Pelaut dan Senja

Ihsan Yudanto
Jul 21, 2017 · 1 min read

Seorang Pelaut duduk termenung di tepi pantai. Setelah berlayar seharian, ia singgah di suatu pulau. Perahu telah Pelaut itu tambatkan. Duduk di pasir putih sambil menatap samudra adalah yang kemudian ia lakukan.

Dari kejauhan terlihat Senja mulai beranjak pergi. Malam akan berganti menjaga langit. Namun nampaknya Senja enggan terburu-buru berangkat. Sepertinya Senja sadar masih ada seseorang yang sedang mengamatinya. Cahaya keemasan yang bersinar dan memantul di lautan, tentu menjadi suguhan yang nikmat dipandang. Terutama untuk Pelaut itu. Senja yang menampakan keindahannya itu sangat cocok untuk orang-orang yang sedang sendiri. Sendiri menikmati kesendirian.

Deru ombak, lambaian angin, dan hangatnya pasir menambah kenikmatan itu. Sebenarnya Senja ingin menemani Pelaut itu lebih lama, tapi Malam sepertinya sudah kehabisan kesabaran. Maka Senja itu pamit dan menghilang ke balik cakrawala.

Sekarang hanya Pelaut dan Malam yang tinggal. Dalam kesendiriannya, Pelaut hanya bisa berharap bertemu Senja esok hari.

Karena Pelaut itu tak ingin sendiri.

Yang ia butuhkan hanya lah senja.

)

    Ihsan Yudanto

    Written by