Menghargai Proses;

“Jangan lupa buat mengapresiasi diri sendiri buat setiap proses yang udah lu lakuin. Karena kalau hasil semua orang bisa lihat, semua orang bisa mengapresiasi. Tapi prosesnya, cuma lu yang bener-bener tahu dan kalau bukan lu yang mengapresiasi diri lu sendiri, siapa lagi?”

Saya merupakan tipikal orang di belakang layar. Jika diminta untuk memilih menjadi aktris atau sutradara, maka saya tidak akan ragu untuk memilih menjadi seorang sutradara. Untuk saya, proses adalah hal yang utama sedangkan hasil adalah bonusnya. Hal ini membuat saya menjadi orang yang sangat sulit untuk kecewa. Mindset saya, manusia bertugas untuk berusaha, menentukan hasil adalah kewenangan Yang Maha Kuasa.

Saya tahu memilih untuk menjadi orang yang seperti itu tidak sepenuhnya baik, karena setiap hal di dunia ini pasti datang dengan dua sisi. Menjadi seorang yang sangat mementingkan proses membuat saya menjadi orang yang kaku, perfectionist, dan sangat tidak santai dalam bekerja. Jika saya sudah memutuskan untuk mendalami sesuatu maka saya akan hanyut di dalamnya hingga akhirnya terselesaikan. Hal ini membuat saya sulit untuk menjadi total di banyak hal, karena menurut saya definisi total adalah memilih satu.

Tapi, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa terkadang memang proses perlu dilihat dengan sebesar itu. Agar tidak ada kata menyesal yang terlontar. Karena jika kita melihat setiap proses yang kita telah lakukan maka akan terasa seberapa jauh kita sudah melangkah maju. Di luar hasil, saya percaya ada banyak hal yang dapat dijadikan teladan, dan banyak hal itu bernama pelajaran serta pengalaman. Segala sesuatu yang berarti tidak melulu harus terkuantifikasi, kan?

Biarkanlah Tuhan mengerjakan apa yang menjadi milikNya, lakukanlah apapun yang menjadi tanggunganmu, biarkan semesta merengkuhmu dengan membantu menikmati setiap proses yang ada di dalam usaha menggapai apa yang kau tuju.

Karena bahagia tergantung standar yang kamu tetapkan; jangan terlalu tinggi nanti jarang, tapi pun jangan terlampau rendah nanti bosan.

“Bukankah cerita sebuah pendakian tidak akan terasa jika hanya tentang puncak yang dituju? Ada sungai yang diseberangi, lembah yang dituruni, dan tebing yang didaki sebelum puncak itu kau tapaki.”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.