Masih dalam rangkaian self diagnose, kali ini setelah tanda ingin mengulik perihal self diagnose yang terjadi dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, terutama dalam hubungan romansa. Perilaku mendiagnosis diri seperti yang diketahui dalam artikel-artikel sebelumnya, bisa terjadi karena keengganan diri sendiri. Jika ditelisik lebih jauh, kemungkinan kecil bisa jadi seseorang enggan memastikan suatu hal, karena kurangnya percaya diri sehingga lebih mengandalkan asumsi pribadi.
Apabila kita tarik ke dalam ranah hubungan romansa manusia, kita mungkin pernah menjumpai cerita di mana seseorang merasa insecure dengan pasangannya.
Insecurity sendiri merupakan suatu perasaan gelisah atau rasa tidak aman yang muncul dalam diri sendiri. Akibat dari perasaan ini, seseorang menjadi kurang percaya diri bahkan menutup diri dari orang lain.
Apakah insecurity itu kondisi langka?
Insecure bisa terjadi pada siapa saja, dan itu masih tergolong wajar sebab tiap orang pasti pernah merasa khawatir, tidak aman maupun takut terhadap suatu hal.
Problematika yang sedikit sulit diatasi adalah ketika kadar insecurity ini telah meningkat hingga berlebihan, sampai pada tahap irasional, dan ketakutan atas hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Beberapa tanda insecurity adalah sulitnya percaya secara penuh pada pasangan, meragukannya, membandingkan diri sendiri atau pasangan dengan orang lain, terlalu mendalami pikiran negatif yang kurang penting, dan sering merasa ada jarak dengan pasangan. Kondisi ini biasanya dialami dan dirasakan secara sepihak alias ada proses self diagnose yang melibatkan asumsi pribadi. Padahal tidak semua kasus atau kegelisahan itu adalah realita, sebab masih perlu dipastikan dan dikonfirmasi kepada pasangan.
Mengapa insecurity bisa terjadi?
Secara singkat, ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya insecurity dalam diri seseorang.
Pertama, faktor genetik, hal ini merupakan sifat alami manusia saat merasa terancam atau tidak aman, mereka akan menghasilkan suatu zat kimia yang mendorong reaksi melawan, melarikan diri, atau justru freezing. Pada kasus insecurity, seseorang menjadi lebih peka karena zat kimia diproduksi secara berlebihan. Sehingga selalu merasakan ancaman yang lebih banyak dari kebanyakan orang.
Kedua, trauma masa kecil. Insecurity bisa terjadi, dan seringkali terjadi karena seseorang pernah mengalami suatu hal yang buruk di masa lalu, baik secara fisik atau psikis.
Ketiga, perasaan takut mengecewakan orang lain.
Keempat, terlalu bergantung pada pasangan.
Kelima, rusaknya kepercayaan.
Lalu bagaimana mengatasi insecurity?
Insecurity yang masih dalam kadar wajar memang perlu, sebab manusia secara naluri memiliki pertahanan dan mawas diri atas suatu hal. Namun bagaimana jika telah mencapai tahap berlebihan dan mengganggu?
Melansir informasi dari beberapa artikel, insecurity dapat kita kendalikan selama diri kita mau berusaha, dan belum mencapai tingkat insecure yang parah. Caranya antara lain adalah dengan mengenali penyebab rasa kurang percaya diri tersebut, dan menganalisis serta mencari solusi sesuai kebutuhan masing-masing.
Dalam hubungan romansa, insecurity bisa diatasi salah satunya dengan memperlakukan hubungan secara apa adanya, dan menikmati waktu serta kondisi yang ada saat ini. Mulailah atau bangun kembali kepercayaan diri sendiri dan kepercayaan kepada pasangan, serta coba mengurangi asumsi, praduga, serta sifat sok mengetahui. Jika ada hal yang diragukan, cobalah tanyakan dengan baik, dan pastikan dengan benar sebelum membuat suatu keputusan. Lalu yang terakhir, cobalah lepaskan ketergantungan kepada pasangan, sebab insecurity bisa jadi muncul karena rasa tidak berdaya jika melakukan suatu hal tanpa pasangan.
Kita tidak pernah tau akan seperti apa dan bagaimana Tuhan merencanakan jalan hubungan kita dan orang lain. Namun ada hal-hal kecil yang perlu dilakukan selagi membangun rencana masa depan. Salah satunya adalah menata hati dan mental, serta membangun logika sehingga resiko tersapu ego dan emosi sesaat, akan lebih kecil. Manusia yang hidup adalah mereka yang merasa, tapi bukan berarti mereka yang berlogika itu tanpa rasa. Jadi, kawan, yok main logika dan perasaannya lebih intens lagi. Biar kita dekat dengan diri sendiri dan paham dengan orang lain. (*Ka)
@setelahtanda.id