Melawan Ketakutan;
— untuk seorang pemberani yang selalu hanya butuh diyakinkan.
Saya mau curhat, lagi. Rasanya isi Medium ini emang curhatan aja sih dari dulu-dulu juga. Beberapa orang teman bilang mereka nggak nyaman nulis di Medium karena menurut mereka segmentasi dari Medium adalah untuk hal-hal serius dan bermanfaat (yang berat-berat), tapi saya bodo amat. Saya suka banget sama UI/UXnya Medium. Bikin saya nyaman menulis dan bercerita, nggak tahu kenapa. Jadi yaudah saya menulis bukan untuk mengesankan siapa-siapa ini kok jadi ya gas aja lah ya!
Ohiya menulis di Medium juga saya jadi bisa tahu berapa banyak orang yang membaca dan mengunjungi tulisan-tulisan saya. Terima kasih Medium, dan 1000++ visitors yang sebulan ini mau menyempatkan untuk mengunjungi dan 300++ readers yang sebulan ini mau menyempatkan untuk membaca curhatan-curhatan saya!

Jadi, saya baru saja mengirimkan sebuah tulisan (yang sebenernya cacad banget asli) ke salah satu redaksi. Saya nggak tahu kenapa sih tapi pasca meyakinkan diri kalau emang cita-cita saya adalah menjadi seorang wartawan, saya merasa saya harus mulai dari sekarang untuk mengusahakan segala hal-hal. Selain mengirimkan tulisan, saya juga sedang mengikuti beberapa kompetisi, course, seminar, talk show dan mendaftar sebagai volunteer di beberapa event sebagai reporter, social media crew, atau public relation. Rasanya sudah cukup deh saya main-main kesana-kemari mencoba semua hal, saya sudah tahu apa yang saya mau pasti sekarang dan rasanya sudah selayaknya saya mengusahakannya. Iya kan, begitu kan ya?
Saya rindu jadi Iffah yang berani, Iffah yang selalu mengacungkan tangannya di setiap guru bertanya sewaktu SD, Iffah yang dengan PDnya promosi ke teman-temannya tentang puisi yang dibuatnya dan ditempel oleh ibu guru di mading sekolah, Iffah yang lari-larian maju ke depan tiap kali ada tawaran untuk maju ke depan di selingan menunggu pengumuman lomba, dan Iffah yang nggak pernah takut dijudge orang. Haduh, saya waktu kecil kerjaannya kayak gitu dan rasanya menyenangkan mengingatnya.
Ajaibnya, ternyata cuma butuh diyakinkan oleh sekitar untuk sadar akan hal ini, untuk memulai kehidupan yang seberbeda ini. Dan saya, yang beberapa tahun belakangan sangat krisis kepercayaan diri ini hanya selalu butuh teman untuk menceritakan itu dan ini untuk kemudian mendapatkan tanggapan yang bisa membuat saya yakin: entah untuk mundur teratur ataupun maju dengan semangat pantang kendur. Dan terima kasih Tuhan untuk sudah mengirimkan orang-orang baik yang bisa membawa saya sampai ke tahap ini. Terima kasih juga untuk orang-orangnya, nyebutnya orang-orang biar kesannya nggak cuma satu ya ini. Nanti dikiranya ngode-ngode lagi.
Beberapa hari lalu juga dihubungi oleh seorang junior, ditawari untuk mengisi materi tentang empati. Saya kaget sih sebenernya, pekerjaan saya di kampus biasanya membuat orang-orang menawari saya pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kaderisasi, eh ini tiba-tiba ngomongin empati. Kalau saya masih saya sebelum ketemu sama orang-orang sebagiamana yang saya ceritain di atas, rasanya saya akan langsung menolak, merasa tidak berkapasitas sehingga tidak percaya diri untuk berbicara itu dan ini, tapi… saya yang hari ini dengan tanpa ragu menjawab iya, meyakinkan diri kalau saya bisa. Ya, walaupun habis itu langsung baca The Art of Empathynya Karla McLaren (dan otw baca Empathy: Why It Matters, and How to Get Itnya Roman Krznaric).
Intinya, saya mau cerita kalau saya lagi seneng aja sih ini tuh. Merasa menemukan diri sendiri yang udah lama hilang, menghidupkan diri sendiri yang udah lama mati. Semoga perubahannya nggak jadi nyebelin dan mengurangi manfaat buat sekitar aja sih ya tapi, semoga…
Hehe.
Upnormal Bandung Electronic Center,
Suatu Senin selepas menonton Love for Sale 2 (Tuhan pingin punya mertua kayak Bu Ros! Huhu).
Iffah Sulistyawati Hartana,
yang cita-citanya (tetep) tinggal di timur Indonesia.
