Tatkala Senja;

Dahulu sekali nenek kerap mewanti, untuk lekas pulang ketika senja datang. Katanya, banyak hal kurang baik yang terjadi selepas senja.

Tapi, lain cerita jika senja itu langit berwarna kuning terang. Nenek akan langsung membawa saya ke atas balkon rumah. Kemudian menatap senja bersama dan mengusap-usap wajah saya. Saya lupa bagaimana nenek menyebutnya tapi intinya, jika langit sedang seperti itu tandanya sang Dewi sedang membagikan kecantikannya kepada dunia. Dan mengusap wajah adalah salah satu cara menangkapnya.

Semasa SMA saya selalu suka menatap senja dari altar sekolah saya. Hijaunya tanaman di hadapan yang terbentang luas sebagai halaman Istana Bogor berkolaborasi meneduhkan mata bersamanya.

Senja favorit saya yang lainnya ketika SMA adalah… adalah ketika kaki saya melangkah menaiki gerbong kereta tanpa tahu akan kemana. Saya selalu suka senja yang saya dapatkan tanpa rencana. Senja dari balik kursi kereta, senja dari peron stasiun, dan senja-senja lain yang bisa saya dapatkan entah dimana bahkan sayapun tidak mengetahui persisnya.

Dan sejak kuliah, duduk di teras CC Barat adalah cara favorit saya dalam membersamai senja. Senja selalu indah untuk saya. Atau mungkin tidak hanya saya, tapi seluruh orang di muka bumi ini memiliki ceritanya masing-masing tentangnya.

Karena senja memiliki banyak arti,
Kepulangan,
Kepergian,
Peristirahatan,
Kebersamaan,
Pertemuan,
Perpisahan,
dan masih banyak lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.