Ketuk

Salsabila Nadhifah
Nov 5 · 2 min read

tok tok

ada banyak kamar disini

banyak lorong disini

tok tok

ada banyak pintu disini

tok tok

tok

tok

pintu pintu dengan berbagai nama

dan kejadian

serta tanggal

jam

menit

detik

tok tok tok

aku ketuk salah satu pintu dengan nama ‘Astuti’

keluar wanita cantik samar-samar berambut pirang

saat aku tanya dia siapa

dia bilang dia adalah salah satu teman-temannya-temannya aku

wajahnya samar-samar

samar-samar

yang sebentar lagi hilang

tok tok tok

aku ketuk salah satu pintu dengan tertera hanya tanggal pada bulan Mei kalau tidak salah

keluar wanita bertelanjang dada sambil mencolekku

bertanya, “mau lagi?”

aku masuk menembus wanita itu

kemudian terlihat wanita tua yang menampar anaknya

karena mengaku

kalau dia tidak pernah menyukai lawan jenisnya

terdengar berulang-ulang

ulang-ulang

ulang

“kamu tidak pernah menjadi anakku lagi!”

samar-samar

samar

wanita tua itu hilang

tok tok tok

aku ketuk lagi salah satu pintu yang hanya tertera jam saja, agak lewat tengah malam

pintu itu terbuka dengan sendirinya

aku melihat diriku sendiri yang tengah berbaring

sambil berbicara sendiri

dan itu berulang-ulang

dengan berbeda pakaian, sprai, tempat

bahkan orang yang ada di samping tempat tidur tersebut

dengan berbeda cerita, tentang hari itu, tentang hari besok, bahkan tentang hari kemarinnya

dengan berbagai emosi, menangis, tertawa kecil, jatuh cinta, bahkan meraung kesakitan

aku sedang bercerita kepada semesta setiap malamnya

tok tok tok

aku mengetuk beberapa pintu yang ingin kuketuk

aku tidak mengetuk pintu yang tidak ingin aku ketuk

sampai aku berada di ujung lorong samar-samar penuh dengan distorsi tersebut

ada pintu berdebu yang hanya bertuliskan nama seorang wanita dengan keterangan tak hingga

ku ketuk perlahan tidak pernah pasti

tok

tok

tok

tok

tok

t..

pintu itu terbuka dengan terburu-buru

keluar wanita dengan wajah yang biasa saja namun buat semua orang jatuh cinta yang melihatnya

“kamu kemana saja kok gapernah kesini lagi?”

aku langsung memeluknya

“maaf, aku terlalu sibuk mencari”

dia membelai rambut bergelombangku sambil menyapu semua pintu-pintu memori yang ada di belakangku menyikapnya dalam jubah besar melingkupi kami berdua

“biar lekat tanpa harus mengingat-ingat”

hilang lorong-lorong distorsi

kini aku tahu kenapa aku mencari

agar untuk bisa kekal bersamanya disini

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade