Ketuk

tok tok
ada banyak kamar disini
banyak lorong disini
tok tok
ada banyak pintu disini
tok tok
tok
tok
pintu pintu dengan berbagai nama
dan kejadian
serta tanggal
jam
menit
detik
tok tok tok
aku ketuk salah satu pintu dengan nama ‘Astuti’
keluar wanita cantik samar-samar berambut pirang
saat aku tanya dia siapa
dia bilang dia adalah salah satu teman-temannya-temannya aku
wajahnya samar-samar
samar-samar
yang sebentar lagi hilang
tok tok tok
aku ketuk salah satu pintu dengan tertera hanya tanggal pada bulan Mei kalau tidak salah
keluar wanita bertelanjang dada sambil mencolekku
bertanya, “mau lagi?”
aku masuk menembus wanita itu
kemudian terlihat wanita tua yang menampar anaknya
karena mengaku
kalau dia tidak pernah menyukai lawan jenisnya
terdengar berulang-ulang
ulang-ulang
ulang
“kamu tidak pernah menjadi anakku lagi!”
samar-samar
samar
wanita tua itu hilang
tok tok tok
aku ketuk lagi salah satu pintu yang hanya tertera jam saja, agak lewat tengah malam
pintu itu terbuka dengan sendirinya
aku melihat diriku sendiri yang tengah berbaring
sambil berbicara sendiri
dan itu berulang-ulang
dengan berbeda pakaian, sprai, tempat
bahkan orang yang ada di samping tempat tidur tersebut
dengan berbeda cerita, tentang hari itu, tentang hari besok, bahkan tentang hari kemarinnya
dengan berbagai emosi, menangis, tertawa kecil, jatuh cinta, bahkan meraung kesakitan
aku sedang bercerita kepada semesta setiap malamnya
tok tok tok
aku mengetuk beberapa pintu yang ingin kuketuk
aku tidak mengetuk pintu yang tidak ingin aku ketuk
sampai aku berada di ujung lorong samar-samar penuh dengan distorsi tersebut
ada pintu berdebu yang hanya bertuliskan nama seorang wanita dengan keterangan tak hingga
ku ketuk perlahan tidak pernah pasti
tok
tok
tok
tok
tok
t..
pintu itu terbuka dengan terburu-buru
keluar wanita dengan wajah yang biasa saja namun buat semua orang jatuh cinta yang melihatnya
“kamu kemana saja kok gapernah kesini lagi?”
aku langsung memeluknya
“maaf, aku terlalu sibuk mencari”
dia membelai rambut bergelombangku sambil menyapu semua pintu-pintu memori yang ada di belakangku menyikapnya dalam jubah besar melingkupi kami berdua
“biar lekat tanpa harus mengingat-ingat”
hilang lorong-lorong distorsi
kini aku tahu kenapa aku mencari
agar untuk bisa kekal bersamanya disini
