Pembuka : Berbicara Tentang Mimpi;

“Dia benar. Mimpiku memang selalu berubah, bahkan hingga hari ini. Terlalu banyak mimpi, sampai aku pun tak tahu pasti yang mana mimpi yang benar-benar harus dikejar, mana yang tugasnya hanya menghiasi tidur malam.”
— Agustinus Wibowo, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
Saya masih ingat mimpi pertama saya adalah terbang ke bulan, merasakan ada di dalam roket kemudian meluncur dengan kecepatan yang saking cepatnya tidak bisa dirasakan. Karena kecepatan itu adalah juga kecepatan saya. Saya sendiri.
Mimpi, beberapa hari lalu saya menemukan sebuah definisi yang sangat saya setujui tentang kata ini di dalam kbbi.web.id : mimpi dengan imbuhan -an pada definisi kedua di dalam kbbi.web.id diartikan sebagai cita-cita (keinginan) yang mustahil atau susah dicapai;
Saya jadi bertanya, sebenarnya hal-hal seperti apa yang bisa disebut mimpi? Selama ini ketika membantu orang-orang membuat alur berpikir, saya sering sekali bertemu dengan kata itu. Sedihnya, bahkan ternyata saya tidak tahu pasti definisinya.
“Iya ffah jadi mimpi gue, gue mau bawa himpunan gue…”
“Iya teh, jadi gua mau supaya wadah ini bisa jadi…”
“Ya mimpi gue sih, gue maunya kalau gue jadi nanti…”
“Aku punya mimpi untuk buat… sih, kak”
Sejenak saya berkontemplasi — yang dalam kbbi.web.id diartikan sebagai : merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian — , jangan-jangan selama ini saya tidak mengerti karena saya tidak pernah merasakannya? Yang saya urusi hanya apa-apa yang orang lain miliki? Maka saya pun bertanya kepada diri saya sendiri : “Jadi, mimpi kamu apa ffah?”.
Setelah berhari-hari memikirkan dengan lebih banyak melihat kilas balik kehidupan ke belakang, ternyata tidak sulit untuk menemukannya. Saya punya mimpi, mimpi saya banyak, mimpi saya besar, mimpi saya — menurut saya— baik. Tapi selama ini mimpi-mimpi itu tersudut di pikiran karena yang seringkali saya urusi adalah mimpi-mimpi orang lain, mimpi-mimpi sekumpulan orang. Maka, dalam tulisan ini izinkan manusia yang merasa — dan nggak jarang dirasa— altruis ini menceritakan tentangnya; hanya tentangnya. Tentang saya dan mimpi-mimpi saya.
Saya bermimpi tentang suatu sistem kehidupan yang bekerja seperti konsep pemerintahan demokrasi : dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Dariku, olehku, dan untukku.
Darimu, olehmu, dan untukmu.
Dari kita, oleh kita, dan untuk kita.
Dari kami, oleh kami, dan untuk kami.
Saya bermimpi orang-orang yang terlahir di Papua nantinya dapat dengan cakap memanfaatkan potensi tambangnya dengan sebaik-baiknya. Bukan justru orang-orang Jawa atau bahkan luar Indonesia yang berbondong-bondong datang kesana untuk mengeksploitasinya.
Saya bermimpi orang-orang yang terlahir di Riau nantinya dapat dengan lihai mengelola minyak bumi yang melimpah ruah di daerahnya. Dari sektor hulu hingga ke hilir. Bukan justru para insinyur yang berasal entah dari mana yang menyerbu kesana dengan tujuan untuk mendapatkan gaji de-la-pan digit setiap bulannya.
Saya bermimpi orang-orang yang terlahir di Bali, Lombok dan Nusa Tenggara memiliki kemampuan marketing dan hospitality yang baik untuk mengelola keindahan alamnya. Agar kelak tidak ada lagi agency pariwisata dari ibu kota yang membayar mereka dengan uang yang tidak seberapa untuk memandu para wisatawan menikmati daerahnya. Dan agency itu mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari uang yang diterima oleh orang-orang lokal.
Saya tidak setuju dengan adanya pemerataan pendidikan. Atau setidaknya saya tidak setuju dengan konsep yang saat ini digaungkan.
Menurut saya, setiap orang membutuhkan pendidikan.
Tapi pendidikan seperti apa yang ia butuhkan, bergantung pada apa yang sebaiknya bisa mereka lakukan nantinya. Setelahnya. Untuk kehidupannya. Untuk kehidupannya, di tempat tinggalnya, di tanah kelahirannya.
Saya bermimpi akan adanya sekolah terintegrasi di Papua, sedari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sekolah tersebut harus bisa menyadarkan masyarakat disana akan potensi daerahnya, akan apa yang mereka miliki, akan apa yang bisa mereka lakukan, akan apa yang bisa mereka dapatkan, akan siapa yang bisa mereka ajak bekerja sama, daerah mana yang bisa mereka jadikan mitra, kebutuhan apa yang tidak dapat mereka — alamnya — miliki dengan cuma-cuma sehingga harus melakukan simbiosis mutualisme dengan daerah-daerah lainnya. Pendidikan tersebut bertujuan agar orang-orang disana dapat menghidupi dirinya dengan cara yang tepat, dengan usaha yang benar, dan dengan memanfaatkan apa-apa yang sudah dianugerahkan Tuhan. Bukankah memang seperti itu sebaiknya kita bersikap pada alam? Percayalah, rasanya menjaga barang yang jadi milikmu berbeda dengan menjaga barang yang dipinjamkan oleh temanmu.
Begitu juga di Riau.
Dan Bali, Lombok, serta Nusa Tenggara.
Pertanyaannya : lalu, bukanlah hal itu dapat membuat suatu daerah merasa lebih dari daerah lainnya?
Menurut saya, disinilah seninya. Saya menyebutkan sebelumnya,
“…kebutuhan apa yang tidak dapat mereka — alamnya — miliki dengan cuma-cuma sehingga harus melakukan simbiosis mutualisme dengan daerah-daerah lainnya…”.
Saya yakin tidak ada manusia yang tidak tahu apa kebutuhannya , apa yang dia butuhkan.
Ketika lapar, pasti ia sadar bahwa ia butuh makan.
Ketika haus, pasti ia sadar bahwa ia butuh minum.
Ketika lelah, pasti ia sadar bahwa ia butuh istirahat.
Ketika penat, pasti ia sadar bahwa ia butuh hiburan.
Adanya kebutuhan ini akan menuntut manusia untuk memenuhinya. Memenuhi kebutuhannya, memenuhi kebutuhan kelompoknya, memenuhi kebutuhan daerahnya. Dan ketika ternyata Tuhan tidak menganugerahkannya ‘alat’ untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara langsung, maka ia akan berusaha untuk memenuhinya dengan mencari dan mendapatkannya dengan apa yang dimilikinya.
Konsepnya : Manusia adalah makhluk sosial. Maka sekumpulan manusia adalah merupakan makhluk-makhluk sosial.
Sampai disini saya menemukan beberapa kata kunci dari apa yang saya mimpikan : kemelekan, kesadaran, kepedulian, kemauan, dan kemandirian.
*Ngomong-ngomong, saya memiliki keinginan untuk tinggal di daerah 3T. Sepertinya seru menjadi masyarakat di daerah 3T, seperti apa ya rasanya nantinya? Ah, semoga Tuhan suatu saat nanti memberikan kesempatan.*
Mengakhiri tulisan ini sebagai orang yang tidak cakap mengakhiri tulisannya. Saya jadi ingin berbagi mimpi. Tentang masa depan nanti, jika mimpi saya di atas tercapai maka aka terwujud keadaan dimana masyarakat dapat saling bersinergi dan berkolaborasi untuk menjalani kehidupan ini.
Gitu nggak sih? Atau mimpi-mimpi ini masih terlalu abstrak dan loncat-loncat?
18.26
Bandung, 4 September 2018
Iffah Sulistyawati Hartana
Mahasiswi yang katanya salah satu perannya di masyarakat adalah sebagai agent of change
