulan di pelatihan tukang kebun kehidupan buat saya adalah momen perjalanan spiritual untuk bertumbuh secara nyata dan menyadari kerapuhan dalam diri adalah kekuatan voice jernih untuk merubah diri tanpa perlu dihakimi oleh siapapun.

Tulisan refleksi ini diakhiri disini karena tetes-tetes air mata sudah menetesi keyboard butut kesayangan karena tetesan air mata ini teringat terus pak Ahok yang sudah berjasa besar di balik layar mewujudkan pembenahan mental guru dan aku tidak ingin menjadi bagian yang melupakan jasa seseorang yang sedang berada di balik terali besi karena kejamnya politik yang memakai brutalisme agama. Doaku dari orang yang tidak mengenalmu pak Ahok, semoga Tuhan menjagamu.

I’m just no body, hanya tukang kebun amatir di taman besar dunia.

(Refleksi ini akan sulit dipahami oleh orang-orang yang dibalut kebencian SARA)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.