[Self Notes #1] Sendiri;

“Aku tidak takut sendiri. Tuhan juga sendiri. Dan Dia bisa jadi yang maha kuat karena itu.”

— Soe Hok Gie

Beberapa malam lalu saya mengobrol bersama seorang teman, teman yang sebenarnya tidak terlalu saya kenal. Kami memiliki banyak perbedaan, sangat banyak perbedaan. Dari gender, jurusan, unit, teman, idealisme, kegiatan, hingga kepercayaan. Dan saya menemukan suatu hal bahwa perbedaan dapat membentuk suatu obrolan yang dinamis. Pada akhirnya.

“Yang harus lo inget, pada akhirnya lo bakalan sendirian sih, Ffah. Dan gue udah pernah ngerasain itu. Gimana waktu gue udah ngebela-belain ini dan itu buat orang banyak, pas ketika gue harus menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan diri gue sendiri, nggak ada orang yang ngesupport gue, orang-orang pergi dan ya gue harus survive sendiri.”

Iya, orang itu benar. Dan saya setuju. Saya selalu percaya bahwa memang tidak ada orang yang abadi adanya di dunia kita, bahkan orang tua kita sekalipun. Pada akhirnya, takut akan kesendirian adalah hal yang paling harus dan bisa ditertawakan dari apa yang dilakukan oleh seseorang.

Lah wong itu suatu kepastian.

Jadi, halo kesendirian.
Yuk berteman!

Bandung, 46 tahun setelah Indomie diperkenalkan ke khalayak luas.
Iffah Sulistyawati Hartana,
Belum ngerjain tugas Alapan dan Kapal. WKWK

    Iffah Sulistyawati H

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade