Bersimpuh.

Demi Tuhan, aku ingin melihat senyum di ujung bibirmu.
karena saat ini aku butuh.
bukan paruh waktu, tapi penuh tanpa ragu.
agar denyut nadi dan saraf ini bebas dari tali temali.
lepas dari rutinitas, tumpukan kertas dan kliping berkas yang menuntut dengan keji tanpa sedikitpun terkendali.
karena saat ini aku butuh.
bukan konon adanya bahwa senyum di ujung bibirmu adalah ganja,
masuk lewat mata,
tembus kornea,
hingga tumpas dahaga rasa.
aku bukan meracau,
tapi memang kadang bikin kacau.
apa yang kau ingini sejati nya selalu tersembunyi.
sebelum kau benar-benar mencari,
coba tulis lagi apa yang paling berarti.
dan selalu ingat!
jangan jadikan aku contoh, aku adalah manusia yang paling bodoh.
Tapi jarak selalu menjadi penghalang bagi orang yang mau bergerak.
bahkan kurasa, jarak antar meja bisa seribu tahun cahaya.
hei, perhatikan lebih cermat ya! yang aku maksud itu jarak rasa, bukan ruang sela.
namun ketika hatimu merasa,
dan pikiranmu berbicara,
o yakin lah,
sendi gerak belum tentu mau kerja sama.
tersisa lemas lalu gemas bertanya, mengapa?
tanggapan paling sederhana hanya semesta yang tahu jawabnya.
Sampaikanlah salamku untuk Ibumu, dan hormatku pada Ayahmu
karena saat ini aku butuh.
sayat sembilu untuk membelah dan menggugah
ratusan alasan yang meragukan, menjauhkan, dan menenggelamkan,
perahu keteguhan atas kepercayaan yang menyesatkan.
atas kebisingan dan kabut pekat di kepala yang penat.
bahwasanya sejahtera adalah perkara, dan batin rasa bisa nanti setelahnya.
karena saat ini aku butuh.
satu keyakinan bahwa suatu hari aku akan bersimpuh.
dan trah akan berkaitan,
jemari akan bertautan,
seperti darat dan lautan,
dan atas nama yang paling di-Maha kan
tak akan pernah terpisahkan.
Agustus 2016
Tabik.
