22
Entah harus mulai dari mana tapi kamu adalah hadiah terindah diumur ke-22.
Tepat hari itu entah tuhan memang telah berencana atau kebetulan semata, kamu hadir ketika tempat kerja hanya sekedar untuk menghabiskan waktu, melihat komputer, dan melihat film-film kualitas bluray yang sering diputar.
Perlahan namun pasti kamu memberikan suasana yang beda, yang biasanya hanya di isi dengan keluhan, disibukan dengan diam, atau membawa pulang setumpuk pikiran untuk menjalani hari selanjutnya.
Sejak saat itu bukan hanya tempat yang terbagi, tetapi pikiran, hati, dan sikap pun harus selalu ada kamu didalamnya. ketika pikiran bertanya "dia betah gak yah kerja disini?", Ketika hati bertanya "bisa gak yah kalau aku jadi pacarnya?", Ketika sikap bicara "pokoknya aku harus bisa ada terus buat dia", dan berbagai macam pikiran yang bertujuan untuk menyenangkan dia.
Namun beberapa jam yang lalu semua nya sedikit berubah, tapi kali ini aku percaya bukan karena rencana tuhan. Tapi karena keadaan, keadaan yang membuatmu harus lebih bertanggung jawab atas tujuan hidupmu, Memberikan kesempatan lebih serius untuk mimpi-mimpi mu, dan membuang semua ego sejauh mungkin demi kamu dan keluargamu.
Sedih. Sedih karena tidak bisa berbagi lagi, sedih karena tidak ada kamu lagi di setiap jam kerja yang dihabiskan, sedih karena harus mendengar ini dari kejauhan, dan sedih karena kamu harus pergi sebelum mengungkapkan.
Dan akhirnya ditulisan ini aku memberanikan untuk mengungkapkan. Aku perlu waktu untuk mengungkapkan. Bukan karena malu atau tidak percaya diri, bukan! Tapi karena aku merasa kurang untuk menyayangimu, merasa belum dalam mengenalmu, merasa belum pantas menjagamu. Belum lagi berbagai pertanyaan yang terlintas dipikiran seperti "gimana kalau setelah mengungkapkan malah membuat sikap dia menjadi beda, malah membuat dia menjadi lebih sungkan, malah mempengaruhi ke pekerjaan".
Bukan jawaban yang aku harapkan dari pengungkapan, bukan juga status yang aku inginkan. Bukan, sama sekali bukan. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu hadir dalam berbagai alasan, kamu pantas mendapatkan kasih sayang.
Maaf, karena berani bicara ketika kamu sudah ada yang memiliki. Tak ada sedikitpun niat buat merebut atau mengganggu. Hanya saja, aku sudah tidak bisa lagi membohongi perasaan.
Sudahlah yang terpenting sekarang kamu sudah bisa beralih ke tahap hidup yang lebih baru. Semoga kamu bisa terus menjadi wanita kuat yang pernah aku kenal, bisa lebih bahagia sampai seterusnya, bisa menjadi apa yang orang tua kamu inginkan.
Terima kasih sudah menemani untuk waktu yang tidak lama, terima kasih telah berbagi canda dari hari ke hari. Terima kasih juga sudah mempercayai. Kelak ketika ada waktu luang, aku ingin lebih banyak bicara dengan kamu, ingin lebih lama bersama dengan kamu.
Oh iya satu lagi ketika aku menulis ini, kamu memberitahu bahwa kamu sudah mendapat pekerjaan dan akan training besok di kuningan. selamat yah! Jangan khawatir tentang apapun, akan selalu ada keberuntungan untuk kamu. Hati-hati juga dijalan besok, pakai jaket yang tebal dan jangan lupa sarapan. Supaya kamu tidak ‘sakit' ketika 'mengawali' hidup yang baru.
