Tukang Parkir Palsu

Sulit membedakan antara tukang parkir dan manusia jadi-jadian

Juru Parkir

Saya sering berpergian keluar rumah untuk pergi ke tempat perbelanjaan (mini-ndo-alpa-maert), tempat wisata, kios fotokopi, warung kopi, dan tempat-tempat yang lainn. Siklusnya pergi, berhenti, parkir, memperoleh yang saya cari, lalu kembali pulang ke rumah

Kata (me)parkir menurut kbbi berarti:

me·mar·kir: v menghentikan atau menaruh (kendaraan bermotor) untuk beberapa saat di tempat yg sudah disediakan

Nah, biasanya, ada orang yang menjaga kendaraan yang kita parkir tersebut, dikenal dengan nama tukang parkir. Kata tukang menurut kbbi artinya…

1. orang yg mempunyai kepandaian dl suatu pekerjaan tangan (dng alat atau bahan yg tertentu): — batu, — besi, — kayu; -
2. orang yg pekerjaannya melakukan sesuatu secara tetap: — pangkas (cukur); — las; — jahit; — masak; — cetak
3. orang yg biasa suka melakukan sesuatu (yg kurang baik): — mabuk; — serobot; — copet; — tadah; — catut;

Definisi lain masih tersedia, cek di kbbi.

Biasanya, seorang ahli memiliki sertifikasi berbentuk kertas (fisik/digital, bukan imajinasi), yang merupakan bukti untuk menunjukkan keahlian — dan sikap — seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Begitu pula dengan tukang parkir. Jika kertas pembuktian para profesional berukuran A4 atau sederajat, maka tukang parkir asli juga punya, tapi ukurannya berbeda, bisa seperenambelasnya (kira-kira berukuran A32, tapi saya ndak pernah ngukur ya ;D). Dan, jika para profesional menyimpan/memajajang/memamerkan kertas pembuktiannya, maka tukang parkir akan memberikan kertas tersebut pada kita, bahasa galibnya karcis. Karcis resmi yang kita terima biasanya berlogo pemerintah kota di sisi kiri, ada keterangan kalimat penjelas bahwa itu adalah karcis parkir, jadi ndak bodong. Ada bukti kalu kita sudah melakukan aktivitas parkir-memarkir, dan biasanya para petugas lebih bertanggung jawab, alirannya jelas, uang kita akan dibawa kemana.

Nah, selain petugas resmi, petugas jadi-jadian juga banyak gentayangan. Biasanya mereka semua memiliki atribut, pakaian, perawakan, dan kadang teman yang sama — daerah asalnya pun juga bisa sama — . Bapak parkir yang bergentayangan inilah yang saya sebut manusia jadi-jadian. Karena kemampuan luar biasa yang mereka miliki seperti sirna dalam remang, lenyap dalam dimensi waktu, fokus yang multiparadigma, dan kemampuan investasi jangka panjang tiada batas. Maksud saya, banyak sekali petugas parkir yang hanya menerima uang, habis itu ngilang, udah gitu aja. Sudah diupah, ngacir, pindah ke lain hati. Seharusnya, jika dalam konteks pertanggungjawaban yang diemban, mereka membantu kita, entah menyebrang, menarik motor, atau memberikan karcis — jika ada — , tapi.. biasanya langsung ngasi punggung.

Selama perpindahan hidup saya, ada beberapa tempat yang memiliki regulsi tepat dalam urusan perparkiran, salah satunya di Tabanan, Bali — tanah asal saya — . Banyak petugas menggunakan atribut resmi, memberikan karcis, membantu dengan senyum, dan berterimakasih, walaupun tidak merata, tapi banyak lokasi sudah seperti itu, bahkan ada yang lebih baik: Tidak ada tukang parkir! Tapi, beberapa saat yang lalu saya sempat memarkir di pantai Kuta, sempat kaget juga karena bapak parkir menaikkan tarif dan tanpa karcis, tapi masih mau membantu. Ini bisa jadi karena karcisnya habis, atau memang ada apa-apanya.

Setelah ditelaah, ternyata, banyak juga pengelola — bukan hanya petugas — parkir resmi yang tidak memberikan retribusinya kepada pemerintah. Ini sama halnya dengan perparkiran liar, korupsi, dan pelarian tanggung jawab, meskipun kendaraan tetap aman terkendali. Ironi.

Disamping itu, indikator ketenaran suatu tempat juga dapat dilihat dari kemunculan si tukang parkir. Suatu malam, saya mencari santapan di mini cafe di sekitar suhat, Malang, tidak terlalu ramai pada saat itu, dan betapa bahagianya ketika tau tak ada tukang parkir. Namun, esok harinya, terlihat dari jauh, ada seorang mengenakan rompi oranye, bercelana jeans, rambut acakadul, dan berada pada timing yang pas. Keramaian mini cafe pun berlanjut hingga keesokannya dan seterusnya. 
Menakjubkan.

Dimana ada tukang parkir, di situ pasti jadi tempat Hitz!

Memang, tidak semua petugas parkir liar itu buruk, banyak juga yang mau membantu, memberikan karcis buatan sendiri — bisa dari lingkungan, atau murni buatan senditi — meski tidak tertera embel-embel pemerintah kota, mereka juga mau menjaga kendaraan dan helm dengan baik, tetap mau tersenyum, dan banyak hal. Jika ditinjau dari pemasukan ke pemerintah, parkir seharusnya memberi penghasilan yang lumayan. Bisa dibayangkan kalu satu motor duaribu rupiah, dikalikan sekian akan jadi sekian, sehari sekian, sebulan sekian, setahun makin buanyak. Makanya, banyak orang yang memilih pekerjaan ini

Dengan sebegitu banyaknya volume kendaraan di Indonesia, khususnya di pulau jawa — dengan kota dan kota besarnya, terbayang, betapa menggiurkannya hal-hal perparkiran ini. Serta…

Kalau mau belanja, jangan lupa tukang parkirnya, karna anggaran bisa aja bengkak tanpa diduga

Sudah saatnya kita menyikapi, tapi apa dan bagaimana, dan sesungguhnya ini pertanyaan apa dan untuk siapa.
Jangan tanya saya.

Salam Senyum :) 
@igmerwina

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.