Efek Pasca Kolonialisme

Salah satu alasan mengapa di Indonesia turis seketika jadi artis

Pada dasarnya kita semua manusia yang sama. Terkadang perbedaan sederhana ada pada daya tangkap, kecepetan dan cara berpikir serta menganalisa, dan attitude kita. Ada yang terlahir di benua asing, ada yang di Indonesia, ada yang beda di warna kulit, mata, rambut, gigi, bentuk telinga, panjang tangan, panjang kaki, panjang lidah, silat lidah, goyang lidah, goyang dumang, dan hal lainnya. Intinya sama, satu spesies, Homo Sapiens

Manusia yang perbedaanya sederhana ini, pada jaman dahulu kala ada yang melakukan penjelajahan dan penjajahan, hingga tibalah di Nusantara. Kebetulan manusianya berkulit putih. Niatnya sederhana, menjelajah, mengambil rempah, ekspansi, atau misionaris. Namun, suatu hari, nusantara merdeka dan berganti nama menjadi Indonesia. Berpuluh tahun setelahnya, generasi sisa para penjelajah — bukan lagi penjajah — datang kembali, dengan warna yang tetap sama, tapi usia, cerita, dan tujuan yang kini berbeda. Ada yang mau berwisata, melakukan kunjungan kerja, mengadakan kerjasama antar negara, merumuskan kesepakatan bisnis, melahap apa yang ada, berpindah warga negara, atau pengen tau aja

Maka, setelah berpuluh tahun tak bertemu secara langsung, masyarakat Indonesia takjub. Bagaimana mungkin para penjelajah kembali padahal dulu sudah terusir? Untungnya, hampir semua dilanda amnesia. Tak ada yang ingat penuh kisah lampau tentang penjajah dan penjelajah. Mereka hanya tahu bahwa ada sekelompok bangsa yang sempat menduduki Indonesia, dan kini manusia yang berbeda warna tersebut dikenal dengan istilah bule — selanjutnya dibaca ia — , yang diketahui hanya mampir untuk menikmati keindahan alam dan budaya Indonesia, budaya sisa peninggalan penjelajah yang dijajah dan dijarah. Mereka pun menyebar di Indonesia

Hampir di seluruh daerah Indonesia — kecuali kota besar dan tempat wisata terkenal — jarang ada yang melihat manusia berkulit putih dengan perawakan berbeda (stranger), hingga pada satu titik, kelangkaan mendadak ini diabadikan dengan kamera atau keramahan tegur sapa. Ia pun senang aja karena setiap langkah bisa memancarkan aura keartsian yang mudah dihapal, apalagi kalau sudah menyangkut pembelajaran budaya, pembangungan cerdas di masyarakat, dan kritisasi yang membangun bagi Indonsia. Terlepas dari itu, ia memang berbakat tenar bawaan jika berada di Indonesia. 
A gift from people around

Jaman kolonial, jaman susah

Dahulu, masa dimana ia tiba, menjelajah dan menjajah dikenal dengan masa kolonial, atau jaman serba susah jika para tetua berkisah. Saat-saat dimana keringat dingin selalu bercucuran, kecemasan setiap kedipan, lari jika berani, dan sembunyi tanpa kembali. Siklus yang sama terjadi berulang hingga datangnya hari kemerdekaan. Kini jaman susah sudah terlewati, berubah menjadi jaman pasca kolonial (post kolonial), jaman dimana banyak dari kita lupa terhadap hal yang telah lalu, terhadap ia yang tiba, terhadap penjelajahan dan sisa penjajahannya. Kondisi ini, ketika suatu negara sudah pernah dijajah, tentu menimbulkan beragam efek, entah itu baik atau buruk, ini tergantung dari sikap masyarakat negara tersebut. Namun, secara umum yang biasa terjadi adalah:

1. Munculnya pandangan lintas budaya
Karena satu negara pernah diduduki lebih dari satu kekuasaan dengan budaya yang berbeda
2. Munculnya kritik sosial yang keras
Hal ini dipicu oleh kesenjangan sosial yang jauh antara imperialis dan rakyat biasa, perbudakan, dan sebagainya
3. Munculnya padangan superioritas 
Pandangan terhadap bangsa barat, bangsa penjajah yang lebih hebat dan unggul (dalam beberapa sisi)

Pandangan superioritas ini menarik. Keunggulan dan keteladanan bangsa penjelajah dan penjajah menjadi dampak positif yang dapat diserap. Tentu saja, siapa yang mau menyerap hal negatif? Tapi, rasa nasionalis yang mengikis menjadi — salah satu — masalah besar bagi negara mantan jajahan, kaum post kolonialis, kaum yang hidup pasca jaman kolonial

Sudah pasti, hal yang dianggap lebih hijau menjadi idaman bagi setiap masyarakat Indonesia — imbas dari pandangan superioritas — . Kondisi negara yang lebih modern, bersih, sejahtera, musim yang lebih banyak, dan kemudahan publik, adalah beberapa contoh pandangan yang diketahui. Tentunya, ini melekat pada penduduk setempat yang tiba ke nusantara pasca kolonialisme

Gambaran Negara Hijau Pada Umumnya

Lekatan ini mungkin yang menyebabkan ia yang tiba ke Indonesia saat ini menjadi incaran. Karena dilihat lebih hijau, sudah pasti banyak yang mengidamkan hingga bikin penasaran. Hal ini dibuktikan dengan pengabadian dalam gambar, tegur sapa dalam keramahan, dan pertanyaan seputar ia dan negaranya. Pembuktian ini ditujukan bagi ia dalam segala strata sosial, mulai dari petinggi negara, hingga masyarakat biasa. Biasanya, buruh juga bisa dengan mudahnya berlibur ke Indonesia, sedangkan bagi masyarakat kita, jangankan berlibur ke luar negeri, berkeliling negara sendiri aja belum tentu, berpergian ke luar pulau nan jauh juga belum tentu. Bisa jadi juga, mungkin, karna warna yang berbeda membuat ia menjadi incaran spesial. Bayangkan jika kita melihat apel merah di tengah tumpukan apel hijau, pasti akan ada perlakuan istimewa bagi apel merah tersebut, yang langka dan manisnya terasa. Kecuali kita sudah kadung apatis terhadap segala hal

Namun, perlu diingat bahwa attitude dasar dan tujuan setiap orang kepada ia berbeda-beda. Makanya, perlakuan terhadap kaum ia juga berbeda. Banyak juga kok orang yang cuek bebek, tidak menganggap ia sebagai artis, tapi sebagai manusia biasa, manusia yang patut dihormati, dan saling menghargai kepada sesama dengan warna apapun, tidak lebih dan tidak kurang. Dan, tidak semua ia juga mau diajak berfoto bersama atau ditanya hal-hal seputar ia dan negaranya. Sejujurnya, saya sampai sekarang juga masih terkena efek ini, bukan untuk berfoto dadakan, tapi bermipi untuk berjelajah

Jika kita hidup di tanah hijau apakah kita memiliki aura yang sama?Atau malah sebaliknya, kaum non kulit putih bukan dianggap sebagai artis, tapi sebagai… ah sudahlah

Jangan tanya saya.

Salam senyum :)
@igmerwina


Sumber kisah post-colonialism ini saya dapat dari perkuliahan teman saya, Nana Purbandari. Selain pasca kolonial, juga masih ada beberapa teori serupa, seperti teori post-modern dan post-office. Kata terakhir digunakan untuk berkirim surat, bukan teori sejarah he..he
Show your support

Clapping shows how much you appreciated I GM Erwin Ardiantha’s story.